Firman Tuhan untuk renungan hari ini,
diambil dari 1 Samuel 21 ayat 1 sampai ayat 6,
dan tema untuk renungan kita hari ini,
adalah:
Pemimpin Yang Berintegritas.
Apa yang kita baca dari 1 Samuel 21 ayat
1 sampai ayat 6 ini?
Firman Tuhan hari ini menceritakan
tentang pelarian Daud. Dia menyelamatkan dirinya dari Raja Saul, yang ingin
membunuhnya. Dalam pelariannya, Daud lebih suka pergi ke rumah Tuhan.
Kita tahu bahwa, Daud ingin dibunuh oleh
Raja Saul, karena Saul cemburu pada Daud yang selalu menang dalam perang, dan
takut kalau suatu saat Daud mengambil posisinya sebagai raja.
Ketika didatangi oleh Daud, Imam Ahimelekh
takut dan curiga, karena ia melihat Daud, seorang panglima perang, datang
sendirian tanpa ada pengawal.
Ahimelekh tidak tahu apa-apa tentang
adanya konflik antara Daud dan Saul. Juga, sangat mungkin bahwa Daud terlihat
lelah, letih, dan acak-acakan.
Itu sebabnya Ahimelekh bertanya padanya, “Kenapa
kamu sendirian, dan tidak ada yang bersamamu?”
Lalu Daud berkata kepada imam Ahimelekh, “Raja
menugaskanku untuk urusan rahasia, yang tidak boleh diketahui siapa pun.”
Dalam hal ini, Daud berbohong, dan dia
melakukan kebohongan itu, di rumah Tuhan. Kita tahu bahwa Daud terpaksa
berbohong, untuk melindungi dirinya sendiri.
Tujuan Daud berbohong adalah agar Ahimelekh
tidak ragu memberinya makanan. Kondisi Daud saat itu, sedang lapar.
Jadi, Daud bertanya, apakah Ahimelekh
masih memiliki persediaan makanan, yang bisa dia makan segera. Jika ada, Daud
membutuhkan 5 roti.
Imam Ahimelekh menjawab pertanyaan Daud,
dengan mengatakan bahwa tidak ada roti biasa, kecuali roti suci, yang merupakan
roti sajian.
Setiap hari, seorang Imam Al lah, akan
menyajikan roti yang baru dibuat, untuk disajikan di hadapan Tuhan, masih
panas. Roti baru ini untuk menggantikan roti yang ditaruh sehari sebelumnya.
Roti yang baru diangkat ini disebut roti
suci, dan inilah yang diberikan imam Ahimelekh kepada Daud.
Karena roti itu baru saja diambil dari
meja penyajian, imam Ahimelekh memperingatkan bahwa mereka yang diizinkan
memakannya, harus menjauhkan diri dari wanita pada hari mereka memakannya.
Dalam memberikan roti suci atau roti
sajian ini kepada Daud, Ahimelekh harus melanggar kebiasaan imam, yaitu tidak
memberikan roti sajian kepada sembarang orang. Pada awalnya, hanya Imam Harun
dan anak-anaknya saja, yang boleh makan roti ini.
Tetapi imam Ahimelekh juga memahami
Firman Tuhan, yang menempatkan kebutuhan manusia di atas ketaatannya sebagai
seorang imam Lewi.
Ketika murid-murid Yesus dikritik karena
melanggar adat agama, soal makan yang bertentangan dengan tradisi, Yesus
menggunakan kasus Daud sebagai contoh. (Baca Injil Matius 12 ayat 1 sampai ayat
8).
Daud menjelaskan kepada Ahimelekh, bahwa
sebagai orang yang sedang dalam perjalanan bisnis, seperti halnya pergi
berperang, mereka memang harus menjauhi wanita.
Apa pesan Tuhan bagi kita, melalui Firman-Nya hari
ini?
Mungkin kita pun bisa mengalami kondisi seperti Daud.
Suatu saat kita mungkin mengalami kondisi terdesak, yang sebenarnya disebabkan
oleh orang lain, dan bukan karena kesalahan kita.
Tuhan mau, kita tidak mencari bantuan dari orang
lain, tetapi datang langsung kepada Tuhan, atau melalui hamba Tuhan yang
dipercaya, untuk konseling.
Meskipun kita dapat memahami mengapa Daud berbohong,
dan bahkan bersimpati dengan dia, dalam konseling, kita harus mengatakan yang
sebenarnya. Kita tidak boleh berbohong, bahkan dalam keadaan mendesak.
Kita harus percaya bahwa, dengan kejujuran kita,
orang lain tidak akan ragu untuk membantu kita, dan bahwa Tuhan tidak akan
membiarkan kita diperlakukan tidak adil. Tuhan tidak hanya mengasihi, tetapi juga
adil.
Di sisi lain, kita juga belajar dari Imam Ahimelekh,
yang mengerti bahwa semua aturan dibuat untuk manusia, dan bukan manusia untuk
aturan itu. Artinya, manusia lebih tinggi dari aturan, dengan catatan, demi
mewujudkan keadilan dan ketertiban.
Tuhan Yesus sendiri dalam Injil Markus 2 ayat 28,
mengatakan bahwa:
"Hari Sabat diadakan untuk manusia dan
bukan manusia untuk hari Sabat.”
Karena Anak Manusia, yang menunjuk kepada diri-Nya
Yesus, adalah juga Tuhan atas hari Sabat."
Berbicara mengenai roti kudus atau roti sajian, kita
lalu teringat kepada roti di meja Perjamuan Kudus. Roti itu, melambangkan tubuh
Kristus.
Mengenai roti suci dalam renungan hari ini, roti ini
juga bisa diartikan sebagai, “roti kehadiran” Tuhan, bersama orang yang
memakannya.
Oleh karena itu, ketika kita makan Perjamuan Tuhan,
dan makan roti, itu sama seperti ketika kita makan roti Tuhan, di mana kita
adalah sahabat dan tamu Tuhan, di rumah Tuhan, untuk menikmati Dia.
Tuhan ingin, bahwa Perjamuan Tuhan, kita lakukan
bersama-sama dengan saudara-saudari seiman kita, sesama orang-orang percaya.
Dalam budaya makan bersama ini, kita membentuk
persahabatan yang permanen dan sakral, baik dengan Tuhan maupun dengan sesama
orang percaya.
Yang Harus Kita Terapkan Dalam Kehidupan
Kita, adalah sebagai berikut:
Sebagai
gereja, kita harus membentuk jemaat dan pemimpin gereja yang berintegritas.
Mereka yang menghadapi masalah, harus selalu mencari solusi sesuai dengan
kehendak Tuhan.
Orang yang
berintegritas berarti memiliki kepribadian yang jujur dan karakter yang kuat.
Integritas sendiri berasal
dari kata latin “integer,” yang artinya: Sikap teguh dalam mempertahankan
prinsip, tidak punya keinginan untuk korupsi, dan menjadi dasar yang melekat
pada diri, sebagai nilai moral.
Sebagai Presbiter dan anggota
gereja, dalam mengatasi masalah yang ada, kita tidak boleh kaku dalam menegakkan
aturan.
Kita juga harus melihat
esensi masalahnya, jangan sampai kita mengorbankan keadilan bagi manusia, demi
satu aturan.
Doa Hari Ini...
Tuhan Yesus, mampukan kami untuk hidup
benar, dalam tindakan dan perbuatan kami.
Terimakasih atas semua kebaikan-Mu.
Jadikan aku taat dan setia kepada-Mu.
Amin.
Kiranya Tuhan Menguatkan Kita, dan Kasih
Karunia Tuhan Yesus Menyertai Kita.
Komentar
Posting Komentar