Langsung ke konten utama

Hikmat dan Pengertian Mampu Melindungi Kita. Amsal 4: 1-9.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini,

adalah:

 

Apakah Kamu Percaya?

Hikmat dan Pengertian dapat melindungi Kamu?

 

 

Ayat Alkitab, yang kita baca hari ini, adalah dari Amsal 4, ayat 1 sampai ayat 9, yang akan dibahas dalam 3 bagian.

 

 

Bagian pertama dari ayat Alkitab yang akan kita baca, adalah 1 Petrus 3, ayat 1 sampai ayat 2, yang berbunyi sebagai berikut:

 

 Dengarkanlah, hai anak-anak, didikan seorang ayah, dan perhatikanlah supaya engkau beroleh pengertian,

 

 karena aku memberikan ilmu yang baik kepadamu; janganlah meninggalkan petunjukku. 

 

 

Apa Isi Firman Tuhan ini, dan apa pesan-Nya untuk kita?

 

Dalam Amsal sebelumnya, Salomo berbicara sebagai seorang ayah kepada seorang anak laki-laki, yang mungkin sedang mempersiapkan pewaris utama.

 

Dalam bab ini, ajarannya diperluas ke semua anak-anaknya. Ini adalah instruksi seorang ayah untuk kepentingan anak-anak.

 

Di sini, kita belajar bahwa rumah telah menjadi arena belajar yang menonjol, karena orang tua pada gilirannya mewariskan tradisi. (Lihat perintah Tuhan dalam Ulangan 6, ayat 6 sampai ayat 9).

 

Diantara anak-anak itu mungkin ada yang kurang fokus, atau punya pendapat sendiri-sendiri, jadi Salomo harus menekankan, agar mereka lebih memperhatikan esensi dari apa yang dikatakannya. Jangan hanya mendengarkan apa yang dikatakan, tetapi cobalah untuk memahami apa artinya.

 

Satu hal yang harus kita yakini, yaitu, seorang ayah Kristen harus mengajarkan sesuatu yang baik, yaitu hikmat Alkitab, sebagai bekal bagi anak-anaknya untuk mengarungi kehidupan yang semakin kompetitif ke depan.

 

Sama seperti itu, Salomo memiliki keyakinan pada instruksinya, dan yakin bahwa dia sedang berbicara tentang ajaran yang baik, dia dapat menasihati mereka, dengan mengatakan: “janganlah meninggalkan petunjukku.”

 

Salomo ingin agar anak-anaknya tidak mengabaikan apa yang dia ajarkan.

 

 

Bagian kedua dari ayat Alkitab yang akan kita baca, adalah 1 Petrus 3, ayat 3 sampai ayat 4, yang berbunyi sebagai berikut:

Karena ketika aku masih tinggal di rumah ayahku sebagai anak, lemah dan sebagai anak tunggal bagi ibuku,  aku diajari ayahku, katanya kepadaku: "Biarlah hatimu memegang perkataanku; berpeganglah pada petunjuk-petunjukku, maka engkau akan hidup.  Perolehlah hikmat, perolehlah pengertian, jangan lupa, dan jangan menyimpang dari perkataan mulutku. 

 

 

Apa Isi Firman Tuhan ini, dan apa pesan-Nya untuk kita?

 

Untuk membangkitkan emosi belajar pada anak-anaknya, Salomo menyampaikan ilustrasi nyata, yaitu berupa pengalamannya semasa kecil, yang mendapat bimbingan langsung dari Daud, ayahnya.

 

Salomo menjelaskan bagaimana dia membuka hati yang siap menerima pengajaran ayahnya.

 

Sama seperti Daud, Salomo atau semua orang tua mana pun, tidak ingin kata-katanya hanya masuk ke telinga, dan tidak bisa masuk ke hati yang keras.

 

Salomo dengan lembut menceritakan semangatnya untuk diajar oleh ayahnya, sambil mengenang pengalaman manis belajar dengan ayahnya, yang saat itu adalah raja Israel terbesar di dunia.

 

Hal semacam ini akan menjadi kenangan tersendiri bagi ayah dan ibu kita, yang telah mendidik kita, tanpa memandang tingkat pendidikan orang tua kita.

 

Esensi pengajaran, yang diajarkan dari generasi ke generasi, pada umumnya telah teruji oleh waktu. Amalan yang diajarkan mungkin tidak up to date dengan perkembangan zaman, namun pemahaman yang terkandung di dalamnya tetap bermanfaat bagi kehidupan ini.

 

Sama seperti Amsal yang ditulis Salomo ribuan tahun yang lalu, namun esensinya masih bisa kita terapkan hingga saat ini, juga di masa yang akan datang.

 

Selanjutnya Salomo menekankan apa yang telah diajarkan ayahnya kepadanya, yaitu untuk memperoleh hikmat atau kebijaksanaan, dan juga pengertian. Ini adalah dasar dari setiap pengetahuan yang berkembang di dunia ini.

 

Karena kebijaksanaan dan pengertian itu berharga, kita diminta untuk mengejar kebijaksanaan, berkorban untuk mendapatkannya, dan berusaha mempertahankan kebijaksanaan serta pengertian yang telah kita peroleh itu.

 

Kata Ibrani untuk 'dapatkan hikmat', mengandung gagasan transaksi komersial, yang akan mengatakan, jika perlu, 'beli hikmat itu,' karena ada harga yang harus dibayar, jika kita ingin mengetahui kebenaran Allah. dan mematuhinya.

 

Sayangnya, bahkan Firman Tuhan atau hikmat Tuhan, yang ditawarkan secara cuma-Cuma, tidak banyak diminati, dibandingkan dengan ajaran menjadi kaya, seperti yang diajarkan oleh Teologi Kemakmuran.

 

Padahal, meski otaknya yang encer, dan kesempatan memang penting, tapi membuat keputusan yang tepat, jauh lebih penting.

 

Pengambilan keputusan yang tepat, membutuhkan hikmat dan pengertian, yang berasal dari Tuhan.

 

Jadi, begitu kebijaksanaan diperoleh, itu harus dipertahankan.

 

Memang, bisa saja terjadi, kita kemudian berpaling darinya di masa depan.

 

Dalam hal ini, kita perlu belajar dari ironi dan tragedi kehidupan Salomo.

 

Raja Daud telah mengajarinya dengan baik, dan Salomo menerima pelajaran itu dengan hati terbuka, dan sangat menghargai hikmat, sehingga dia memintanya kepada Tuhan, di atas yang lain-lainnya. (Baca 1 Raja-raja 3 ayat 7 sampai ayat 12).

 

Ironis dan tragisnya, di akhir hayatnya, Salomo benar-benar berpaling dari jalan hikmat. (Baca 1 Raja-raja 11 ayat 1 sampai ayat 13). Bahkan pelajaran terbaik pun akhirnya bisa dilepaskan dan ditinggalkan.

 

Karena itu, kejatuhan Salomo menjadi lebih tercela, karena dia telah dididik dengan sangat saleh oleh Daud, dan bahkan mengajarkannya kepada anak-anaknya, dan tidak bisa menjadi contoh hidup, bagi anak-anaknya.

 

 

Bagian ketiga dari ayat Alkitab yang akan kita baca, adalah 1 Petrus 3, ayat 5 sampai ayat 6, yang berbunyi sebagai berikut:

 

 Janganlah meninggalkan hikmat itu, maka engkau akan dipeliharanya, kasihilah dia, maka engkau akan dijaganya.  Permulaan hikmat ialah: perolehlah hikmat dan dengan segala yang kauperoleh perolehlah pengertian.  Junjunglah dia, maka engkau akan ditinggikannya; engkau akan dijadikan terhormat, apabila engkau memeluknya. Ia akan mengenakan karangan bunga yang indah di kepalamu, mahkota yang indah akan dikaruniakannya kepadamu."

 

 

Apa Isi Firman Tuhan ini, dan apa pesan-Nya untuk kita?

 

Salomo melanjutkan apa yang diajarkan ayahnya, yaitu jika dia tetap berada di jalan kebijaksanaan, dan mencintai kebijaksanaan, maka kebijaksanaan itu akan melindunginya dan membuatnya tetap aman.

 

Di sini kita menemukan kebijaksanaan yang dipersonifikasikan sebagai seseorang, yang memiliki kualitas pelindung berpengaruh, yang dapat diandalkan untuk melindungi.

 

Raja Daud mengomunikasikan lebih dari sekadar fakta hikmat. Dia ingin Salomo mencintai dan menghargai serta menghormati kebijaksanaan.

 

Sebagian besar dari kita akhir-akhir ini, sering menganggap uang atau ketenaran, sebagai hal utama. Tetapi, sebagai Umat Tuhan, kita harus memberikan tempat yang lebih tinggi untuk kebijaksanaan.

 

Salomo melanjutkan apa yang Daud ajarkan kepada anak-anaknya, yaitu, jika kita meninggikan hikmat, maka hikmat itu akan memajukan kita.

 

Ibarat seorang calon mempelai wanita, kebijaksanaan harus dikejar dan diapresiasi, maka kebijaksanaan akan membawa keindahan dan kehormatan bagi kita.

 

Dari kitab 1 Raja-raja 3 ayat 7 sampai ayat 12, kita melihat bagaimana, di awal hidupnya, Salomo diganjar dengan limpah oleh Tuhan, karena mengutamakan dan mengejar hikmat, dibandingkan dengan orang lain.

 

 

Apa Yang Harus Kita Terapkan, Dalam Kehidupan Kita?

 

Sebagai anak yang mendapat pengajaran dari orang tua yang takut akan Tuhan, kita harus mensyukurinya.

 

Kuasa pengajaran berdasarkan Alkitab, tidak akan pernah meninggalkan kita.

 

Kita mungkin tidak lagi sepenuhnya mengingat ajaran orang tua kita, tetapi tanpa disadari, kita akan mewarisinya, dan kebijaksanaan itu akan tercermin dalam semua aspek kehidupan kita.

 

Sebagai orang tua, kita harus mengajarkan hikmat dan pengertian yang Tuhan ingin kita wariskan kepada anak-anak kita.

 

Jika raja besar Israel, seperti Daud, mau meluangkan waktu untuk mengajar anak-anaknya secara langsung, demikian pula setiap ayah Kristen.

 

Jadikan rumah kita sebagai sekolah utama bagi pendidikan anak-anak kita.

 

Amsal 29, ayat 15 dan ayat 17, menginstruksikan kita sebagai berikut:

 

Tongkat dan teguran mendatangkan hikmat, tetapi anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya

.

Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu.

 

Saat kita mengajar anak-anak kita, tekankan pentingnya memperhatikan pengajaran kita, seperti yang dikatakan Daud kepada Salomo:

 

"Biarlah hatimu memegang perkataanku; berpeganglah pada petunjuk-petunjukku, maka engkau akan hidup.

Perolehlah hikmat, perolehlah pengertian, jangan lupa, dan jangan menyimpang dari perkataan mulutku.

 

Komunikasikan pentingnya ajaran kita, karena yang kita sampaikan adalah kebenaran Tuhan.

 

Ketaatan pada perintah orang tua, yang didasarkan pada Alkitab, akan menentukan hidup atau matinya generasi berikutnya.

 

Hubungan antara orang tua dan anak terikat oleh ajaran hikmat dan pengertian dari Tuhan.

 

Amsal 17 ayat 6 berbunyi: “Mahkota orang orang tua adalah anak cucu, dan kehormatan anak-anak ialah nenek moyang mereka.”

 

 

 

 

Doa Hari Ini...

 

Tuhan Yesus,

 

Terima kasih untuk anak-anak yang Engkau berikan kepada kami.

Kami tahu bahwa mereka sangat berarti, tidak hanya bagi kami, tetapi juga bagi Tuhan.

Kami berdoa agar Tuhan menolong kami melakukan semua yang kami bisa, untuk mengajar, melindungi, dan memberi mereka kebijaksanaan dalam kehidupan yang layak mereka dapatkan.

 

Kami juga bersyukur bahwa semua pemberian yang baik datangnya dari Tuhan.

Kami bersyukur bisa mempercayakan masa depan keluarga kami kepada Tuhan.

Tolong bimbing anak-anak kita, dalam setiap langkah yang mereka ambil.

Kami percaya dengan hikmat Tuhan, mereka akan selamat dalam perjalanan hidupnya.

 

 

Dalam nama Yesus, kami telah berdoa.

 

Amin.

 

Kiranya Tuhan Menguatkan Kita, dan Kasih Karunia Tuhan Yesus, Menyertai Kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dusta Dan Kompromi, Tidak Mampu Menutupi Kekuatan Kebenaran. Matius 28: 11-15 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Dusta Dan Kompromi, Tidak Mampu Menutupi Kekuatan Kebenaran.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Matius 28, ayat 11 sampai ayat 15, yang berbunyi sebagai berikut:    Ketika mereka di tengah jalan, datanglah beberapa orang dari penjaga itu ke kota dan memberitahukan segala yang terjadi itu kepada imam-imam kepala.   Dan sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu   dan berkata: "Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur.   Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa."   Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Dan ceritera i...

Hidup Bijaksana, Di Dunia Yang Penuh Kebodohan. Efesus 5:15-16 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Hidup Bijaksana, Di Dunia Yang Penuh Kebodohan.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Efesus 5, ayat 15 sampai ayat 16, yang berbunyi sebagai berikut:    Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,   dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.     Demikian Pembacaan Alkitab. Hale luya.     Apa Isi Firman Tuhan ini, dan tentang apa.   Efesus 5, ayat 15 dan ayat 16, adalah bagian dari Alkitab Perjanjian Baru, khususnya dari kitab Efesus. Untuk memahami isi, makna, dan maksudnya, penting untuk mempertimbangkan konteks kitab yang lebih luas dan ayat-ayat spesifiknya.   Kitab Efesus ditulis oleh rasul Paulus, dan berfungsi sebagai surat kepada komunitas Kristen mula-mula di Efesus...

Kasih dan Perhatian Tuhan, Tercermin Dalam Keagungan Ciptaan-Nya. Kejadian 1: 14-19 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Kasih dan Perhatian Tuhan, Tercermin Dalam Keagungan Ciptaan-Nya.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Kejadian 1, ayat 14 sampai ayat 19, yang berbunyi sebagai berikut:      Berfirmanlah Allah: "Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun,  dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi." Dan jadilah demikian.   Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang.  Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi,   dan untuk menguasai siang dan malam, dan untu...