Firman Tuhan untuk renungan hari ini, yang diambil dari 1 Samuel 22 ayat 10 sampai ayat 19, dan tema renungan kita adalah:
Pemimpin Yang Tulus.
Apa yang kita baca dari 1 Samuel 22 ayat 10 sampai
ayat 19 ini?
Ketika Daud bertemu dengan Imam Ahimelekh, kebetulan ada pegawai raja Saul yang sedang bekerja di rumah Tuhan. Namanya Doeg, orang Edom.
Doeg, sangat berambisi untuk menduduki jabatan tinggi, sebagai orang kepercayaan raja Saul.
Makanya dia selalu mencari muka, dengan memberi informasi, yang kalau perlu, dibumbui fitnah.
Oleh karena itu, dia melaporkan bahwa Daud telah bertemu dengan Ahimelekh, dan bagaimana Ahimelekh berdoa untuk Daud, dan memberinya senjata, yaitu pedang Goliat.
Kita tahu kejadian Goliat, raksasa Filistin, yang dibunuh oleh Daud.
Doeg mengatakan bahwa, dia melihatnya dengan matanya sendiri, ketika Ahimelekh memberi Daud perbekalan dan senjata. Dia memfitnah imam Ahimelekh sebagai kaki tangan Daud, yang bersekongkol untuk bersatu melawan Saul.
Doeg juga menghasut raja dengan mengatakan bahwa, Ahimelekh mungkin tahu, di mana Daud dan ke mana dia pergi.
Raja Saul adalah orang yang sangat paranoid. Berdasarkan laporan Doeg, dia mencurigai Ahimelekh dan Daud berkomplot melawannya. Dia juga berpikir bahwa Daud melarikan diri, bersiap untuk memberontak. Di sini Saul, memposisikan dirinya sebagai korban.
Karena imam Ahimelekh dicurigai bersekongkol dengan Daud, maka Raja Saul meminta agar Ahimelekh datang ke hadapannya, beserta seluruh keluarganya, dan juga semua imam yang ada di Nob, tempat nabi Ahimelekh mengabdi selama ini.
Dan mereka semua datang untuk menghadap raja.
Kemudian Saul segera bertanya kepada Ahimelekh, mengapa dia, sebagai seorang imam, bersekongkol dengan putra Isai melawan raja, dengan memberinya roti dan pedang, dan meminta Tuhan untuk memberikan berkat keselamatan, kepada Daud?
Daud, putra Isai, adalah menantu raja Saul, tetapi Saul menggunakan istilah putra Isai, ketika menuduh Ahimelekh bersekongkol melawan raja.
Menjawab pertanyaan yang mengarah pada tuduhan raja, Ahimelekh menjawab bahwa, dari semua pelayan di istana, hanya Daud yang paling dapat dipercaya.
Lagi pula, Daud adalah menantu raja, dan kepala pengawal raja, serta dihormati di seluruh istana dan negeri.
Bahkan Ahimelekh, sudah berkali-kali bertanya kepada Tuhan tentang pribadi Daud, dan tidak ada hal yang negatif.
Kemudian Ahimelekh menambahkan bahwa dia, dan seluruh keluarganya, serta para imam di kotanya, tidak tahu apa-apa tentang rencana pemberontakan Daud, seperti yang dituduhkan raja.
Dalam hal ini Ahimelekh berbicara apa adanya, karena ketika Daud datang menemuinya, imam Ahimelekh bertanya kepada Daud, mengapa Daud datang sendirian, dan tidak ada seorang pun bersamanya?
Dan, Daudlah yang telah berbohong kepada Ahimelekh. Yang telah menempatkan Ahimelekh dalam posisi yang sangat rentan.
Dan juga Ahimelekh tidak menyadari kebencian Saul terhadap Daud, jadi dia memuji Daud di hadapan raja yang cemburuan itu.
Menanggapi jawaban jujur Ahimelekh, Raja Saul bersikeras dengan keputusannya, untuk membunuh semua imam dan keluarga mereka, bahkan semua ternak mereka, dengan alasan bahwa mereka tidak melaporkan pelarian Daud kepada raja.
Sebuah kisah yang ironis, karena mereka semua tidak mengetahui kondisi Daud yang melarikan diri, dari kecemburuan raja.
Apa pesan Tuhan melalui Firman-Nya bagi kita?
Tuhan tidak ingin kita menjadi seperti Doeg, yang tidak hanya sangat berambisi untuk mendapatkan posisi terhormat, tetapi untuk itu rela membuat fitnah.
Tuhan juga tidak ingin kita menjadi seperti Raja Saul, yang membuka telinga lebar-lebar untuk fitnah, dan menutup matanya rapat-rapat, dalam melihat sebuah kebenaran dan kejujuran.
Tuhan ingin kita seperti Imam Ahimelekh, yang tidak mudah berprasangka buruk, dan selalu menggunakan hikmat Tuhan dalam menilai orang lain, dan selalu memberikan jawaban jujur atas semua pertanyaan atau tuduhan.
Imam Ahimelekh adalah orang yang jujur, dan memiliki hati nurani yang bersih, yang harus kita jadikan teladan.
Tuhan ingin kita menjadi Pemimpin Yang Tulus.
Apa Yang Harus Kita Terapkan Dalam Kehidupan Kita?
Sebagai individu, kita tidak boleh mudah cemburu, atau mudah curiga terhadap orang lain, apalagi membayangkan hal buruk yang akan dilakukan orang lain kepada kita.
Sebagai sebuah keluarga, kita harus membangun suasana saling percaya dalam keluarga. Caranya adalah dengan mengikuti pesan Rasul Petrus dalam suratnya 1 Petrus 5 ayat 5 dan 6 yang menyatakan:
Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab:
"Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati."
Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya.
Sebagai jemaat dan Presbiter, kita tidak boleh mencari sensasi atau menciptakan berita bohong, agar dirinya terlihat hebat.
Doa Hari Ini...
Tuhan Yesus, Engkau adalah Kepala Gereja dan Pemimpin kami. Ajari kami, baik sebagai jemaat, sebagai penatua, maupun sebagai ketua jemaat, untuk memahami panggilan kami, dan untuk mengetahui serta memenuhi hak dan kewajiban kami masing-masing.
Kiranya, damai Sejahtera-Mu, yang
melampaui segala akal, memerintah di hati kami.
Amin.
Kiranya Tuhan Menguatkan Kita, dan Kasih
Karunia Tuhan Yesus Menyertai Kita.
Komentar
Posting Komentar