Langsung ke konten utama

Orang Sombong Itu Menipu Dirinya Sendiri - Galatia 6: 1-5

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:

 

Orang sombong itu menipu dirinya sendiri.

 

 

Ayat Alkitab, yang kita baca hari ini, adalah dari Galatia 6, ayat 1 sampai ayat 5, yang akan dibahas dalam 2 bagian.

 

 

Bagian pertama dari ayat Alkitab yang akan kita baca, adalah Galatia 6, ayat 1, yang berbunyi sebagai berikut:

 

 Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan. 

 

 

Apa Isi Firman Tuhan ini, dan apa pesan-Nya untuk kita?

 

Paulus menyadari bahwa mungkin ada orang Kristen di Galatia yang tanpa sadar melakukan pelanggaran, dan terjebak di dalamnya.

 

Nampaknya ini bukan kesalahan doktrinal, tetapi kesalahan yang jauh lebih kecil dimana seseorang dikalahkan oleh kelemahan dagingnya dan telah dicobai oleh iblis.

 

Paulus mengingatkan saudara-saudaranya yang lebih rohani, untuk tidak membiarkan mereka yang telah jatuh, tetapi juga berhati-hati agar tidak ikut jatuh.

 

Meski perbuatan saudara yang terjerat oleh nafsu daging tidak bisa dimaafkan, namun juga tidak bisa diabaikan begitu saja. Saudara-saudara yang telah jatuh itu tidak boleh dibiarkan tenggelam lebih jauh ke dalam pelanggaran mereka dan dibiarkan hancur.

 

Tujuannya selalu pemulihan.

 

Mereka yang jatuh harus ditertibkan, agar bisa kembali ke keadaan semula.

Menariknya, kata ‘membimbing’ di sini sama dengan kata yang digunakan dalam Markus 1 ayat 19, ketika para rasul sedang 'memperbaiki' jalanya.

 

Jadi jika ada saudara-saudara kita yang melakukan pelanggaran, mereka harus segera “diperbaiki”, agar dapat kembali berfungsi sebagai anak-anak Tuhan, pewaris kerajaan Surga.

 

Restorasi atau perbaikan, harus selalu dilakukan dengan semangat kelembutan, dengan kesadaran penuh akan kelemahan diri sendiri, dan untuk mencegah kehancuran diri sendiri.

 

Kita yang melakukan pemulihan harus waspada terhadap godaan kesombongan. Jangan merasa bahwa kita kuat secara rohani, karena pencobaan iblis begitu kuat sehingga orang yang rohani pun bisa jatuh.

 

Kata lemah lembut di sini, harus lahir dari kesadaran akan kelemahan dan kecenderungan kita sendiri untuk juga berbuat dosa.

 

 

Bagian kedua dari ayat Alkitab yang akan kita baca, adalah Galatia 6, ayat 2 sampai ayat 5, yang berbunyi sebagai berikut:

 

 Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.

 Sebab kalau seorang menyangka, bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri. 

 Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain.

 Sebab tiap-tiap orang akan memikul tanggungannya sendiri.

 

 

Apa Isi Firman Tuhan ini, dan apa pesan-Nya untuk kita?

 

Selanjutnya Paulus mengemukakan gagasan tentang kata saling memikul beban, karena ingin mengingatkan bahwa seseorang yang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, sama seperti seseorang yang jatuh karena sedang memikul beban yang sangat berat.

 

Tuhan selalu mengarahkan kita untuk fokus pada orang lain, dan bukan pada diri kita sendiri, dengan mengatakan,

 

“Bertolong-tolonganlah untuk saling menanggung beban.”

 

Perintah ini tidak hanya untuk dipatuhi, tetapi juga untuk mengingatkan kita bahwa kita semua memiliki beban dan bahwa Tuhan tidak bermaksud agar kita memikulnya sendirian, terutama ketika kita jatuh.

 

Selain itu saat kita saling menanggung beban, kita menggenapi hukum Kristus dalam Yohanes 13 ayat 34 dan ayat 35 yang berbunyi:

 

Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.

Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi. "

 

Di sini Paulus mengingatkan orang-orang Kristen Galatia, yang telah menjadi Legalis yang taat hukum, bahwa jika mereka ingin memenuhi hukum, itu akan mudah sekali. Lakukan saja untuk saling menanggung beban, karena dengan demikian mereka memenuhi hukum Kristus.

 

Mungkin Paulus ingin memberi tahu mereka para Legalis ini, bahwa daripada memaksakan hukum sebagai beban pada orang lain, lebih baik mereka memikul beban mereka satu sama lain, dlam arti saling tolong menolong, dan dengan demikian memenuhi hukum Kristus.

 

Paulus juga mengingatkan kita untuk tidak menganggap diri kita hebat, padahal tidak ada apa-apanya, kecuali menipu diri sendiri.

 

Kesombongan menghalangi kita untuk menjadi rendah hati dan bersedia menanggung beban satu sama lain dan memenuhi hukum Kristus. Kesombongan sering menghalangi kita untuk saling melayani sebagaimana mestinya.

 

Ada beberapa hal yang lebih menipu diri daripada kesombongan itu sendiri. Menjadi sombong berarti menjadi buta.

 

Buta akan kebaikan dan pemberian Tuhan kepada kita yang telah diberikan secara cuma-cuma, dan buta akan dosa dan kebobrokan diri, serta buta akan kebaikan orang lain, dan buta akan kebodohan keegoisan sendiri.

 

Kita akan marah ketika seseorang menipu kita. Namun kita tidak marah dan tidak menganggap serius ketika kita menipu diri kita sendiri. Menipu diri sendiri adalah hal yang sungguh mengerikan.

 

Kesengsaraan kebanyakan orang adalah, bahwa pikiran mereka seburuk mata mereka, tak satu pun dari mereka melihat ke dalam diri mereka sendiri.

 

Daripada menipu diri kita sendiri, kita harus memeriksa pekerjaan kita dengan hati-hati dan sadar di hadapan Tuhan. Jika kita tidak melakukan ini, dan jika kita terus menipu diri kita sendiri, maka kita mungkin mengira bahwa pekerjaan kita diperkenan oleh Tuhan, padahal sebenarnya tidak.

 

Alkitab berbicara tentang suatu hari ketika pekerjaan kita akan diuji di hadapan Allah. Ini adalah kursi pengadilan Kristus yang dijelaskan dalam Roma 14 ayat 10, dan 2 Korintus 5 ayat 10.

 

Pada hari itu, masing-masing akan memikul beban dan tanggung jawabnya sendiri.

 

Jadi, tidak ada kontradiksi antara saling memikul beban (dalam Galatia 6 ayat 2), dan dengan masing-masing memikul bebannya sendiri (dalam Galatia 6 ayat 5).

 

Dalam Galatia 6 ayat 5, Paulus berbicara tentang pertanggungjawaban terakhir kita di hadapan Allah, sedangkan dalam Galatia 6 ayat 2, dia berbicara tentang perlunya kita memperhatikan orang lain, sebagai sesama anggota tubuh Kristus.

 

 

Apa Yang Harus Kita Terapkan, Dalam Kehidupan Kita?

 

Kita tidak boleh bereaksi keras terhadap saudara-saudara kita yang jatuh ke dalam dosa, karena kita juga lemah dan bisa jatuh ke dalam dosa yang sama atau berbeda.

 

Kita harus mengutamakan keutuhan tubuh Kristus.

 

Jadi, jika seseorang melakukan kesalahan, jangan menambah kesedihannya, jangan memarahinya, jangan menghukumnya, tetapi bicaralah padanya dengan lembut dan bimbing dia untuk kembali ke keyakinannya semula.

 

Kita tidak boleh pasif dan mengabaikan kemungkinan saudara-saudari kita jatuh ke dalam dosa. Kita harus proaktif mencari saudara-saudari kita yang memiliki beban, dan membantu mereka.

 

Kita tidak boleh menganggap diri kita lebih penting dari orang lain, dan merasa pantas mendapat perhatian lebih dari orang lain. Sebaliknya, kerendahan hati alkitabiah memberi tahu kita, “Saya tidak lebih penting dari orang lain. Biarkan saya peduli dengan beban dan kebutuhan mereka.”

 

Kita tidak boleh sombong. Kesombongan akan menghalangi pelayanan dalam bentuknya yang lain. Karena kesombongan juga akan membuat orang yang memiliki harga diri, akan menolak untuk menerima bantuan ketika kita mengulurkan tangan untuk membantu menanggung bebannya.

 

Kita harus ingat pepatah gotong royong yang mengatakan, ‘berat sama sipikul, ringan sama dijinjing.’

 

 

Doa Hari Ini...

 

Tuhan Yesus,

kami berdoa agar kami dapat bertumbuh dalam kasih karunia dan menjalani hidup kami sebagaimana Engkau inginkan, dalam roh dan kebenaran.

Bantu kami untuk menjadi baik, penuh kasih, ramah, dan murah hati terhadap saudara dan saudari kami di dalam Kristus. Semoga kami mencintai orang lain dengan cara yang sama seperti Kristus mencintai kami dan memberikan diri-Nya untuk kami. Bantu kami untuk menunjukkan semangat pengampunan dan rahmat, menghormati orang lain di atas diri saya sendiri. Berilah kami roh kelembutan dan kasih dalam hubungan kami dengan orang lain, terutama mereka yang menyimpang dari jalan kebenaran. Jagalah agar kami tetap rendah hati di hadapan Tuhan, jangan sampai kami tergoda untuk berbuat dosa sehingga mencemarkan nama Tuhan yang kudus.

Tuhan Yesus, terima kasih atas pelajaran yang kami pelajari dan pentingnya menjadi orang Kristen yang rohani dan memenuhi hukum Kristus dengan tinggal di dalam Dia dan tunduk pada bimbingan Roh Kudus. Semoga kami tumbuh dalam kasih karunia dan hikmat, kerendahan hati dan kelembutan, sehingga dalam kuasa Roh Kudus kami dapat secara rohani mendukung yang lemah, membantu yang menderita, menanggung beban saudara dan saudari kami di dalam Kristus, memulihkan mereka yang memiliki telah dicobai ke dalam dosa, dan dengan demikian menggenapi hukum kasih saleh yang seperti Kristus untuk pujian dan kemuliaan-Mu.

Dalam nama Tuhan Yesus, kami telah berdoa.

 

Amin.

 

Kiranya Tuhan Menguatkan Kita, dan Kasih Karunia Tuhan Yesus, Menyertai Kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dusta Dan Kompromi, Tidak Mampu Menutupi Kekuatan Kebenaran. Matius 28: 11-15 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Dusta Dan Kompromi, Tidak Mampu Menutupi Kekuatan Kebenaran.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Matius 28, ayat 11 sampai ayat 15, yang berbunyi sebagai berikut:    Ketika mereka di tengah jalan, datanglah beberapa orang dari penjaga itu ke kota dan memberitahukan segala yang terjadi itu kepada imam-imam kepala.   Dan sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu   dan berkata: "Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur.   Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa."   Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Dan ceritera i...

Hidup Bijaksana, Di Dunia Yang Penuh Kebodohan. Efesus 5:15-16 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Hidup Bijaksana, Di Dunia Yang Penuh Kebodohan.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Efesus 5, ayat 15 sampai ayat 16, yang berbunyi sebagai berikut:    Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,   dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.     Demikian Pembacaan Alkitab. Hale luya.     Apa Isi Firman Tuhan ini, dan tentang apa.   Efesus 5, ayat 15 dan ayat 16, adalah bagian dari Alkitab Perjanjian Baru, khususnya dari kitab Efesus. Untuk memahami isi, makna, dan maksudnya, penting untuk mempertimbangkan konteks kitab yang lebih luas dan ayat-ayat spesifiknya.   Kitab Efesus ditulis oleh rasul Paulus, dan berfungsi sebagai surat kepada komunitas Kristen mula-mula di Efesus...

Kasih dan Perhatian Tuhan, Tercermin Dalam Keagungan Ciptaan-Nya. Kejadian 1: 14-19 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Kasih dan Perhatian Tuhan, Tercermin Dalam Keagungan Ciptaan-Nya.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Kejadian 1, ayat 14 sampai ayat 19, yang berbunyi sebagai berikut:      Berfirmanlah Allah: "Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun,  dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi." Dan jadilah demikian.   Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang.  Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi,   dan untuk menguasai siang dan malam, dan untu...