Darius
menjadi raja menggantikan Belsyazar. Sebagai orang Media dan bukan orang Kasdim,
Darius harus merombak loyalitas kepada pemerintahan yang lama, dan membentuk
pemerintahan yang baru.
Darius
megangkat 120 wakil raja, yang di sebar ke seluruh wilayah kerajaan yang luas.
Lalu Darius menunjuk 3 orang sebagai pejabat Tinggi, dimana Daniel adalah salah
satunya. Ke 120 wakil-wakil raja itu harus melapor kepada ke-3 pejabat Tinggi
tersebut.
Beda
dari Besyazar yang di awal pemerintahannya tidak memperdulikan Daniel, Darius
justru sangat menghargai Daniel dan menetapkan posisi Daniel lebih tinggi dari pejabat
Tinggi yang lainnya, dan juga dari para wakil raja.
Di
dalam bacaan hari ini, tidak dijelaskan akan adanya alasan lain yang memotivasi
para pejabat tinggi dan wakil raja menyusun plot untuk menjatuhkan Daniel, kecuali
iri hati dan cemburu. Bisa saja mereka iri hati karena Daniel diperlakukan
lebih istimewa dari mereka, dan juga cemburu karena Daniel memiliki roh yang
luar biasa.
Para
pejabat berusaha mencari-cari cacatnya Daniel, tetapi Daniel tampil tanpa cacat.
Daniel memiliki karakter yang bersih dan tidak mau kompromi dengan berbagai
bentuk kesalahan, apalagi kecurangan.
Karena
secara administratif, mereka tidak bisa menemukan cacatnya Daniel, maka tinggal
satu hal yang bisa menjatuhkan Daniel, yaitu kelebihan Daniel dalam ketaatannya
beribadah kepada Al lah Israel.
Seperti
kita ketahui, Israel adalah nama pengganti dari Yakub, anaknya Ishak, atau
cucunya Abraham. Jadi Al lah Israel adalah Al lahnya keturunan Abraham melalui
Yakub, sampai dengan Yesus Kristus. Itu sebabnya, semua pengikut Kristus, juga
menyembah Al lahnya Israel dan bukan al lah lain.
Para pejabat tinggi dan wakil raja itu secara
bersama-sama mendesak raja untuk mengeluarkan larangan bagi siapa pun yang menyampaikan
permohonan (atau doa) kepada dewa atau manusia lain, selain kepada
raja Darius, maka harus dilemparkan ke gua singa. Larangan itu berlaku selama
tiga puluh hari, dan tidak dapat diubah atau dicabut kembali, bahkan oleh raja
sekali pun setelah larangan itu disahkan.
Daniel
sangat tahu bahwa kesetiaan kepada Tuhan itu mutlak perlu. Hidup atau matinya
tergantung kepada keputusan Tuhan.
Dia
tetap melaksanakan ibadahnya untuk 3 kali sehari berlutut menghadap Yerusalem,
berdoa serta memuji Tuhan, walau pun dia tahu akan larangan itu.
Sesuai
larangan yang sudah dikeluarkan, raja Darius tetap harus menghukum Daniel
dengan membuangnya ke gua Singa. Tapi dengan tulus dia berkata, “Semoga
Tuhanmu, yang dengan setia kamu layani, membebaskanmu!” (baca ayat 16).
Tanpa
bisa tertidur, paginya raja Darius bergegas keluar untuk melihat kondisi
Daniel. Dia menanyakan kondisi Daniel dari luar gua, dan mendengar jawaban
Daniel yang menyapa dia dengan ungkapan penghormatan standar: "Ya raja,
kekallah hidupmu! Al lahku telah mengutus malaikat-Nya untuk mengatupkan mulut
singa-singa itu, karena aku tidak bersalah kepada Tuhan maupun kepada raja."
(baca ayat 21).
Kisah
ini diakhiri dengan kemarahan raja kepada para pembesar yang berkomplot
menjebak Daniel, yang lalu menghukum para pembesar itu beserta keluarganya,
untuk dilempar ke gua singa dan mati diterkam oleh singa-singa yang lapar itu.
Selain
itu raja Darius memerintahkan kepada seluruh rakyatnya untuk takut dan gentar
kepada "Al lahnya Daniel" (baca ayat 26).
Apa
Pesan Tuhan Bagi Kita Hari Ini?
Moral
dari cerita Daniel adalah seperti berikut:
1. Yang
sombong, akan terjebak oleh kesombongannya, karena orang sombong akan mudah
dimanfaatkan oleh orang lain. Kita belajar dari raja Darius, yang karena kesombongannya,
dia justru terjebak dalam sistem hukum dan keputusan yang dibuatnya sendiri,
yang dianggap permanen (baca ayat 6 sampai 9, dan 12 sampai 14).
2. Rancangan
yang didasarkan pada iri hati dan kecemburuan, akan menjadi bumerang bagi
dirinya sendiri. Itu ibarat menggali lubang untuk menjadi kuburan bagi dirinya
sendiri. Bahkan dalam kasus ini, para pembesarnya Darius itu dihukum bersama
seluruh keluarganya.
3. Kesetiaan
kepada Tuhan, bukan saja akan menyelamatkan kita, tetapi di atas hal itu untuk
mendatang kemuliaan bagi Nama Tuhan kita.
4. Kasus
Daniel dan juga dekrit raja Darius, agar seluruh rakyatnya takut dan gentar
kepada Al lahnya Daniel, dan akan meneguhkan iman dari orang-orang Yahudi yang
ada di pembuangan, baik di Babel dan di Persia, dan tentunya di seluruh dunia.
Apa
Yang Harus Kita Aplikasikan Dalam Hidup Kita?
1.
Kita mungkin tidak akan pernah menghadapi sarang singa seperti
Daniel, atau menghadapi tungku api seperti yang dialami Sadrakh, Mesakh, dan
Abednego, namun, kita mungkin menghadapi beberapa pencobaan, sebagaimana juga
ditanggung oleh orang-orang kudus lainnya.
2.
Kita pun mungkin menghadapi saat-saat sakit, sedih, susah,
penganiayaan, kematian orang yang kita kasihi, dan berbagai kesulitan. Melalui
itu semua, Tuhan hanya menuntut agar kita tetap setia.
3.
Ketetapan hati kita untuk tetap setia kepada Tuhan, akan dibalas
oleh Tuhan dengan tindakan untuk menyertai dan membebaskan kita dari
musuh-musuh kita, khususnya dari sistem hukum yang tidak berpihak kepada
minoritas.
4.
Kita pun harus berprinsip seperti Daniel, Sadrakh, Mesakh dan
Abednego, yang menerima Kedaulatan Tuhan, sehingga bisa berkata: Tuhan pasti
menolong orang-orang yang setia kepadaNya, tetapi apabila Tuhan memutuskan
untuk tidak menolong, biarlah Kehendak Tuhan itu saja yang jadi.
Sebaliknya,
sesuai tema kita hari ini, jauhkanlah iri hati dan cemburu dalam diri kita.
Karena kita tidak memiliki hak untuk iri atau cemburu, termasuk membenci
ciptaan Tuhan lainnya. Karena membenci ciptaan Tuhan, sama juga dengan membenci
Penciptanya, yaitu Tuhan.
Doa Hari Ini...
Tuhan Yesus, kuatkan kami untuk tetap setia
kepada-Mu, dan jauhkanlah rasa iri hati dan cemburu dalam hati kami, demi
Kemuliaan Nama-Mu.
Amin.
Kiranya Tuhan Menguatkan Kita dan Kasih Karunia
Tuhan Yesus Menyertai Kita.
Komentar
Posting Komentar