Bacaan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah dari 1 Korintus 9 ayat 1 sampai dengan ayat 18, dengan tema sebagai berikut:
“PEMBERITA INJIL YANG JUJUR”
Konteks bacaan kita hari ini masih berkaitan
dengan beberapa bacaan sebelumnya:
Yaitu, dengan 1 Korintus pasal 6 ayat 7, dimana Paulus bertanya:
“Mengapa kamu tidak lebih suka menderita
ketidak adilan? Mengapa kamu tidak lebih suka dirugikan?”
juga, dengan 1 Korintus pasal 7 tentang masalah, mana yang lebih baik, menikah atau tidak menikah?
Dan, dengan 1 Korintus pasal 8 tentang masalah, apakah boleh makan
daging yang telah dikorbankan untuk berhala, ataukah tidak?
Dari bacaan sebelumnya itu, rasul Paulus telah meminta mereka untuk:
1. melepaskan "hak" mereka untuk boleh membalas ketidak adilan dan kerugian,
2. melepaskan “hak” mereka untuk menikah,
3. dan melepaskan “hak” mereka
untuk makan daging yang telah dikorbankan untuk berhala, untuk satu tujuan yang
lebih mulia, yaitu hak untuk mendapat bagian di Kerajaan Allah (baca 1 Korintus
pasal 6 ayat 9a).
Berdasarkan pengajaran sebelumnya, maka dalam 1 Korintus pasal 9 ini, Paulus memberi contoh, bagaimana dirinya yang adalah rasul, mau melepaskan “hak” kerasulannya, dihadapan orang-orang Kristen lainnya, yang menuduh bahwa Paulus bukan seorang rasul.
Tetapi, khusus kepada jemaat di Korintus, Paulus tetap mempertahankan posisi kerasulannya, agar jangan sampai jemaat yang telah mendengarkan pengajarannya, meragukan pemberitaan Injil Yesus Kristus.
Karena itu, rasul Paulus mengawali suratnya dengan pertanyaan berikut:
“Bukankah aku rasul? Bukankah aku orang bebas? Bukankah aku telah melihat Yesus, Tuhan kita? Bukankah kamu adalah buah pekerjaanku dalam Tuhan?”
Pekerjaan Tuhan yang dilakukan Paulus di antara orang-orang Kristen di Korintus, adalah bukti yang cukup kuat dari kredensial apostolik Paulus. Faktanya, mereka adalah meterai kerasulannya Paulus, di dalam Tuhan.
Menurut Paulus, melihat Yesus yang telah bangkit, bukanlah satu-satunya kualifikasi seorang rasul sejati. Paulus secara khusus ditugaskan sebagai rasul, ketika Yesus menampakkan diri kepadanya di Jalan Damaskus. (Baca Kisah Para Rasul pasal 26 ayat 12 sampai dengan 18).
Meskipun beberapa di antara orang Kristen Korintus meragukan kedudukan Paulus sebagai rasul, tetapi jemaat lain tidak seharusnya meragukannya. Orang-orang Kristen di Korintus memiliki banyak bukti, untuk mengetahui bahwa Paulus adalah seorang rasul yang sejati, karena mereka telah melihat pekerjaannya dari dekat.
Apa alasan dari sebagian orang Kristen di Korintus, yang meragukan kerasulan Paulus?
Mereka menuduh Paulus sebagai seorang yang plin-plan, karena mudah merubah rencananya. Mereka tidak tahu, kalau rasul Paulus, sering mengubah rencana perjalanannya, karena arahan Roh Kudus.
Mereka mengatakan bahwa Paulus itu pengecut. Lebih memilih untuk mengirim surat, ketimbang datang sendiri, untuk menegur mereka. Dalam hal ini mereka tidak peduli dengan kesibukan Paulus yang harus melayani jemaat-jemaat lain, yang jauh dari Korintus. Selain itu, mereka tidak paham akan prinsip kehadiran Paulus secara rohani di Korintus (baca 1 Korintus pasal 5 ayat 3). Yang artinya, Paulus tidak harus hadir secara jasmani.
Mereka mengatakan Paulus itu tidak pandai bicara dan tidak mendapat rekomendasi sebagai hamba Tuhan yang hebat, tidak seperti Apolos atau hamba-hamba Tuhan lainnya, yang mendapat surat rekomendasi, atau diendors sebagai Pengkhotbah hebat, oleh jemaat-jemaat di Yerusalem dan jemaat di kota-kota lainnya.
Banyak lagi tuduhan, yang semuanya dijawab oleh rasul Paulus dalam suratnya yang kedua kepada jemaat Korintus.
Dan, salah satu alasan mereka meragukan kerasulan Paulus, yang khusus langsung dijawab dalam bacaan kita hari ini, yaitu karena Paulus tidak pernah menetapkan tarif dalam pelayanannya.
Dalam pandangan orang Yunani, semakin besar bayaran seorang pembicara, akan dinilai sebagai semakin tinggi kualitasnya. Sedangkan Paulus, adalah Pemberita Firman gratisan, dan dianggap sebagai Pengkhotbah kaleng-kaleng.
Selain menegaskan kerasulannya, Paulus juga menegaskan tentang haknya sebagai rasul. Dia berhak memiliki seorang istri yang seiman. Tetapi dia juga bebas untuk tidak menikah lagi, karena dia tidak “dibawah otoritas” siapa pun, selain Yesus Kristus.
Dia berhak makan dan minum yang enak, berhak menerima upah dari tugasnya sebagai Pemberitaan Firman. Sama seperti Petani, yang berhak makan dari hasil ladang tempat dia bekerja. Seorang gembala, yang berhak minum susu hasil perahan susu kawanan domba piaraannya.
Di sini rasul Paulus mengutip Kitab Ulangan pasal 25 ayat 4, Tuhan memerintahkan agar tidak memberangus mulut lembu sapi yang sedang mengirik gandum. Artinya, siapa yang bekerja, layak menerima upah dari hasil pekerjaannya.
Ayat ini tentunya bukan ditulis untuk sapi, karena sapi tidak bisa membaca. Dengan ayat ini Paulus mau menjelaskan bahwa, pekerjaan rohani para pelayan Tuhan, harus dibayar dengan dukungan materi, dari orang-orang yang mereka layani.
Selanjutnya rasul Paulus menjelaskan bahwa, baginya, yang penting adalah, Injil diberitakan dan disebar luaskan. Jadi, dibayar atau tidak, itu tidak masalah baginya.
Jika, upah itu membuat pekabaran Injil lebih efektif, maka Paulus akan menerima dukungan dana itu. Tapi, jika karena jemaat tidak punya dana, maka rasul Paulus lebih memilih untuk bekerja membuat dan jualan tenda, untuk membiayai hidupnya. Yang penting adalah bahwa Pekabaran Injil tidak dihalangi dengan cara apa pun.
Paulus bebas untuk tidak menggunakan haknya. Artinya, Paulus memiliki hak, untuk tidak menggunakan haknya.
Paulus juga menegaskan bahwa, kemegahannya bukanlah karena dia memberitakan Injil, karena hal itu menjadi kewajibannya. Kebanggaannya adalah bahwa, ia mampu melakukan Pekabaran Injil itu tanpa meminta dukungan materi dari Jemaat yang dilayaninya.
Secara filosofi, inti Firman Tuhan hari
ini adalah:
1.
Tidak menggunakan hak, adalah
hak
2.
Tidak menerima upah, adalah
upah
Apa Pesan Tuhan Bagi Kita Hari Ini?
Pembacaan Firman Tuhan hari ini, tidak terlepas dari pengajaran dalam Injil Matius 16 ayat 24; Injil Lukas 9 ayat 23: Injil Markus 8 ayat 34; dan Injil Lukas 14 ayat 27, yang mengajarkan bahwa, setiap orang yang mau mengikut Yesus, dan mau menjadi murid-Nya, orang itu harus menyangkal dirinya, memikul salibnya masing-masing, dan mengikut Yesus.
Ayat-ayat tadi merupakan Firman dari Tuhan Yesus sendiri. Kata kuncinya adalah, SANGKAL DIRI dan PIKUL SALIB.
Menjadi pengikut Kristus merupakan hak istimewa, jauh lebih tinggi nilainya, dibandingkan hak-hak lain yang ada di dunia ini. Untuk mendapatkan hak istimewa ini, kita harus menyangkal diri dalam hal menuntut hak-hak kita.
Kita diminta untuk bersedia melepaskan hak kita demi Injil Yesus. Tentunya hanya hak-hak yang akan menghalangi pemberitaan Injil Yesus Kristus.
Sesuai pembelajaran Firman Tuhan hari ini, dan hari-hari sebelumnya, kita belajar bahwa,
kita berhak menuntut keadilan, dan menuntut kerugian, tetapi karena hal itu akan mengasilkan ketidak adilan bagi yang kita tuntut, maka sebaiknya kita menyangkal diri, dan melepaskan hak untuk menuntut keadilan itu. Kalau tidak, kita akan kehilangan hak untuk mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Hal ini sesuai sesuai dengan pengajaran Yesus untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi membalasnya dengan memberkati.
kita berhak untuk menikah, tetapi apabila pernikahan itu tidak didasarkan pada kasih sayang, maka hal itu sama juga dengan percabulan. Percabulan tidak mendapat tempat dalam Kerajaan Allah. Dalam hal kita tidak bisa menikah atas dasar kasih sayang, sebaiknya kita melepaskan hak untuk menikah.
Kita juga berhak untuk memakan daging yang telah dipersembahkan kepada berhala, termasuk yang dulu diharamkan. Tetapi, jika hal ini bisa menjadi batu sandungan bagi saudara-saudara kita yang lemah imannya, maka demi Injil Yesus, kita wajib menyangkal diri dan melepas hak itu.
Melepas hak itu sama juga dengan memikul salib.
Kesimpulannya, TUHAN MENYUKAI ORANG YANG TIDAK MEMENTINGKAN DIRI SENDIRI.
Yang Harus Kita Aplikasikan Dalam Hidup
Kita adalah sebagai berikut:
1.
Sebagai gereja, kita wajib
memperhatikan hak dan kesejahteraan orang-orang yang sedang, atau yang telah
melayani pekerjaan Tuhan di Jemaat kita. Tentunya, sesuai kemampuan gereja
masing-masing.
Sebagai gereja, kita pun
harus mengutamakan prinsip pengajaran Tuhan kepada jemaat, yaitu kasih dan
keadilan, agar jemaat mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.
2.
Sebagai anggota jemaat,
selain kita harus menghormati orang-orang yang sedang bekerja di ladang Tuhan, kita
tidak boleh merendahkan mereka, apakah mereka kurang fasih berkhotbah, ataukah
mereka harus mengerjakan pekerjaan kasar, demi menunjang kehidupannya,
sepanjang Injil Yesus Kristus diutamakan dalam pemberitaan dan hidup mereka.
3.
Sebagai jemaat Tuhan, baik
sebagai Pendeta, Presbiter, maupun sebagai jemaat biasa, kita semua memiliki
kewajiban untuk memberitakan Injil Yesus Kristus, dengan menggunakan semua
media yang ada, khususnya di era digital ini. Kita harus bangga jika kita
diberi kesempatan oleh Tuhan untuk ikut memberitakan Injil. Apalagi jika kita
memberitakan Injil tanpa diupah.
Doa Hari Ini...
Tuhan Yesus, berilah kami keteguhan hati
agar kami dapat menjadi Pemberita Injil yang jujur dalam hidup sehari-hari.
Amin.
Kiranya Tuhan Menguatkan Kita dan Kasih
Karunia Tuhan Yesus Menyertai Kita.
Komentar
Posting Komentar