Bacaan Firman Tuhan untuk renungan hari ini adalah dari 1 Korintus 4 ayat 6 sampai dengan ayat 10, dengan tema sebagai berikut: “JANGAN PAMER ROHANI.”
Rasul Paulus mengawali perikop ini dengan satu ungkapan “jangan melampaui yang ada tertulis,” agar orang Kristen Korintus memiliki cara pandang yang lebih tepat terhadap para rasul, sebagai pelayan dan penatalayan Tuhan yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah.
Paulus berharap tulisan suratnya ini akan membantu orang-orang Kristen di Korintus, untuk belajar menjaga pemikiran mereka tetap alkitabiah, dan tidak menggunakan standar di luar Firman Tuhan, apalagi untuk menghakimi dia atau rasul-rasul lainnya.
Banyak orang saat ini menilai seorang pendeta atau Pemberita Firman, dengan standar yang tidak alkitabiah. Mereka menilai Pelayan Firman dari humornya, nilai hiburannya, penampilannya, atau keahliannya dalam berbicara.
Mereka memandang rendah Rasul Paulus, yang untuk membiayai hidupnya, harus bekerja membuat tenda. Padahal, Rasul Paulus tidak pernah meminta uang dari jemaat yang dilayaninya. Orang-orang Kristen Korintus menganggap pekerjaan membuat tenda itu pekerjaan kasar dan rendah. Padahal tidak ada larangan dalam Alkitab bagi seorang Hamba Tuhan, mengerjakan pekerjaan kasar untuk membiayai hidupnya.
Karena itu penting untuk tidak berpikir melampaui apa yang tertulis di Alkitab.
Dulu sesuatu dianggap Alkitabiah jika itu berasal dari Alkitab. Hari-hari ini, orang-orang dengan mudah mengatakan sesuatu itu "Alkitabiah" walau pun tidak ada ayat pendukungnya, dalam Alkitab.
Tiga pertanyaan diajukan oleh Paulus untuk menyadarkan orang Kristen Korintus, yang dinilainya sebagai sombong rohani itu.
Siapa yang menganggap mereka istimewa? Memangnya Tuhan mau menganggap mereka begitu hebat? Memangnya pengetahuan yang mereka miliki itu ada dengan sendirinya, seolah-olah adalah pencapaian mereka sendiri? Bukankah apa yang mereka miliki, sebelumnya telah diterima dari Tuhan melalui hamba-hamba-Nya? Mengapa pengetahuan itu dipakai untuk memegahkan diri, seolah-olah tidak pernah menerimanya dari Tuhan? Bahkan dipakai untuk merendahkan dan menyerang Rasul Paulus?
Pada dasarnya tidak ada alasan mereka untuk sombong. Seharusnya kekayaan itu diterima dengan rasa syukur, dan dengan semangat melayani yang rendah hati. Dengan menyadari bahwa kita telah menerimanya dari Tuhan, maka kita wajib mengembalikannya kepada Tuhan, yaitu, yang mendatangkan Kemuliaan bagi Nama-Nya.
Selanjutnya Rasul Paulus menuliskan sebuah kalimat yang sedikit sarkastis. “Kamu, orang-orang Korintus, kaya dan memiliki semuanya, sementara kami, para rasul, miskin dan tidak memiliki apa-apa! Kamu bijaksana dan mulia, dan kami, para rasul, bodoh serta hina! Kamu kuat, sementara kami, para rasul, lemah!”
Lebih lanjut Rasul Paulus menjelaskan, bahwa Tuhan telah memberi bagi para rasul, tempat yang paling rendah, dan telah menjadi tontonan bagi dunia, malaikat-malaikat dan bagi menusia.
Para pelayan Tuhan diposisikan seperti keset kaki, yang siap diinjak-injak orang yang lewat. Atau ibarat tong sampah tempat pembuangan berbagai kotoran.
Dengan kalimat yang merendahkan dirinya sendiri ini, Rasul Paulus ingin menunjukkan betapa bodohnya orang-orang Korintus, yang berpikir bahwa mereka lebih memiliki hak istimewa, dan lebih diberkati secara rohani, daripada para rasul.
Dia berharap orang-orang Kristen di Korintus merasa malu dan keluar dari pemikiran mereka yang sombong dan semaunya sendiri.
Apa Pesan Tuhan Bagi Kita Hari Ini?
Hari-hari ini, gereja ketularan sikap yang sama seperti orang-orang Kristen di Korintus. Kita cenderung mengejar citra sukses dan kehormatan duniawi. Hal ini membuat kita sering keluar dari apa yang tertulis di Alkitab.
Di satu sisi, kita mungkin saja merendahkan para Hamba Tuhan yang tidak memiliki citra sesuai yang kita bayangkan. Kita menganggap pendeta yang miskin, sebagai kurang rohani, dan pendeta yang kaya, sebagai lebih rohani, sehingga diberkati Tuhan secara berlimpah.
Kita lebih menghargai pendeta yang lebih pandai berbicara, atau yang mampu memberikan ilustrasi tentang etika dan kehidupan sehari-hari, yang justru memudarkan inti berita Injil dari Alkitab.
Akibatnya, di sisi lain, kita bisa saja merasa bangga dengan kerohanian kita. Kita menjadi sombong rohani. Kita lupa, bahwa kita yang adalah juga hamba Tuhan, harus memposisikan diri kita, sebagai keset kaki atau tong sampah, dalam pelayanan kita.
Yang Harus Kita Aplikasikan Dalam Hidup Kita, yaitu:
1.
Sebagai Ladang Tuhan, kita patut bersyukur kepada Tuhan,
yang melalui para Pekabar Injil-Nya, telah menaburkan benih Injil yang hidup. Kita
juga telah menerima fondasi yang kokoh, yaitu Yesus Kristus, agar kita bisa membangun
satu bangunan bait Allah yang kokoh, yaitu diri kita sendiri.
2.
Kita diminta untuk membangun diri kita sebagai bait Allah,
dengan kualitas bangunan yang tahan uji, agar kita lolos dari ujian dunia ini,
maupun ujian dari Tuhan, pada saat harinya Tuhan tiba.
3.
Sebagai persekutuan orang percaya, dan dengan
bangunan masing-masing yang berkualitas tinggi, kita secara bersama-sama
diminta untuk membangun jemaat lokal atau gereja Tuhan, di mana kita telah
ditempatkan oleh Tuhan.
4.
Kita diminta untuk saling melayani sesama saudara
seiman, dan melayani orang lain yang belum menerima Yesus sebagai Tuhan dan
Juru Selamat mereka secara pribadi.
5.
Kita melayani dengan kasih dan rendah hati. Kita jauhkan
kesombongan rohani, karena tidak ada yang bisa kita banggakan di hadapan Tuhan,
yang telah memberikan segalanya kepada kita. Kita ini adalah milik Tuhan Yesus
dan Allah Bapa di Sorga.
Doa Hari Ini...
Tuhan Yesus, mampukan kami untuk tetap setia berjerih lelah bagi
pembangunan tubuh Kristus, dan tidak mencuri kemuliaan Tuhan dalam pekerjaan
pelayanan kami. Semuanya hanya demi Kemuliaan Nama-Mu.
Amin.
Kiranya Tuhan Menguatkan Kita dan Kasih Karunia Tuhan Yesus
Menyertai Kita.
Komentar
Posting Komentar