Langsung ke konten utama

Jangan Biarkan Hatimu Hampa. Amsal 4: 20-27.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini,

 

adalah:

 

 

Jangan Biarkan Hati Kita Hampa.

 

 

Ayat Alkitab, yang kita baca hari ini, adalah dari Amsal 4, ayat 20 sampai ayat 27, yang akan dibahas dalam 3 bagian.

 

 

Bagian pertama dari ayat Alkitab yang akan kita baca, adalah Amsal 4, ayat 20 sampai ayat 22, yang berbunyi sebagai berikut:

 

Hai anakku, perhatikanlah perkataanku, arahkanlah telingamu kepada ucapanku; janganlah semuanya itu menjauh dari matamu, simpanlah itu di lubuk hatimu. Karena itulah yang menjadi kehidupan bagi mereka yang mendapatkannya dan kesembuhan bagi seluruh tubuh mereka. 

 

 

Apa Isi Firman Tuhan ini, dan apa pesan-Nya untuk kita?

 

Dalam mengajar anak-anaknya, Salomo selalu mengulangi agar anak-anaknya memperhatikan kata-kata pengajarannya, tidak hanya dengan telinganya, tetapi juga dengan matanya.

 

Di sini kita belajar bahwa, pelajaran kebijaksanaan yang kita sampaikan, tetapi tidak dengan mudah untuk diterima oleh mereka yang mendengarnya.

 

Salomo harus sering mengulangi nasihatnya, agar putra-putranya meperhatikan dan menyimpan pelajaran kebijaksanaan di depan matanya.

 

Dalam Amsal yang kita baca hari ini, Salomo menggunakan anggota tubuh setidaknya, 11 kali, yaitu, mata, kaki, dan hati disebutkan dua kali, kemudian telinga, tubuh, mulut, bibir, dan kelopak mata.

 

Amsal ini berbicara dengan tegas tentang bagaimana kita dapat mendedikasikan setiap bagian dari tubuh kita, untuk mendapatkan hikmat dan kehormatan Tuhan.

 

Setelah kita mendapatkan kebijaksanaan dengan menggunakan seluruh keberadaan kita, maka kita harus menyimpan kebijaksanaan itu di lubuk hati kita yang terdalam.

 

Kebijaksanaan ini, bahkan akan menyembuhkan kita.

 

Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Rasul Paulus, yang menulis tentang penyerahan anggota tubuh kita kepada Tuhan. (Baca Roma 6 ayat 12 dan ayat 13).

 

Hanya tubuh dan seluruh anggotanya, yang sehat dan bergerak serta berjalan, sesuai dengan hikmat Tuhan, yang layak menjadi persembahan kita kepada Tuhan.

 

Meskipun ajaran hikmat ini bertentangan dengan natur dosa kita, kita dapat, dan harus, berusaha mengembangkan hati yang mencintai hikmat dan tetap fokus padanya.

 

Jika hikmat hanya dilihat sebagai sistem aturan yang mengikat dan mengancam kebebasan kita, maka tujuan Tuhan tidak akan pernah tercapai.

 

Kita harus berdoa dan sungguh-sungguh mengejar hikmat, dan dengan segenap hati kita.

 

Ironisnya, Alkitab semakin terabaikan di era digital ini, terpinggirkan oleh gadget yang tak pernah lepas dari genggaman kita, kecuali kita tidur.

 

Tanpa kita sadari, kita telah mendukakan hati Tuhan, yang semakin kita asingkan dalam hidup kita.

 

Masalahnya, bagaimana kita bisa mencintai Tuhan, jika kitab yang penuh kemuliaan, yang diturunkan oleh Tuhan itu sendiri, tanpa kita sadari telah kita abaikan atau dengan kata lain telah kita remehkan?

 

Mari kita sadari masalah ini, dan mengatasinya dengan mulai membaca Alkitab dan merenungkan Firman Tuhan, siang dan malam, agar jasmani dan rohani kita sehat.

 

 

Bagian kedua dari ayat Alkitab yang akan kita baca, adalah Amsal 4, ayat 23, yang berbunyi sebagai berikut:

 

Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.

 

 

Apa Isi Firman Tuhan ini, dan apa pesan-Nya untuk kita?

 

Jika kita telah menyimpan hikmat di lubuk hati yang paling dalam, maka hati yang mengandung hikmat bijaksana ini, perlu kita jaga dengan baik.

 

Yang dimaksud Salomo di sini adalah kita harus menjaga hati yang memiliki hikmat agar kita tidak mengikuti jalan orang fasik, bahkan menjadi fasik.

 

Sebelumnya, dalam Amsal 4 ayat 19, Salomo menulis:

 

Jalan orang fasik itu seperti kegelapan; mereka tidak tahu apa yang menyebabkan mereka tersandung

 

Nubuat dalam Yehezkiel 36 ayat 26, jika dilihat dari perspektif perjanjian baru, terpenuhi ketika kita menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi kita, di mana kita akan memiliki hati yang baru, yaitu hati yang layak untuk dijaga kebersihannya.

 

Akan ada kehidupan yang mengalir dari hati kita, seperti mata air yang berlimpah, yang akan menyegarkan tubuh, jiwa dan roh kita.

 

Ini adalah 'mata air kehidupan', di mana kapasitas untuk menjalani kehidupan yang penuh kegembiraan dan kekuatan pada akhirnya datang dari dalam, dan bukan dari keadaan di sekitar kita.

 

Hati yang rusak, akan membawa kita ke neraka, tetapi Kebijaksanaan dan pengertian, akan melindungi hati dari kerusakan itu.

 

Ibarat sumber air, hati kita adalah penampungnya, dan perubahan bisa dimulai dari sana. Jika reservoir tercemar, tidak ada gunanya kita memperbaiki pipa dan katupnya.

 

Karena itu Salomo mengingatkan anak-anaknya, juga kita, bahwa tidak mudah menjaga dan melindungi hati seseorang, sekalipun itu hati kita sendiri.

 

Hanya dengan menyadari bahwa Setan selalu mengincar hati kita untuk dicuri, kita juga harus selalu menjaga hati kita dengan kewaspadaan penuh.

 

Karena jika hati ditawan oleh Setan, maka seluruh keberadaan kita, kasih sayang, keinginan, motif, pengejaran kita, akan dikendalikan oleh Setan.

 

Oleh karena itu, kita harus menjaga hati kita dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah kehidupan kita terpancar.

 

 

Bagian ketiga dari ayat Alkitab yang akan kita baca, adalah 1 Petrus 3, ayat 5 sampai ayat 6, yang berbunyi sebagai berikut:

 

Buanglah mulut serong dari padamu dan jauhkanlah bibir yang dolak-dalik dari padamu.  Biarlah matamu memEngkaung terus ke depan dan tatapan matamu tetap ke muka.  Tempuhlah jalan yang rata dan hendaklah tetap segala jalanmu.  Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, jauhkanlah kakimu dari kejahatan.

 

 

Apa Isi Firman Tuhan ini, dan apa pesan-Nya untuk kita?

 

Untuk tetap berada di jalan orang benar, seseorang harus memperhatikan apa yang mereka katakan.

 

Kata-kata yang menipu dan sesat, yang digunakan untuk menutupi perbuatan yang menipu dan sesat, akan menuntun seseorang, melangkah lebih jauh di jalan orang fasik.

 

Dengan Amsal ini, Salomo mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam bertutur kata, serta menghindari dan menjauhi kebiasaan berbicara sembarangan, atau bereaksi spontan, tanpa berpikir terlebih dahulu.

 

Hindari orang yang pola pikirnya negatif, dan suka berbicara sinis, sembrono, termasuk orang yang setengah jujur, yang membenarkan kebohongannya sebagai kebohongan putih.

 

Salomo juga mengingatkan kita untuk melihat lurus ke depan. Artinya, untuk menghindari gangguan atau masalah, kita tidak boleh menyimpang dari jalan yang benar.

 

Kita tidak boleh mengenakan penutup mata pada kuda, atau menyembunyikan mata kita di pasir, seperti burung unta, hanya untuk menghindari sesuatu yang tidak berani kita hadapi.

 

Salomo juga mengingatkan kita untuk mempertimbangkan tujuan dari jalan kita saat ini, itu akan mengarahkan kita pada kehidupan yang jauh lebih bijaksana.

 

Ketika kita dengan hati-hati merenungkan ke mana kita menuju, itu membantu untuk menetapkan arah bijaksana kita dan membantu kita untuk tidak berbelok ke kanan atau ke kiri.

 

Yesus sendiri berkata bahwa, agar kita layak bagi kerajaan Allah, kita harus terus membajak ke depan, sesuai dengan larikan yang telah ditentukan, tidak menyimpang dari kiri atau kanan, apalagi melihat ke belakang. (Baca Lukas 9 ayat 62).

 

Pesan Salomo untuk tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri, sesuai peringatan dalam Kitab Ulangan pasal 5 ayat 32, pasal 17 ayat 11, dan pasal 28 ayat 14, serta kitab Yosua 23 ayat 6.

 

Idenya adalah bahwa seseorang tidak boleh teralihkan dari jalan kebijaksanaan.

 

 

 

Apa Yang Harus Kita Terapkan, Dalam Kehidupan Kita?

 

Di era digital yang penuh dengan perubahan ini, akan membuat kita menyukai dan mengejar hal-hal baru. Padahal tidak ada hikmat di dalamnya. Kalaupun ada, sifatnya sangat sementara. Semuanya itu selalu berubah.

 

Tanpa disadari, kita telah meninggalkan ruang kosong di lubuk hati kita, yang kita biarkan kosong sepanjang hidup kita.

 

Kekosongan ini, telah menyebabkan kita tidak pernah merasakan kebahagiaan. Kita selalu berusaha untuk mengisinya dengan apapun yang kita kejar di dunia ini, dan ternyata semuanya sia-sia.

 

Blaise Pascal telah melakukan hal yang sama, sampai dia menemukan bahwa, ibarat puzzle, ruang di hati kita, bentuknya hanya bisa diisi oleh Tuhan.

 

Pascal menuliskan kutipannya sebagai berikut:

 

“Ada kehampaan berbentuk Tuhan di hati setiap manusia, yang tidak dapat dipuaskan oleh apa pun, atau makhluk apa pun, kecuali hanya oleh Tuhan Sang Pencipta, yang dikenal melalui Yesus Kristus.”

 

Oleh karena itu, yang harus kita lakukan dan terapkan dalam hidup kita adalah mengundang Yesus Kristus, sumber segala hikmat, untuk masuk dan menempati ruang kosong di hati kita, agar selanjutnya kita bisa menjalani kehidupan yang jujur ​​berdasarkan kasih.

 

 

Kita akan memiliki hati yang baru, dan dengan hati yang baru ini, kita tidak akan memiliki:

 

hati yang mendua, (baca Mazmur 12 ayat 2),

 

atau hati yang keras, (baca Amsal 28 ayat 14),

 

hati yang sombong, (baca Amsal 21 ayat 4),

 

hati yang tidak percaya, (baca Ibrani 3 ayat 12),

 

hati yang dingin, (baca Matius 24:12),

 

dan hati yang najis. (baca Mazmur 51 ayat 10).

 

 

 

 

Doa Hari Ini...

 

Tuhan Yesus,

 

Engkau telah melihat ke dalam hati kami.

Rasa sakit, luka, air mata, kehancuran, semua bekas luka yang ada di dalamnya, juga telah Engkau lihat dan rawat.

Engkau bahkan telah menghapus air mata kami.

Tuhan juga telah menghilangkan semua depresi kami.

Tuhan menenangkan semua gejolak di hati kami.

Engkau merangkul kami dan melindungi kami.

Tuhan memenuhi hati kami dengan cinta.

Tuhan telah menghujani kami dengan belas kasihan.

Tuhan juga membuat kami berani.

Terima kasih telah melindungi kami dengan firman Tuhan!

Terima kasih atas perhatian dan cinta kasih Tuhan yang berlimpah dalam hidup kami.

Terima kasih telah mencintai kami.

Terima kasih telah menerima kami apa adanya.

Terima kasih telah bersabar dengan perilaku kami.

Biarlah hikmat dan pengertian, membawa kesembuhan bagi kami.

 

Semua ini kami doakan, hanya dalam nama Tuhan Yesus.

 

Amin.

 

 

Kiranya Tuhan Menguatkan Kita, dan Kasih Karunia Tuhan Yesus, Menyertai Kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dusta Dan Kompromi, Tidak Mampu Menutupi Kekuatan Kebenaran. Matius 28: 11-15 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Dusta Dan Kompromi, Tidak Mampu Menutupi Kekuatan Kebenaran.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Matius 28, ayat 11 sampai ayat 15, yang berbunyi sebagai berikut:    Ketika mereka di tengah jalan, datanglah beberapa orang dari penjaga itu ke kota dan memberitahukan segala yang terjadi itu kepada imam-imam kepala.   Dan sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu   dan berkata: "Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur.   Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa."   Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Dan ceritera i...

Hidup Bijaksana, Di Dunia Yang Penuh Kebodohan. Efesus 5:15-16 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Hidup Bijaksana, Di Dunia Yang Penuh Kebodohan.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Efesus 5, ayat 15 sampai ayat 16, yang berbunyi sebagai berikut:    Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,   dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.     Demikian Pembacaan Alkitab. Hale luya.     Apa Isi Firman Tuhan ini, dan tentang apa.   Efesus 5, ayat 15 dan ayat 16, adalah bagian dari Alkitab Perjanjian Baru, khususnya dari kitab Efesus. Untuk memahami isi, makna, dan maksudnya, penting untuk mempertimbangkan konteks kitab yang lebih luas dan ayat-ayat spesifiknya.   Kitab Efesus ditulis oleh rasul Paulus, dan berfungsi sebagai surat kepada komunitas Kristen mula-mula di Efesus...

Kasih dan Perhatian Tuhan, Tercermin Dalam Keagungan Ciptaan-Nya. Kejadian 1: 14-19 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Kasih dan Perhatian Tuhan, Tercermin Dalam Keagungan Ciptaan-Nya.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Kejadian 1, ayat 14 sampai ayat 19, yang berbunyi sebagai berikut:      Berfirmanlah Allah: "Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun,  dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi." Dan jadilah demikian.   Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang.  Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi,   dan untuk menguasai siang dan malam, dan untu...