Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:
Mereka yang Mandul, Memiliki Lebih Banyak
Keturunan.
Ayat
Alkitab, yang kita baca hari ini, adalah dari Galatia 4, ayat 21 sampai ayat 31,
yang akan dibahas dalam 3 bagian.
Bagian
pertama dari ayat Alkitab yang akan kita baca, adalah Galatia 4, ayat 21, yang berbunyi sebagai berikut:
Katakanlah
kepadaku, hai kamu yang mau hidup di bawah hukum Taurat, tidakkah kamu mendengarkan hukum Taurat?
Apa
Isi Firman Tuhan ini, dan apa pesan-Nya untuk kita?
Di
sini Paulus menulis secara langsung, baik kepada mereka yang mempromosikan
legalisme maupun kepada mereka yang tunduk pada legalisme. Dia menunjuk kepada
mereka yang ingin hidup di bawah hukum Taurat, sebagai dasar hubungan mereka
dengan Tuhan.
Para
pendukung legalisme ini, merasa ada untungnya berada di bawah hukum, dalam hal
berhubungan dengan Tuhan.
Pertama,
mereka merasa lebih yakin bahwa mereka telah mematuhi hukum Taurat, jika mereka
menjalankannya secara lahiriah.
Kedua,
mereka akan merasa puas dan memuji diri sendiri, karena merasa telah menaati
aturan lebih baik dari orang lain, yang tidak melakukannya secara lahiriah, dan
tidak mengikuti tata cara ibadah yang ada. Akhirnya, mereka cenderung
menghargai usaha sendiri untuk selamat.
Jika
Anda termasuk di dalamnya, Anda akan menjadi orang Farisi abad ke-21.
Di
bawah hukum ini, Anda akan memiliki keyakinan bahwa apa yang Anda lakukan untuk
Tuhan, itulah yang membuat Anda benar di hadapan-Nya.
Tidak
seperti kita yang tunduk di bawah kasih karunia Allah, apa yang telah Allah
lakukan bagi kita di dalam Yesus Kristus itulah yang membuat kita benar di
hadapan-Nya dan diselamatkan.
Kalau
menurut hukum menurut legalitasnya, fokusnya adalah pada kinerja masing-masing
pengikutnya.
Sedangkan
yang di bawah kasih karunia Allah, fokusnya adalah pada apa yang telah Yesus
lakukan bagi kita masing-masing, melalui hidup-Nya, mati-Nya, dan
kebangkitan-Nya.
Bagi
umat yang taat pada hukum Taurat, hukum akan menjadi seperti tongkat teror, dengan
ancamannya:
'Jika
kamu berdosa kamu akan dihukum dengan pukulan.'
Sedangkan
hukum di mata umat Kristiani, tidak lagi seperti tongkat atau cambuk sebagai
ancaman, melainkan hanya berfungsi sebagai penuntun arah, yang berjalan terus
untuk membimbing kita. Jadi bukan tongkat hukum yang menggerakkan kita, tetapi
roh yang menggerakkan kita.
Di
sini Paulus mengingatkan baik orang Farisi Perjanjian Lama maupun orang Farisi
Perjanjian Baru, bahwa untuk memahami bagaimana berhubungan dengan Allah yang
Roh dan tidak kelihatan, sebaiknya lebih mendalami isi Alkitab, dengan
membacanya lebih sering, dan tidak dengan sembarangan menafsirkannya.
Bagian
kedua dari ayat Alkitab yang akan kita baca, adalah Galatia 4, ayat 22 sampai ayat 23, yang berbunyi
sebagai berikut:
Bukankah
ada tertulis, bahwa Abraham mempunyai dua anak, seorang dari perempuan
yang menjadi hambanya dan seorang dari perempuan yang merdeka?
Tetapi
anak dari perempuan yang menjadi hambanya itu diperanakkan menurut daging dan anak dari perempuan yang merdeka itu oleh karena janji.
Apa
Isi Firman Tuhan ini, dan apa pesan-Nya untuk kita?
Para
legalis, termasuk kaum Farisi abad baru, akan mengatakan bahwa mereka adalah
anak-anak Abraham, dan karena itu akan diberkati oleh Allah, sesuai dengan
janji-Nya kepada Abraham.
Dan
Paulus memang mengakui bahwa mereka adalah anak-anak Abraham, tetapi mereka
lupa bahwa Abraham memiliki dua anak laki-laki.
Putra
pertama Abraham lahir bukan dari istri pertamanya, tapi dari hamba istrinya,
atau lebih tepatnya budaknya Sarah.
Ibu
pengganti ini merupakan pemikiran yang salah arah, yaitu skema untuk
"menolong Tuhan", ketika istri Abraham, Sarah, tidak dapat mengandung
karena usianya mendekati 90 tahun.
Putra
Abraham yang lahir dari hamba ini, adalah seorang anak menurut daging dan
mewakili ketidakpercayaan pada janji dan kuasa Tuhan, dan mencoba membuat
jalannya sendiri di hadapan Tuhan.
Kontras
pertama yang ditarik Paulus antara kekristenan sejati, dan legalisme, adalah
kontras antara kebebasan dan perbudakan.
Putra
kedua Abraham bernama Ishak. Dia lahir, secara ajaib, dari istri Abraham,
Sarah, (yang adalah seorang wanita merdeka). Ishak adalah putra Abraham, dan
dia adalah putra yang dijanjikan oleh Tuhan, yang mewakili iman kepada Tuhan,
dan percaya pada mukjizat Tuhan untuk Abraham.
Kontras
kedua yang Paulus tarik antara kekristenan dan legalisme adalah, kontras antara
pekerjaan yang dilakukan melalui mujizat yang dijanjikan Allah, dan pekerjaan
yang dilakukan oleh daging.
Seorang
putra Abraham dilahirkan secara ajaib oleh seorang wanita merdeka, dan seorang
lagi dilahirkan atas nafsu kedagingan oleh seorang budak.
Kehidupan
Kristen sejati terhubung dengan mujizat yang dijanjikan oleh Tuhan dan bukan
daging, dan kehidupan Kristen sejati ditandai dengan kebebasan.
Meski
tidak terlihat jelas, legalisme hidup menurut daging, dan mengingkari janji
Tuhan bahwa Sarah akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan pemahaman ini
sebenarnya ingin mencoba membuat jalannya sendiri.
Orang-orang
Farisi ini hidup seperti keturunan Abraham, tetapi tidak seperti anak yang
dijanjikan, yaitu Ishak.
Legalisme
meninggikan standar yang kaku dan menganggap diri mereka spiritual karena telah
mengikutinya secara lahiriah, tanpa menyadari bahwa mereka telah menjadi budak
hukum itu sendiri. Mereka akan menghakimi orang-orang beriman yang tidak
mengikuti aturan-aturan kaku ini, berdasarkan standar-standar lahiriah ini.
Semakin
seseorang menjadi legalis, di lubuh hatinya yang terdalam akan semakin yakin
dia akan dikutuk. Semakin seseorang merasa hidupnya saleh, dan semakin dia
percaya pada hasil usahanya sendiri, tanpa dia sadari, di lubuh hatinya yang
terdalam semakin dia yakin akan penolakan Tuhan, dan bagian kekalnya adalah bersama
orang Farisi lainnya.
Bagian
ketiga dari ayat Alkitab yang akan kita baca, adalah Galatia 4, ayat 24 sampai ayat 31, yang berbunyi
sebagai berikut:
Ini
adalah suatu kiasan. Sebab kedua perempuan itu adalah dua ketentuan Allah: yang
satu berasal dari gunung Sinai dan melahirkan anak-anak perhambaan, itulah
Hagar—
Hagar
ialah gunung Sinai di tanah Arab--dan ia sama dengan Yerusalem yang sekarang,
karena ia hidup dalam perhambaan dengan anak-anaknya.
Tetapi
Yerusalem sorgawi adalah perempuan yang merdeka, dan ialah ibu kita.
Karena
ada tertulis: "Bersukacitalah, hai si mandul yang tidak pernah melahirkan!
Bergembira dan bersorak-sorailah, hai engkau yang tidak pernah menderita sakit
bersalin! Sebab yang ditinggalkan suaminya akan mempunyai lebih banyak anak
dari pada yang bersuami."
Dan
kamu, saudara-saudara, kamu sama seperti Ishak adalah anak-anak janji.
Tetapi
seperti dahulu, dia, yang diperanakkan menurut daging, menganiaya yang diperanakkan menurut Roh, demikian juga sekarang ini.
Tetapi
apa kata nas Kitab Suci? "Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya,
sebab anak hamba perempuan itu tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama
dengan anak perempuan merdeka itu."
Karena
itu, saudara-saudara, kita bukanlah anak-anak hamba perempuan, melainkan anak-anak perempuan merdeka.
Apa
Isi Firman Tuhan ini, dan apa pesan-Nya untuk kita?
Di
dalam Alkitab, sebuah perjanjian dimaksudkan sebagai "kontrak," yang
menetapkan aturan-aturan untuk hubungan kita dengan Allah.
Paulus
membawanya langsung ke masalah yang dihadapi orang Kristen Galatia.
Kaum
legalis ingin mereka berhubungan dengan Tuhan di bawah seperangkat aturan, dan
Paulus ingin kita, sebagai orang beriman, berhubungan dengan Tuhan di bawah
tuntunan Injil.
Untuk
memperjelas gambaran antara hukum Taurat dalam Perjanjian Lama dan Injil dalam
Perjanjian Baru, Paulus menggunakan kiasan, yang mewakili kedua perjanjian atau
ketentuan ini.
Perjanjian
atau ketentuan yang disebutkan pertama ini, diwakili oleh Hagar dan Ismael,
hanya melahirkan perbudakan. Oleh karena itu, penganutnya wajib memenuhi
persyaratan lahiriah, tetapi tidak pernah mampu memenuhi persyaratan yang
hakiki, untuk diterima oleh Tuhan. Ketentuan ini mengikat dan tidak akan
membebaskan penganutnya. Itu menempatkan merekq pada treadmill yang terus
berputar, yang membuat mereka harus selalu membuktikan diri untuk bisa
menyenangkan Tuhan.
Galatia
4 ayat 23 mencatatnya sebagai perjanjian menurut daging.
Kesepakatan
ini dikaitkan dengan Gunung Sinai dan Yerusalem saat ini, yaitu Yerusalem duniawi,
yang merupakan ibu kota agama Yudaisme. Ini adalah cara kebanyakan orang Yahudi
di zaman Paulus, yang berusaha untuk menjadi benar di hadapan Allah, percaya
pada kemampuan mereka untuk menyenangkan Allah dengan menaati hukum.
Di
sisi lain, Perjanjian atau ketentuan yang kedua, dikaitkan dengan Yerusalem, dan
Gunung Sion, yang keduanya bukan di bumi ini. Ini terkait dengan Yerusalem yang
di atas, yaitu Yerusalem Baru milik Allah sendiri di Surga.
Jika
sebelumnya, Paulus menjelaskan perbedaan antara Legalisme dan Kekristenan,
menggunakan kontras antara kebebasan dan perbudakan, dan kontras antara
pekerjaan yang dilakukan oleh mujizat yang dijanjikan oleh Tuhan, dan pekerjaan
yang dilakukan oleh kedagingan manusia,
selanjutnya
Paulus menggambarkan kontras yang ketiga, untuk membedakan kekristenan dari
legalisme, yaitu kontras antara langit dan bumi.
Kekristenan
sejati berasal dari surga dan bukan dari bumi ini.
Paulus
sekarang akan memberi tahu kita lebih banyak tentang perjanjian yang diwakili
oleh Yerusalem surgawi. Perjanjian ini membawa kebebasan, dan gratis.
Gratis
karena tak ternilai harganya, dan Tuhan Yesus sudah membayar harganya untuk
kita, sehingga kita tidak perlu membayarnya sendiri.
Sarah,
istri mandul Abraham, adalah ibu dari kita semua, yaitu orang percaya.
Perjanjian
yang kedua ingin mengatakan bahwa mereka yang mandul justru akan mempunyai
banyak anak.
Setiap
orang Kristen, dari segala abad, termasuk dalam perjanjian baru ini, yaitu
perjanjian Yerusalem surgawi.
Dan
setiap kelahiran di bawah perjanjian ini adalah keajaiban, seperti penggenapan
nubuat nabi Yesaya dalam Yesaya 54 ayat 1, yang berbunyi:
“Bersorak-sorailah,
hai si mandul yang tidak pernah melahirkan! Bergembiralah dengan
sorak-sorai dan memekiklah, hai engkau yang tidak pernah menderita
sakit bersalin! Sebab yang ditinggalkan suaminya akan mempunyai lebih banyak anak dari pada yang bersuami, firman TUHAN.”
Kutipan
dari Yesaya 54 ayat 1 ini, juga menyatakan bahwa akan ada lebih banyak orang
Kristen daripada orang Yahudi, atau pun mereka yang taat pada hukum Taurat. Ini
adalah janji yang sedang dan akan terus digenapi oleh Tuhan.
Ini
adalah kontras keempat yang diberikan oleh Paulus antara kekristenan dan
legalisme, yaitu bahwa mereka yang mandul justru akan memiliki anak lebih
banyak, dibandingkan dengan mereka yang memiliki anak.
Kelimpahan
dan kemuliaan Perjanjian Baru ditunjukkan oleh fakta bahwa ia akan segera
memiliki lebih banyak pengikut daripada Perjanjian Lama.
Apa
Yang Harus Kita Terapkan, Dalam Kehidupan Kita?
Sebagai
anak-anak Yerusalem surgawi, dan bukan Yerusalem duniawi, kita harus menerapkan
tiga hal yang akan membedakan kehidupan kita di bawah anugerah, dari kehidupan
mereka yang berada di bawah legalisme.
Pertama,
kita bersukacita atas janji Tuhan, dan atas kelahiran kembali kita.
Kedua,
kita meninggalkan belenggu hukum yang akan mengekang kita, dan memperoleh serta
menikmati kebebasan di bawah kasih karunia, sebagaimana dikatakan dalam Roma 6
ayat 14, yang berbunyi:
Sebab
kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah
hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.
Ketiga,
kita mengalami pengudusan Tuhan, karena Tuhan sendiri yang telah menetapkan
kita menjadi ahli waris kerajaan Allah.
Untuk
lebih memahami kehendak Tuhan bagi kita untuk dapat hidup di bawah kasih
karunia Tuhan, dan bukan di bawah hukum Taurat, kita harus meningkatkan waktu
mempelajari Alkitab kita. Bukalah Alkitab dan baca Kejadian pasal 16 tentang
Hagar dan Ismael, dan mintalah bimbingan Roh Kudus untuk membimbing kita, untuk
lebih memahami kehendak Tuhan di dalamnya.
Kita
perlu menyadari bahwa Alkitab adalah sumber hikmat yang paling kaya dan tidak
ada habisnya.
Doa Hari Ini...
Tuhan Yesus,
terima kasih karena melalui kematian dan
kebangkitan Tuhan, dosa tidak lagi mendikte dan menguasai kami,
dan kami tidak lagi berada di bawah
penghukuman Hukum Taurat karena tidak ada penghukuman bagi siapa yang ada di
dalam Kristus Yesus.
Jauhkan kami dari jerat dan kutukan
legalisme, dan semoga kami mampu menjalani hidup baru kami di dalam Kristus
dalam kebebasan.
Dalam nama Yesus, kami telah
berdoa.
Amin.
Kiranya Tuhan Menguatkan Kita, dan Kasih
Karunia Tuhan Yesus, Menyertai Kita.
Komentar
Posting Komentar