Bacaan Firman Tuhan untuk renungan hari ini adalah dari 1 Korintus 5 ayat 1 sampai dengan ayat 8, dengan tema sebagai berikut:
“JANGAN MENYEPELEKAN DOSA.”
Bahkan ada jenis percabulan yang belum pernah didengar, pernah dilakukan oleh orang-orang non Yahudi atau non kristen, seperti seorang pria meniduri istri ayahnya! Dalam hal ini, kita melihat kejujuran dari Alkitab kita. Kejujuran membuktikan keaslian Alkitab.
Rasul Paulus menegur jemaat di Korintus yang tidak merasa berduka, dan terkesan membiarkan, bahkan menutupi kebobrokan moral itu dengan memamerkan diri, bahwa mereka adalah jemaat yang rohani.
Seharusnya jemaat yang melanggar aturan moral kekristenan, segera disisihkan untuk didisiplin, atau dikeluarkan jika tidak mau didisiplin.
Sebagai jemaat Kristen yang mayoritas adalah orang Yahudi, jemaat Korintus seharusnya mengingat perintah Tuhan dalam kitab Imamat pasal 18, tetang kudusnya perkawinan. Di dalamnya ditegaskan untuk tidak melakukan hubungan seks dengan ibu tiri, saudara tiri dan keluarga lainnya, baik sekandung maupun saudara karena perkawinan.
Selanjutnya, Rasul Paulus yang saat itu tidak berada di Korintus, tetapi secara rohani dia ada di Korintus, mengajak jemaat agar secara bersama-sama di dalam roh, mengatasi masalah moral tersebut. Dan Rasul Paulus menyadari keterbatasan mereka sebagai manusia, karena itu dia berkata bahwa, hal itu harus mereka lakukan dalam Nama dan Kuasa Tuhan Yesus.
Rasul Paulus menyuruh agar mereka menyerahkan anggota jemaat yang melakukan pelanggaran moral itu kepada Iblis, agar hanya tubuhnya dihancurkan, tapi rohnya diselamatkan pada hari Tuhan.
Dalam prakteknya, hukuman gereja ini berupa mengeluarkan pelaku dari persekutuan orang percaya, dan dikembalikan ke dalam dunia, yang merupakan wilayah Iblis. Dengan demikian, nafsu kedagingan orang itu, tidak lagi berada dalam perlindungan rohani, dan akan menerima konsekuensi atas dosa kedagingannya. Hanya rohnya yang tetap terpelihara.
Tujuan dari disiplin itu jelas, yaitu keselamatan rohnya. Dagingnya boleh hancur, tapi bukan rohnya.
Pendisiplinan atau penghukuman ini dilakukan, bukan atas dasar kemarahan atau kebencian, tetapi dilakukan dengan dukacita dan demi menjaga kemurnian persekutuan di dalam gereja.
Rasul Paulus menggambarkan cara kerja dosa yang ada di jemaat, ibarat ragi sedikit saja, bisa mengubah sifat dan bentuk seluruh adonan tepung yang ada. Sama seperti pepatah yang mengatakan, akibat nila setitik, rusak susu sebelanga. Ragi di sini menggambarkan sebagai dosa dan kesombongan rohani.
Dari sini kita bisa melihat bahwa, fokus dari pendisiplinan anggota jemaat yang amoral, adalah untuk menjaga kemurnian tubuh Kristus. Jadi terguran dalam surat Rasul Paulus ini, juga adalah untuk memperbaiki sistem kepengurusan dan kepemimpinan gereja.
Dosa yang dilakukan seorang individu memang buruk, tetapi dosa yang dilakukan oleh sebuah gereja jauh lebih buruk, yaitu ketika kepemimpinan gereja berada di luar jalur Firman Tuhan.
Apa Pesan Tuhan Bagi Kita Hari Ini?
Firman Tuhan beberapa hari ini mau menunjukkan kepada kita akan adanya relasi, antara cara berpikir yang tidak benar tentang Kehendak Tuhan, dengan masalah amoral.
Hukum kasih yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, jangan ditafsirkan secara salah. Contohnya, karena kita juga mengasihi pelaku amoral, bukan lalu kita membiarkannya, tetapi justru harus segera mendisiplin orang itu.
Sama seperti kita mendisiplin anak kita yang melanggar perintah orang tua, disiplin itu kita lakukan demi kebaikannya. Bahkan kita melakukannya dengan menanggung rasa sakit di hati kita.
Pendisiplinan adalah sebuah Pendidikan. Di dalam Bahasa Inggris, disiplin berasal dari akar kata murid.
Semua disiplin dalam gereja harus dilakukan dalam sikap duka dan dengan tujuan untuk pemulihan, bukan penghukuman atas dasar kemarahan atau kebencian.
Penggunaan disiplin gereja yang efektif mungkin akan menyelamatkan pelaku. Seperti tertulis dalam 2 Tesalonika 3 ayat 14 dan 15, Jika ada orang yang tidak mau mendengarkan apa yang kami katakan dalam surat ini, tandailah dia dan jangan bergaul dengan dia, supaya ia menjadi malu, tetapi janganlah anggap dia sebagai musuh, tetapi tegorlah dia sebagai seorang saudara.
Adanya kasus amoral di dalam gereja, apalagi jika pelakunya tidak didisiplin, menunjukkan ada yang salah dalam kepemimpinan gereja.
Mental para pemimpin gereja pun harus dinilai ulang dan diperbaiki.
Yang Harus Kita Aplikasikan Dalam Hidup Kita, yaitu:
1.
Berdasarkan Firman Tuhan hari ini, kita lakukan
introspeksi diri. Kita evaluasi kembali pemahaman akan Firman Tuhan kita.
Jika masih ada dosa kedagingan yang masih kita
sayangi, inilah waktunya untuk kita mengoreksi diri. Baik secara individu
jemaat mau pun sebagai pemimpin gereja, jika kita adalah bagian dari Presbiter
di gereja.
2.
Jika ada jemaat yang melakukan amoral, disiplin
mereka. Jangan membencinya. Kita tidak boleh menjauhkan diri dari orang itu,
tetapi orang itu yang harus kita pisahkan dan jauhkan dari persekutuan.
Hal ini bukan dilakukan oleh jemaat secara
keseluruhan, tetapi oleh satu atau dua orang pemimpin jemaat. Dalam Matius 18 ayat 15, Tuhan Yesus
mengajarkan seperti berikut: "Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah
dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau
telah mendapatnya kembali.
3.
Kita memang mengasihi saudara
kita yang melakukan dosa itu, tetapi kita pun harus mengasihi jemaat, sebagai
bagian dari Tubuh Kristus. Menjaga kemurnian Tubuh Kristus inilah yang harus
menjadi prioritas utama kita.
Doa Hari Ini...
Tuhan Yesus, mampukan kami untuk hidup kudus, serta menjaga
persekutuan yang kudus di gereja kami masing-masing, sesuai dengan Kehendak-Mu.
Amin.
Kiranya Tuhan Menguatkan Kita dan Kasih Karunia Tuhan Yesus
Menyertai Kita.
Komentar
Posting Komentar