Langsung ke konten utama

Ketuhanan Yesus Disaksikan Oleh Para Murid Sebagai Saksi Mata - 2 Petrus 1: 16-18

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:

 

Ketuhanan Yesus, Disaksikan oleh Para Murid Sebagai Saksi Mata.

 

Ayat Alkitab, yang kita baca hari ini, adalah dari 2 Petrus 1, ayat 16 sampai ayat 18, yang berbunyi sebagai berikut:

 

 Sebab kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, ketika kami memberitahukan kepadamu kuasa dan kedatangan Tuhan kita, Yesus Kristus sebagai raja, tetapi kami adalah saksi mata dari kebesaran-Nya.

 Kami menyaksikan, bagaimana Ia menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah Bapa, ketika datang kepada-Nya suara dari Yang Mahamulia, yang mengatakan: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan." 

 Suara itu kami dengar datang dari sorga, ketika kami bersama-sama dengan Dia di atas gunung yang kudus.

 

 

Apa Isi Firman Tuhan ini, dan apa pesan-Nya untuk kita?

 

Dalam surat yang menjadi dasar renungan kita hari ini, Petrus dengan sungguh-sungguh menyatakan bahwa kesaksian tentang kuasa dan kedatangan Tuhan Yesus Kristus sebagai raja, adalah kesaksian yang berdasarkan pandangan mata akan kebesaran Kristus.

 

Kesaksian para Rasul yang menanggung banyak siksaan dan bahkan mengorbankan nyawanya, demi menyaksikan kuasa dan kedatangan Yesus sebagai Raja ini, bukanlah berdasarkan dongeng buatan manusia, melainkan berdasarkan kesaksian mereka sebagai saksi mata.

 

Petrus dan murid-murid lainnya, yang hidup dan melayani bersama Yesus selama lebih dari 3 tahun, adalah saksi mata yang hidup dari keagungan Tuhan Yesus. Kesaksian yang diberikan oleh lebih dari 2 orang, dan kesaksian para rasul yang saling bersesuaian, tidak dapat diragukan lagi. Selain itu, mereka membuktikannya dengan siap menjadi martir, untuk mempertahankan kesaksian mereka.

 

Beberapa orang berpikir bahwa Injil dan catatan Alkitab hanyalah mitos kuno. Mereka mungkin mengagumi kekuatan mitos yang tampaknya lebih menarik karena mistik atau takhayulnya, tetapi Petrus dengan tepat menegaskan bahwa pesan itu bukanlah mitos. Itu adalah bukti sejarah, yang mereka lihat sebagai saksi mata.

 

Kesaksian para rasul dan penulis Perjanjian Baru, telah diteliti selama berabad-abad dan dibandingkan dengan catatan sejarah di luar Alkitab, membuktikan bahwa kesaksian mereka benar adanya.

 

Petrus adalah salah satu dari tiga murid di 'lingkaran dalam' Kristus. Dia adalah orang yang menyombongkan kesetiaan dan cintanya kepada Tuhan di masa-masa awal imannya.

 

Dia berjalan bersama Yesus sepanjang perjalanan pelayanan, dan menyaksikan doa Kristus yang penuh kuasa di taman Getsemani.

 

Dia yang terheran-heran dan juga yang keberatan ketika Yesus, sebagai inkarnasi Firman Tuhan, mengambil handuk dan mulai membasuh kaki kotor murid-murid-Nya.

 

Petrus menyaksikan Yesus ditangkap. Dia sangat berduka atas pengadilan Kristus yang tidak adil dan pemukulan brutal terhadap-Nya. Petrus terkejut menyaksikan pengorbanan diri Kristus di kayu Salib, persis seperti yang Yesus katakan sebelumnya.

 

Petrus juga menjadi saksi dari kubur kosong, mengetahui bahwa Yesus telah mati sebelum lambung-Nya ditusuk dengan tombak.

 

Petrus menegaskan kesaksiannya itu, bukan berdasarkan dongeng dan isapan jempol manusia. Dalam bahasa Yunani, dongeng adalah cerita buatan manusia yang disebut mitos, karena berbau mistis.

 

Salah satu hal yang disaksikan oleh rasul Petrus tentang keagungan Yesus, yaitu waktu transfigurasi Yesus, yang dicatat dalam Matius 17 ayat 1 sampai ayat 8, Markus 9 ayat 1 sampai ayat 9, dan Lukas 9 ayat 28 sampai ayat 36.

 

Saat itu Petrus tidak sendirian. Dia bersama rasul Yohanes dan Yakobus, yang menjadi saksi mata keagungan surgawi pada transfigurasi Kristus.

 

Pada saat transfigurasi, Yesus diubahkan dalam kemuliaan di hadapan ketiga rasul. Efeknya sangat mencolok, Yesus menjadi begitu terang bersinar dalam penampakan-Nya, sehingga sulit bagi mereka untuk melihat langsung ke arah Yesus, sama seperti kita tidak dapat melihat langsung ke matahari, dengan mata telanjang.

 

Dalam Matius 17 ayat 2, Yesus dikatakan bersinar seperti matahari.

 

Dan Petrus mengutip apa yang dikatakan Allah Bapa kepada Yesus pada saat Transfigurasi.

 

“Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nya lah Aku berkenan.”

 

Kata-kata dari surga penting karena Yesus baru saja memberi tahu para murid-Nya bahwa Dia harus disalibkan, dan para pengikut-Nya juga harus memikul salib mereka untuk mengikuti Dia. (baca Markus 8 ayat 31 sampai ayat 38).

 

Murid-murid Yesus membutuhkan kata-kata penegasan dari Surga ini untuk mempertahankan kepercayaan mereka kepada Yesus, karena mereka perlu mendengar bahwa Yesus tetap berkenan di hadapan Bapa, meskipun Bapa mengatakan bahwa Yesus harus disalibkan.

 

Kata-kata dari Surga ini juga dengan jelas menempatkan Yesus di atas Hukum Taurat dan para Nabi.

 

Musa dan Elia muncul bersama Yesus pada saat transfigurasi Yesus, karena Musa dan Elia mewakili mereka yang diangkat kepada Allah. (baca Yudas 9 dan 2 Raja-raja 2 ayat 11).

 

Musa mewakili Hukum Taurat, dan Elia mewakili para Nabi.

 

Musa dan Elia juga terkait dengan nubuatan, dan memiliki hubungan yang kuat dengan para saksi. Baca Wahyu 11 ayat 3 sampai ayat 13.

 

Yesus membuktikan bahwa Dia adalah Pemberi hukum dan nabi yang lebih baik daripada hukum Taurat dan para nabi.

 

Yesus dulu dan sekarang adalah sama, sebagai Allah Putra terkasih.

 

Pada dasarnya, suara dari surga juga merupakan teguran bagi Petrus. (baca Markus 9 ayat 7). Namun apa yang dulunya teguran Yesus, menjadi kenangan manis bagi Petrus.

 

Ketika Petrus menulis tentang peristiwa transfigurasi ini, kita dapat merasakan bahwa kata-kata itu masih terngiang di telinga Petrus, karena selama transfigurasi ia telah melakukan kesalahan dengan menyamakan Yesus, dengan Musa dan Elia, yang muncul bersama-sama dengan Dia.

 

Sungguh menakjubkan bagi Petrus dan dua murid lainnya untuk melihat Yesus yang diubah rupa dan dimuliakan.

 

Sungguh menakjubkan bagi mereka untuk mendengar suara Allah Bapa dari surga.

 

Namun pengalaman itu sendiri tidak mengubah hidup mereka. Hanya dilahirkan kembali oleh Roh Allah yang dapat membuat perubahan itu, yang memberi mereka keberanian yang tak terukur.

 

Transformasi itu luar biasa, tetapi itu hanyalah permulaan bagi para murid, sampai mereka dilahirkan kembali. Hanya setelah mereka dilahirkan kembali, dan menjadi manusia baru, mereka dapat menjadi saksi mata yang sangat berani, dan siap menjadi martir karena kepercayaan mereka, dalam Ketuhanan Yesus Kristus.

 

 

Apa Yang Harus Kita Terapkan, Dalam Kehidupan Kita?

 

Sama seperti Petrus memperkenalkan dirinya sebagai hamba Kristus, kita juga harus menjalani kehidupan Kristen kita sebagai hamba yang terikat pada Kristus.

 

Bersama dengan orang Kristen lainnya, kita harus menerapkan semua ketekunan dalam mengembangkan karakter saleh dan iman yang matang, di dunia yang telah memberontak terhadap Tuhan dan segala yang suci.

 

Kita harus percaya bahwa Yesus adalah Kristus, Firman yang menjadi manusia, dan Anak Allah yang hidup.

 

Kita harus menyebarkan kabar baik Injil kasih karunia, dan pesan keselamatan yang mulia oleh kasih karunia melalui iman di dalam Kristus, dan menjelaskan bahwa kuasa Salib dan kedatangan Tuhan Yesus Kristus yang mengorbankan diri-Nya di Kalvari dan Kebangkitan yang mulia adalah satu-satunya hal yang layak untuk dihidupi, dan satu-satunya hal yang layak dipercaya sampai mati.

 

Sebagai anak-anak Allah yang dilahirkan kembali, kita telah diberkati dengan setiap berkat rohani di dalam Kristus, dan telah mendapatkan semua kekuatan yang kita perlukan untuk hidup kudus.

 

Yesus adalah kekuatan kita, yang cukup bagi kita untuk menghadapi situasi apa pun. Dengan tinggal di dalam Dia, kita dimampukan untuk mengakses kuasa-Nya, melalui pengenalan akan Dia, yang membawa kita keluar dari kegelapan menuju terang kemuliaan-Nya yang ajaib.

 

Kita harus membagikan kabar baik kepada orang-orang yang kita kasihi dan sayangi, dengan menekankan pentingnya Siapa Yesus itu. Dia adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.

 

 

Doa Hari Ini...

 

Tuhan Yesus,

terima kasih telah mengesampingkan kemuliaan dan keagungan yang Engkau miliki bersama Bapa di Surga, dan bersedia datang ke bumi untuk menjadi korban yang sempurna bagi dosa-dosa kami dengan mati di kayu Salib.

Terima kasih karena Engkau telah bangkit pada hari ketiga, sehingga kami dimungkinkan untuk memiliki hidup yang kekal, oleh iman kepada Kristus.

Terima kasih atas begitu banyak kesaksian dalam Alkitab yang ditulis oleh orang-orang yang menjadi saksi mata akan keagungan Kristus.

Kami menantikan hari yang mulia itu ketika kami juga akan melihat Kristus, muka dengan muka.

Terima kasih bahwa hari ini, Yesus Kristus bertindak sebagai Imam Besar surgawi atas nama Gereja, yang adalah Tubuh Kristus, dan bahwa Engkau berjanji akan datang kembali ke bumi sebagai Raja Yang Berdaulat.

Terima kasih karena Engkau telah menjadi Penebus kami, sehingga semua orang yang percaya kepada Kristus tidak binasa, tetapi memiliki hidup yang kekal.

Terima kasih karena Tuhan Yesus datang ke dunia sebagai pengganti dosa kami dan dosa seluruh dunia.

Semoga kami tidak pernah kehilangan rasa keagungan Yesus, atau meremehkan pengorbanan yang Engkau buat bagi kami dengan mengesampingkan kemuliaan Allah untuk datang ke dunia dan mati di kayu Salib bagi dosa-dosa kami.

 

 

Dalam nama Tuhan Yesus, kami telah berdoa.

 

Amin.

 

Kiranya Tuhan Menguatkan Kita, dan Kasih Karunia Tuhan Yesus, Menyertai Kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dusta Dan Kompromi, Tidak Mampu Menutupi Kekuatan Kebenaran. Matius 28: 11-15 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Dusta Dan Kompromi, Tidak Mampu Menutupi Kekuatan Kebenaran.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Matius 28, ayat 11 sampai ayat 15, yang berbunyi sebagai berikut:    Ketika mereka di tengah jalan, datanglah beberapa orang dari penjaga itu ke kota dan memberitahukan segala yang terjadi itu kepada imam-imam kepala.   Dan sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu   dan berkata: "Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur.   Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa."   Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Dan ceritera i...

Hidup Bijaksana, Di Dunia Yang Penuh Kebodohan. Efesus 5:15-16 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Hidup Bijaksana, Di Dunia Yang Penuh Kebodohan.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Efesus 5, ayat 15 sampai ayat 16, yang berbunyi sebagai berikut:    Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,   dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.     Demikian Pembacaan Alkitab. Hale luya.     Apa Isi Firman Tuhan ini, dan tentang apa.   Efesus 5, ayat 15 dan ayat 16, adalah bagian dari Alkitab Perjanjian Baru, khususnya dari kitab Efesus. Untuk memahami isi, makna, dan maksudnya, penting untuk mempertimbangkan konteks kitab yang lebih luas dan ayat-ayat spesifiknya.   Kitab Efesus ditulis oleh rasul Paulus, dan berfungsi sebagai surat kepada komunitas Kristen mula-mula di Efesus...

Kasih dan Perhatian Tuhan, Tercermin Dalam Keagungan Ciptaan-Nya. Kejadian 1: 14-19 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Kasih dan Perhatian Tuhan, Tercermin Dalam Keagungan Ciptaan-Nya.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Kejadian 1, ayat 14 sampai ayat 19, yang berbunyi sebagai berikut:      Berfirmanlah Allah: "Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun,  dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi." Dan jadilah demikian.   Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang.  Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi,   dan untuk menguasai siang dan malam, dan untu...