Bacaan Firman Tuhan untuk renungan hari ini adalah dari 1 Korintus 7 ayat 1 sampai dengan ayat 9, dengan tema sebagai berikut:
“MENIKAH ATAU TIDAK MENIKAH?”
Dalam perikop ini, Rasul Paulus memberi jawaban atas pertanyaan spesifik dari jemaat di Korintus, yaitu, apakah seorang laki-laki itu lebih baik tidak menikah ataukah menikah?
Pertanyaan itu mungkin didasarkan kepada pandangan bahwa, jika amoralitas seksual adalah bahaya, maka lebih aman jika laki-laki atau seorang suami, tidak melakukan hubungan seks sama sekali. Tidak menikah atau menjadi Selibat, menjadi bukti akan murninya spiritualitas. Sampai-sampai, seorang suami yang sudah memiliki istri, tidak lagi boleh menyentuh istrinya.
Di sini, Rasul Paulus menyatakan setuju apabila seorang laki-laki itu tidak kawin alias selibat. Tetapi bagi seorang suami yang ingin selibat, tidak lantas harus menceraikan istrinya. Jika memang keduanya bisa menahan diri untuk tidak melakukan hubungan suami istri, akan lebih baik daripada harus berpisah.
Namun, mengingat adanya bahaya percabulan di luar sana, sebaiknya setiap pria atau suami memiliki istri dan menggaulinya. Dalam ayat 2 dikatakan, suami istri harus saling memiliki, dalam artian melakukan hubungan seksual.
Paulus bukan mau mengatakan bahwa, seks adalah satu-satunya alasan pernikahan, atau alasan terpenting untuk satu pernikahan. Untuk memahami lebih lanjut tentang teologi pernikahan yang lengkap, bisa dibaca di Efesus 5 ayat 21 sampai 33 dan Kolose 3 ayat 18 dan 19.
Selanjutnya rasul Paulus menjelaskan, jika seorang suami memutuskan untuk tidak menyentuh istrinya, maka suami harus memberikan kasih sayang kepada istrinya, karena itu adalah hak istrinya. Demikian juga sebaliknya, istri kepada suaminya.
Paulus juga menekankan, apa yang dibutuhkan seorang wanita atau istri, bukan hanya hubungan seksual, tetapi kasih sayang, yang menjadi haknya. Jika seorang suami melakukan hubungan seksual dengan istrinya, tetapi tanpa kasih sayang yang tulus kepadanya, berarti dia tidak memberikan istrinya apa yang menjadi haknya.
Ketika salah satu pasangan, karena alasan fisik misalnya, tidak dapat melakukan hubungan seksual, mereka masih bisa memiliki hubungan kasih sayang, dan dengan demikian memenuhi tujuan Tuhan dan perintah-Nya.
Jadi harus ada tanggung jawab seksual secara timbal balik dalam pernikahan. Suami memiliki kewajiban terhadap istrinya, dan istri memiliki kewajiban terhadap suaminya.
Prinsip dalam bacaan Firman Tuhan hari ini, adalah penting. Dimana Tuhan menjelaskan bahwa, tidak ada yang salah, baik tidak menikah maupun menikah.
Paulus mungkin pernah menikah, tetapi saat dia memulai pelayanannya, dia dalam keadaan tidak menikah. Karena itu dia memenuhi syarat untuk berbicara tentang karunia dan tanggung jawab secara relatif dari pernikahan dan kelajangan, karena dia tahu keduanya, dari pengalaman hidupnya.
Dengan status lajangnya itu, rasul Paulus menyadari manfaat menjadi lajang, yang akan dia bicarakan lebih lanjut dalam suratnya kepada jemaat Korintus ini. Oleh karena itu dia berkata, bahwa dia setuju jika semua orang sama seperti dia, yang berstatus selibat.
Tapi Paulus menambahkan, bahwa setiap orang memiliki karunianya sendiri dari Tuhan. Meskipun Paulus tahu kelajangan itu baik untuknya, dia tidak akan memaksakannya kepada siapa pun. Yang penting adalah, apa karunia yang dimiliki seseorang dari Tuhan, apakah karunia untuk melajang ataukah menikah.
Secara signifikan, Paulus menganggap pernikahan dan kelajangan sebagai hadiah dari Allah. Menjadi lajang atau menikah, sama-sama anugerah khusus dari Tuhan.
Dalam ayat 8 dan 9 bacaan kita hari ini, rasul Paulus menyimpulkan sebagai berikut:
Kepada orang-orang yang tidak kawin, dan kepada janda-janda, Paulus menganjurkan, supaya sebaiknya mereka tinggal dalam keadaan seperti Paulus yang tetap melajang. Tetapi kalau mereka tidak dapat menguasai diri, baiklah mereka kawin. Sebab lebih baik kawin dari pada dihanguskan oleh hawa nafsu.
Apa Pesan Tuhan Bagi Kita Hari Ini?
Jangan menganggap bahwa menikah itu lebih spiritual, seperti orang Yahudi Perjanjian Lama, yang menganggap tidak menikah itu sebagai dosa. Mereka mendasarkan pendapatnya pada Firman Tuhan yang berkata, “Tidak baik manusia itu seorang diri saja.” Sampai-sampai mereka menganggap, barang siapa yang tidak memiliki keturunan, seolah-olah kehilangan gambar dan kemuliaan Allah.
Tetapi juga, jangan menganggap menikah itu tidak spiritual, dan tidak menikah itu lebih spiritual. Dalam 1 Timotius 4: 1-3, rasul Paulus memperingatkan akan adanya ajaran yang melarang untuk menikah, yang adalah ajaran setan. Jadi, tergantung kepada tujuannya, apakah untuk memenuhi perintah Tuhan, atau untuk memenuhi nafsu kedagingan manusia.
Menikah atau tidak menikah, sama-sama karunia dari Tuhan. Ada yang dikaruniai untuk menikah, dan ada yang dikaruniai untuk tidak menikah. Yang menikah harus hidup setia kepada pasangannya, dan yang belum menikah harus mampu hidup sebagai selibat.
Pada prinsipnya, jika kita tidak dapat mengendalikan diri, sebaiknya kita menikah. Bukan hanya karena perkawinan itu bersifat rohani, tetapi juga atas pertimbangan yang sangat praktis, khususnya menghadapi godaan percabulan di segala zaman, yang selalu saja besar.
Tapi juga tidak boleh berpikir bahwa menikah itu sendiri menyelesaikan masalah dosa percabulan. Jangan lupa, perkawinan tanpa kasih sayang, sama juga dengan percabulan.
Yang Harus Kita Aplikasikan Dalam Hidup Kita adalah sebagai
berikut:
1. Kita harus memahami karunia apa yang Tuhan beri
kepada kita, apakah untuk menikah ataukah untuk tidak menikah dan menjadi
selibat.
Jika karunia untuk menikah, carilah pasangan yang
bisa saling menyayangi, agar hubungan suami istri bukan hanya didasarkan pada nafsu
seks saja, tetapi juga kasih sayang.
2. Sebagai pelayan Tuhan, untuk yang sudah menikah,
sebaiknya perkawinannya tidak menghambat pelayanannya. Harus ada keseimbangan
antara melayani di ladang Tuhan dengan pelayanan di keluarga.
3.
Jika kita dikaruniai untuk tidak menikah, maka kita
harus menggunakan waktu kita lebih banyak dalam melaksanakan tugas sebagai
palayan Tuhan. Karena karunia untuk tidak menikah, bertujuan untuk kemuliaan
bagi Nama Tuhan kita.
4. Baik kita menikah atau tidak menikah, kita harus
berhati-hati dengan bahaya percabulan di zaman yang serba digital ini.
Doa
Hari Ini...
Tuhan Yesus, tolong kami untuk dapat menyelesaikan setiap perkara
yang terjadi dalam hidup kami, sesuai dengan Kehendak-Mu.
Amin.
Kiranya Tuhan Menguatkan Kita dan Kasih Karunia Tuhan Yesus Menyertai Kita.
Komentar
Posting Komentar