Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini,
adalah:
Apa Yang Membuat Malaikat di Sorga
Bersukacita?
Firman
Tuhan, yang kita baca hari ini, adalah dari 1 Petrus 1, ayat 3 sampai ayat 12,
yang akan dibahas dalam 3 bagian.
Bagian
pertama, adalah 1 Petrus 1, ayat 3 sampai ayat 5, yang berbunyi sebagai
berikut:
Terpujilah
Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya
yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan
Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh
pengharapan,
untuk
menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat
cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu.
Yaitu
kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara
kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan
pada zaman akhir.
Apa
Isi Firman Tuhan ini, dan apa pesan-Nya untuk kita?
Petrus
memuji Allah dan Bapa, Tuhan kita Yesus Kristus, sebagai tanggapan atas
keselamatan yang telah Allah berikan kepada kita, berupa melahirkan kita
kembali, melalui kebangkitan Yesus Kristus, dari antara orang mati.
Petrus
melihat, dasar dari keselamatan kita, bukanlah ada di dalam kita, sebagai
manusia berdosa, tetapi belas kasihan Allah yang melimpah.
Petrus
di sini mencontohkan, bagaimana memberikan tanggapan positif terhadap kasih
karunia Allah yang besar. Karena, seseorang boleh saja memilih, untuk menerima
atau menolak pemberian Tuhan ini.
Kata,
Allah melahirkan kita kembali, menyiratkan bahwa ketika seseorang diselamatkan,
mereka menjadi ciptaan baru, (seperti yang dijelaskan oleh rasul Paulus dalam 2
Korintus 5 ayat 17).
Kita
dilahirkan kembali, untuk memiliki hidup yang penuh harapan, yaitu hidup yang
kekal di dalam Juruselamat, yang telah mengalahkan maut itu sendiri.
Kehidupan
yang penuh harapan itu ditempatkan pada warisan yang tidak fana, yang tidak
akan pernah pudar, karena disimpan di surga.
Ini
sangat kontras dengan warisan apa pun di bumi ini, yang akan layu, seperti
bunga yang layu.
Warisan
yang diterima oleh orang-orang yang telah dilahirkan kembali, sebenarnya adalah
sesuatu yang terlalu besar untuk digambarkan. Yang pasti warisan kita tidak
bisa dimusnahkan, tidak bisa dirusak, dan tidak bisa hilang.
Bagian
warisan yang kita terima adalah pemberian dari Tuhan sendiri, yaitu Tuhan
memberikan diri-Nya kepada kita.
Kita
tidak dapat memiliki dan menikmati warisan ini kecuali kita dilahirkan kembali.
Manusia
yang belum dilahirkan kembali tidak memiliki kapasitas untuk menikmati warisan
ini.
Dalam
berbicara dengan mereka yang tidak mengenal Yesus, kita seharusnya tidak hanya
memberi tahu mereka tentang penderitaan neraka yang akan mereka alami, tetapi juga
tentang kemuliaan surga yang akan mereka lewatkan.
Janji
akan bagian warisan kita sudah pasti, karena kita dijaga oleh kuasa Tuhan. Ini
memampukan kita untuk bertahan melalui iman sampai kedatangan Yesus.
Orang-orang
yang dipelihara oleh kuasa Tuhan, adalah orang-orang yang hidup dalam hubungan
iman yang berkelanjutan dengan Tuhan. Kita dapat mengatakan bahwa iman kita
akan mengaktifkan kuasa pemeliharaan Allah, dalam kehidupan orang Kristen.
Bagian
kedua, adalah 1 Petrus 1, ayat 6 sampai ayat 9, yang berbunyi sebagai berikut:
Bergembiralah
akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus
berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan.
Maksud
semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu --yang jauh
lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan
api --sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan
kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.
Sekalipun
kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada
Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira
karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan,
karena
kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.
Apa
Isi Firman Tuhan ini, dan apa pesan-Nya untuk kita?
Petrus
mengingatkan kita bahwa di tengah penderitaan yang kita alami di dunia ini, kita
harus fokus pada kasih karunia Tuhan yang besar, yang telah memberi kita bagian
dari warisan di Surga, yang akan membuat kita bersukacita dalam kuasa
pemeliharaan Tuhan.
Dan
Rasul Petrus berharap agar kita tahu bahwa semua cobaan yang ada sebenarnya adalah
ujian kemurnian iman kita, dan Tuhan akan menjaga kita, saat kemurnian iman
kita diuji dengan api.
Tuhan
tidak menginginkan orang Kristen yang kebal dari penderitaan, yang tidak akan berduka,
ketika menghadapi berbagai cobaan.
Tuhan
memiliki tujuan, tidak hanya mengijinkan pencobaan, tetapi juga untuk merasakan
kesedihan mendalam, dalam menghadapi pencobaan.
Tuhan
ingin kita menyadari bahwa, sebagai orang Kristen, kita juga memiliki
"kebutuhan" untuk berduka. Berduka untuk diri kita sendiri, atau berduka
untuk saudara seiman kita, di belahan dunia lain, yang juga mengalami berbagai
cobaan.
Iman
kita diuji, bukan karena Tuhan tidak tahu seberapa besar iman yang kita miliki.
Itu diuji karena kita yang justru tidak tahu seberapa besar atau jenis iman yang
kita miliki.
Tujuan
Tuhan dalam pengujian adalah untuk menampilkan kualitas iman kita yang bertahan
lama.
Merupakan
suatu kehormatan, jika iman kita diuji. Kita tidak mungkin membanggakan iman
kita, tanpa mengalami banyak kesulitan.
Iman
tanpa diuji tidak akan membawa kemuliaan besar bagi Tuhan, ketika Tuhan Yesus
menyatakan diri-Nya nanti.
Jika
emas harus diuji dan disucikan dengan api, apalagi iman kita, yang jauh lebih
berharga dari emas?
Tuhan
memiliki tujuan yang besar dan penting dalam menguji iman kita.
·
Iman diuji untuk menunjukkan bahwa itu adalah iman yang sejati atau iman yang
benar.
·
Iman diuji untuk menunjukkan kekuatan iman.
Iman
diuji untuk memurnikannya, untuk membuang semua sampah keraguan atau ketakutan.
Emas
adalah logam yang paling tahan lama, bagaimanapun juga suatu hari akan binasa,
tetapi iman kita tidak akan binasa.
Akhir
dari pengujian iman kita adalah keselamatan jiwa kita, pada kedatangan Tuhan
Yesus yang kedua kali.
Petrus
yang telah melihat Yesus, baik sebelum maupun sesudah kebangkitan Yesus,
meminta agar kita yang belum sempat melihat Yesus, ketika Ia masih di bumi ini,
hendaknya juga mengasihi dan percaya, seperti para Rasul, mengasihi dan percaya
pada Yesus.
Bahkan
jika kita tidak melihat Tuhan yang kita layani, kita harus menanggung pencobaan
dan menghadapinya dengan iman dan sukacita.
Petrus
menekankan adanya kesetaraan antara orang percaya hari ini, dan mereka yang
hidup pada waktu Yesus hadir di bumi sebagai manusia, karena Kristus, bagi jiwa
yang percaya, adalah tetap sama, baik dulu, hari ini, dan bahkan sampai
selamanya.
Akan
ada sukacita yang mulia, yang sulit untuk dijelaskan, sukacita yang begitu
dalam, sehingga tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
Sukacita
dari Surgalah yang membuat kita bersukacita, berbeda dengan kesenangan duniawi
biasa.
Bagian
ketiga, adalah 1 Petrus 1, ayat 10 sampai ayat 12, yang berbunyi sebagai
berikut:
Keselamatan
itulah yang diselidiki dan diteliti oleh nabi-nabi, yang telah bernubuat
tentang kasih karunia yang diuntukkan bagimu.
Dan
mereka meneliti saat yang mana dan yang bagaimana yang dimaksudkan oleh Roh
Kristus, yang ada di dalam mereka, yaitu Roh yang sebelumnya memberi
kesaksian tentang segala penderitaan yang akan menimpa Kristus dan
tentang segala kemuliaan yang menyusul sesudah itu.
Kepada
mereka telah dinyatakan, bahwa mereka bukan melayani diri mereka sendiri, tetapi
melayani kamu dengan segala sesuatu yang telah diberitakan sekarang
kepada kamu dengan perantaraan mereka, yang oleh Roh Kudus, yang
diutus dari sorga, menyampaikan berita Injil kepada kamu, yaitu
hal-hal yang ingin diketahui oleh malaikat-malaikat.
Apa
Isi Firman Tuhan ini, dan apa pesan-Nya untuk kita?
Mengenai
keselamatan abadi ini, para nabi telah menyelidikinya dengan cermat:
Di
sini Petrus ingin menunjukkan bahwa, ajaran tentang keselamatan kekal ini,
bukanlah hal baru, yang dibuat oleh para Rasul, termasuk rasul Paulus, tetapi
telah disaksikan sebelumnya oleh para nabi.
Petrus
tidak mencoba untuk membuktikan kebenaran ajarannya tentang keselamatan, dengan
menunjukkan kesesuaiannya dengan para nabi, sebaliknya, ia mencoba untuk
mendorong kita yang menderita, dengan menunjukkan pentingnya dan keagungan
keselamatan, yang untuknya, kita sedang menderita.
Para
nabi Perjanjian Lama rindu untuk melihat kasih karunia Perjanjian Baru. Nubuatan
para nabi, yang diilhami oleh Roh Kristus, menunjukkan bahwa mereka mengetahui
sesuatu tentang penderitaan dan kemuliaan Yesus, tetapi jauh lebih sedikit
daripada yang ingin mereka ketahui. Mereka hanya melihatnya dari jauh, dan
samar-samar.
Ibrani
11 ayat 13 mencatat:
Dalam
iman mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa
yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan yang mengakui, bahwa
mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini
Para
nabi Perjanjian Lama, tahu banyak tentang penderitaan dan kemuliaan Mesias,
tetapi masih banyak yang tersembunyi dari mereka, termasuk karakter Gereja, (seperti
yang dijelaskan dalam Efesus 3 ayat 4 sampai ayat 6), dan tentang esensi
kehidupan dan keabadian. (Baca 2 Timotius 1 ayat 10).
Diwahyukan
kepada mereka bahwa itu bukan untuk diri mereka sendiri, tetapi kepada kita-kita,
yang mereka layani. Para nabi mengerti bahwa mereka melayani orang-orang di
luar zaman mereka, selain juga kepada orang-orang di zaman mereka sendiri.
Hal-hal
yang dinubuatkan oleh para nabi ini dilaporkan sebagai fakta oleh rasul Petrus
dan rasul-rasul lainnya. Bahkan hal-hal inilah yang ingin dilihat para
malaikat.
Bagian
dari tujuan kekal Allah, adalah untuk menunjukkan hikmat-Nya kepada
makhluk-makhluk malaikat melalui pekerjaan-Nya bersama gereja. (Baca Efesus 3
ayat 10 dan 11).
Tuhan
ingin para malaikat melihat apa yang Tuhan lakukan di gereja, dan idenya adalah
bahwa para malaikat memperhatikan dengan penuh minat dan keinginan untuk
mempelajarinya.
Malaikat
ingin lebih memahami misteri keselamatan manusia. Merupakan suatu keingintahuan
yang suci untuk menyaksikan dan menikmati kemuliaan kerajaan Kristus ketika
mereka menemukan realisasi yang lebih penuh dalam kehidupan kita sebagai orang
Kristen.
Baca
1 Korintus 4 ayat 9, Efesus 3 ayat 10, dan 1 Timotius 3 ayat 16, yang
menggambarkan dunia supranatural dengan penuh semangat, mengamati program
penebusan manusia oleh Allah.
Rupanya,
konsep ini didasarkan pada kata-kata Yesus dalam Lukas 15 ayat 7, dan ayat 10,
di mana para malaikat di Sorga, dikatakan bersukacita atas satu orang berdosa
yang bertobat.
Apa
Yang Harus Kita Terapkan, Dalam Kehidupan Kita?
Kita
harus menanggapi kasih karunia Allah yang besar, dengan ucapan syukur, karena Allah
telah melahirkan kita kembali, melalui kebangkitan Yesus Kristus, dari antara
orang mati,
Jika
kepercayaan lain lebih menekankan pada ketakutan akan penderitaan neraka jika
mereka tidak taat, maka kita harus lebih menekankan pada harapan akan kemuliaan
surga yang akan kita terima, jika kita dilahirkan kembali.
Ketaatan
yang sejati hanya akan muncul setelah kita dilahirkan kembali.
Kita
harus bersukacita, karena melalui kelahiran kembali, kita memasuki kehidupan
yang penuh harapan, di mana:
Harapan
itu pasti.
Harapan
itu Abadi.
Harapan
itu berkelanjutan.
Harapan
itu asli dan murni.
Kita
harus memberitakan Injil Sukacita ini kepada orang lain, karena inilah yang
ingin dilihat para malaikat di surga, yaitu pertobatan dari banyak orang yang
mendengarkannya.
Doa Hari Ini...
Tuhan Yesus,
terima kasih, atas berkat Tuhan yang tak
terhitung banyaknya, dan juga untuk tantangan yang mendukakan, tetapi
menyucikan iman kami, dan yang semakin mendekatkan kami kepada Tuhan.
Terima kasih untuk masa-masa sulit, dimana
Tuhan memberikan kami kekuatan, untuk menghadapinya.
Tuhan Yesus, Engkau sangat baik.
Apapun badai yang menghadangku, Engkau
adalah Batu Karangku dan tempat perlindunganku.
Terima kasih atas rezeki yang
Tuhan berikan kepada kami, cahaya dan hadirat Tuhan yang melingkupi kami, dan
kasih Tuhan yang tidak pernah berakhir.
Dalam nama Yesus, kami telah
berdoa.
Amin.
Kiranya Tuhan Menguatkan Kita, dan Kasih
Karunia Tuhan Yesus, Menyertai Kita.
Komentar
Posting Komentar