Langsung ke konten utama

Kita Hanya Pion di Tangan Tuhan - Yeremia 10: 17-25

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, dari Yeremia 10 ayat 17 sampai ayat 25, adalah:

 

Kita, Hanya Pion di Tangan Tuhan.

 

Apa yang kita baca, dan apakah pesan Tuhan, dari Yeremia 10 ayat 17 dan 18?

 

 

Angkutlah barang-barangmu dari negeri ini, hai orang-orang yang berada dalam pengepungan!

 

Sebab beginilah firman TUHAN: "Sesungguhnya, sekali ini Aku akan melemparkan penduduk negeri ini, dan Aku akan menyesakkan mereka, supaya mereka merasakannya."

 

Nabi Yeremia menubuatkan, bahwa dia melihat, tentara Babilonia akan datang, sebagai alat penghakiman Allah, untuk menyerang Yehuda.

 

Dia memperingatkan orang-orang di negeri itu, untuk bersiap-siap, menghadapinya.

 

Tetapi tidak peduli seberapa cepat persiapannya, tidak ada yang akan bertahan sebelum penghakiman Tuhan atas Yehuda datang. Mereka akan diusir dari negeri itu.

 

Tuhan mengusir Yehuda dari negerinya, secepat-cepatnya, sekuat-kuatnya, dan sejauh-jauhnya, seperti orang yang mengayunkan katapel.

 

Tuhan mengayunkan umban di tangan-Nya, untuk melemparkan mereka ke Babel.

 

Ternyata, setelah invasi kedua Nebukadnezar pada tahun 587 SM, terjadi kehancuran yang meluas. Pada awal abad keenam SM itu, banyak kota dihancurkan, dan tidak pernah dihuni lagi, selama periode pembuangan.”

 

Sebagai pesan Tuhan, ini adalah gambaran, bahwa suatu hari nanti, Tuhan akan membuang semua orang jahat di bumi ini, ke neraka.

 

Apa yang kita baca, dan apakah pesan Tuhan, dari Yeremia 10 ayat 19 dan 20?

Celakalah aku karena penyakitku, Lukaku tidak tersembuhkan! Aku berpikir: "Ah, inilah suatu kepedihan yang harus kutanggung! "

 

Kemahku sudah rusak, dan semua talinya sudah putus. Anak-anakku telah pergi dari padaku, tidak ada lagi; tidak ada lagi yang mendirikan kemahku dan yang membentangkan tendaku.

 

Karena penerawangannya yang mengerikan itu, Yeremia berdoa dengan suara, seperti orang yang mengalami rasa sakit, serta menanggung kesusahan, yang akan terjadi kemudian.

 

Dalam doanya, Yeremia mengeluh, bagaimana anak-anaknya sudah tiada, karena telah pergi meninggalkan dia. Yeremia bisa merasakan keputusasaan, keterkejutan, dan kesepian, dari mereka yang akan menanggung penghakiman Tuhan yang berat itu.

 

Yerusalem dipersonifikasikan sebagai ibu yang tinggal di tenda, yang kehilangan anak-anaknya.”

 

 

 

Apa yang kita baca, dan apakah pesan Tuhan, dari Yeremia 10 ayat 21 dan 22?

 

Sungguh, gembala-gembala sudah menjadi bodoh, mereka tidak menanyakan petunjuk TUHAN. Sebab itu mereka tidak berbahagia dan seluruh binatang gembalaan mereka cerai-berai.

 

Terdengarlah suatu berita, bunyinya: Kegemparan besar akan datang dari tanah sebelah utara, untuk membuat kota-kota Yehuda menjadi sunyi sepi, menjadi tempat persembunyian serigala-serigala.

 

Sambil membayangkan dan merasakan keputusasaan Yehuda di bawah invasi Babilonia, Yeremia juga menyadari penyebab hukuman Tuhan itu, yaitu para pemimpin Yehuda, baik di bidang spiritual maupun politik, tidak ada yang mencari Tuhan, untuk meminta petunjuk-Nya.

 

Ketidaksetiaan para pemimpin, yang digambarkan sebagai gembala, menjadi masalah bagi para pengikutnya, yang seharusnya mereka pimpin dengan setia.

 

Tidak seorang pun akan mendapat manfaat dari sikap mereka yang dikatakan sebagai bodoh, dan tidak peduli terhadap kepemimpinan TUHAN.

 

Para nabi dan imam yang korup, yang menyesatkan orang dari kebenaran, adalah orang-orang yang tidak berdoa dengan hati nurani. Akibatnya, semuanya menjadi rusak dan hancur.

 

 

Apa yang kita baca, dan apakah pesan Tuhan, dari Yeremia 10 ayat 23 sampai ayat 25?

 

Aku tahu, ya TUHAN, bahwa manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya, dan orang yang berjalan tidak berkuasa untuk menetapkan langkahnya.

 

Hajarlah aku, ya TUHAN, tetapi dengan selayaknya, jangan dengan murka-Mu, supaya aku jangan Kaubinasakan!

 

Tumpahkanlah kepanasan amarah-Mu ke atas bangsa-bangsa yang tidak mengenal Engkau, ke atas kaum-kaum keluarga yang tidak menyerukan nama-Mu; sebab mereka telah memakan Yakub dan menghabisinya, dan membuat tempat kediamannya menjadi puing.

 

Sama seperti Yeremia menubuatkan penghakiman besar yang akan menimpa Yehuda, melalui tentara Babel, dia juga menyadari bahwa Tuhanlah yang mengutus mereka.

 

Orang Babilonia tidak dapat melakukannya, tanpa peran Tuhan. Tuhanlah mengarahkan langkah-langkah orang Babilonia.

 

Menyadari bahwa penghakiman yang akan datang itu, diarahkan oleh Tuhan, Yeremia memohon belas kasihan kepada Tuhan. Dia tahu bahwa Yehuda harus dikoreksi, tetapi meminta Tuhan untuk menunjukkan belas kasihan dengan tidak menghancurkan umat-Nya.

 

Ketika Yeremia berasumsi bahwa Tuhan akan menggunakan Babel sebagai alat koreksi-Nya terhadap Yehuda, dia meminta, agar Tuhan, juga menghakimi mereka, sebagai bangsa kafir.

 

Yeremia meminta, agar Tuhan, bukan hanya memukul anak-anaknya sendiri, tetapi juga memukul musuh-musuhnya.

 

Kita tahu kemudian, Nebukadnezar dihukum dengan membuatnya gila, putranya terbunuh dalam pesta pora, dan kota itu diambil dan dijarah oleh raja Cyrus dari Persia.

 

Pesan Tuhan kepada kita, bahwa, ketika Manusia, tampaknya, mampu mengatur dirinya sendiri. Tetapi pada kenyataannya, manusia yang telah dirusak oleh dosa, tidak dapat menentukan nasibnya yang sebenarnya. Dia sangat membutuhkan Tuhan.

 

Kita tahu bahwa, dalam tujuan kekal Tuhan, setiap langkah dari jalan kita telah dipetakan, dan Tuhan akan membuat semuanya bekerja untuk kemuliaan-Nya sendiri, dan juga untuk kebaikan umat pilihan-Nya, pada akhirnya.

 

 

Apa Yang Harus Kita Terapkan Dalam Kehidupan Kita?

 

Ketika kita memiliki masalah, kita perlu melakukan introspeksi.

 

Jika kita pernah melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Tuhan, baik sengaja atau tidak sengaja, misalnya karena kita mulai condong pada hal-hal duniawi, atau mengandalkan hal-hal materi, kita perlu memohon ampun kepada Tuhan.

 

Kita tidak boleh menganggap enteng hukuman Tuhan.

 

Jika perlu, jauh lebih baik menangisi hukuman Tuhan, sebagai konsekuensi dari dosa-dosa kita, sebelum hukuman itu dijatuhkan kepada kita oleh Tuhan.

 

Jika masalah yang kita hadapi, disebabkan oleh orang-orang yang membenci kita, entah karena perilaku kita yang menyinggung perasaan mereka, atau tidak, sudah sepatutnya kita meminta maaf kepada mereka. Tapi, jika, mereka tidak mau memaafkan kita, maka kita serahkan saja pada Tuhan.

 

Biarkan Tuhan menjadi hakim, antara kita dan musuh kita. Kita percaya pada keputusan Tuhan, karena keputusan Tuhan itu, adil.

 

 

Doa Hari Ini...

 

Bapa di Sorga, dipermuliakanlah kiranya nama-Mu. Kuatkan kami, untuk mampu hidup di tengah dunia yang keras ini.

 

Ada banyak hal, dan banyak cara, yang dapat mengancam hidup kita.

 

Secara fisik, penyakit dan cedera bisa kapan saja, menimpa kita. Secara ekonomi, tidak menutup kemungkinan, inflasi dengan harga bahan pokok yang terus naik, akan menggerogoti pendapatan kita.

Secara mental, kita dibombardir dan ditarik oleh, pikiran yang merusak harga diri kita, setiap hari. Secara spiritual, kami harus menghadapi pertempuran dengan kekuatan gelap.

 

Bebaskan kami dari cobaan ini. Arahkan hati kami, untuk fokus pada Kebenaran-Mu, setiap kami memulai hari baru.

Kuatkan kami untuk bisa memenangkan pertempuran, dan rasakan pembebasan dari semua kesulitan itu.

 

Kami berdoa untuk semua permohonan kami, dalam nama Tuhan Yesus yang mulia.

 

Amin

 

Kiranya Tuhan Menguatkan Kita, dan Kasih Karunia Tuhan Yesus, Menyertai Kita.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dusta Dan Kompromi, Tidak Mampu Menutupi Kekuatan Kebenaran. Matius 28: 11-15 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Dusta Dan Kompromi, Tidak Mampu Menutupi Kekuatan Kebenaran.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Matius 28, ayat 11 sampai ayat 15, yang berbunyi sebagai berikut:    Ketika mereka di tengah jalan, datanglah beberapa orang dari penjaga itu ke kota dan memberitahukan segala yang terjadi itu kepada imam-imam kepala.   Dan sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu   dan berkata: "Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur.   Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa."   Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Dan ceritera i...

Hidup Bijaksana, Di Dunia Yang Penuh Kebodohan. Efesus 5:15-16 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Hidup Bijaksana, Di Dunia Yang Penuh Kebodohan.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Efesus 5, ayat 15 sampai ayat 16, yang berbunyi sebagai berikut:    Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,   dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.     Demikian Pembacaan Alkitab. Hale luya.     Apa Isi Firman Tuhan ini, dan tentang apa.   Efesus 5, ayat 15 dan ayat 16, adalah bagian dari Alkitab Perjanjian Baru, khususnya dari kitab Efesus. Untuk memahami isi, makna, dan maksudnya, penting untuk mempertimbangkan konteks kitab yang lebih luas dan ayat-ayat spesifiknya.   Kitab Efesus ditulis oleh rasul Paulus, dan berfungsi sebagai surat kepada komunitas Kristen mula-mula di Efesus...

Kasih dan Perhatian Tuhan, Tercermin Dalam Keagungan Ciptaan-Nya. Kejadian 1: 14-19 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Kasih dan Perhatian Tuhan, Tercermin Dalam Keagungan Ciptaan-Nya.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Kejadian 1, ayat 14 sampai ayat 19, yang berbunyi sebagai berikut:      Berfirmanlah Allah: "Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun,  dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi." Dan jadilah demikian.   Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang.  Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi,   dan untuk menguasai siang dan malam, dan untu...