Langsung ke konten utama

Masing-masing Menanggung Dosanya Sendiri. Yeremia 31: 29-30

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:

 

Masing-masing Menanggung Dosanya Sendiri.

 

 

Ayat Alkitab yang kita baca hari ini adalah dari Yeremia 31 ayat 29 sampai ayat 30, yang mencatat sebagai berikut:

 

 Pada waktu itu orang tidak akan berkata lagi: Ayah-ayah makan buah mentah, dan gigi anak-anaknya menjadi ngilu,

 melainkan: Setiap orang akan mati karena kesalahannya sendiri; setiap manusia yang makan buah mentah, giginya sendiri menjadi ngilu. 

 

 

Apa Yang Telah Kita Baca? Dan Tentang Apa dan Siapa

 

Yeremia adalah nabi yang menangis saat menyaksikan kejatuhan Yerusalem, dan penghancuran bait suci. Peringatan akan kemurtadan mengalir melalui tulisannya, dan dialah yang menyebut Kesengsaraan Besar sebagai 'Masa Kesusahan Yakub.'

 

Dia juga salah satu dari banyak nabi yang berbicara tentang pemulihan Israel ke tanah itu. Dia menubuatkan bahwa para tawanan bangsanya akan dikumpulkan kembali ke tanah air mereka. Dia berbicara tentang waktu ketika bangsa itu akan dipulihkan, dan Tuhan akan membuat Perjanjian Baru dengan orang Israel dan orang Yehuda.

 

"Lihatlah, waktunya akan tiba," kata Tuhan, melalui mulut Yeremia, "ketika Aku akan membuat Perjanjian Baru dengan bani Israel dan bani Yehuda."

 

Yeremia menubuatkan pendudukan Babilonia yang mendekat dengan cepat di Kerajaan Yehuda selatan, ketika Nebukadnezar akan mengalahkan Israel Selatan dan membawa rakyatnya ke dalam perbudakan.

 

Pada saat Yeremia menyampaikan nubuat ini, Kerajaan Israel utara, telah ditaklukkan dan ditumpas oleh tentara Asyur yang jahat, dan penglihatan ini menyakitkan Yeremia.

 

Sebagai bangsa pilihan Tuhan, Israel telah membuat perjanjian bersyarat dengan Tuhan, di Sinai. Mereka telah berjanji untuk menaati semua yang Allah katakan, dan Allah menjanjikan berkat jika Israel taat, tetapi dengan peringatan akan menimpakan kutukan bagi yang tidak taat.

 

Perjanjian Lama, yang diberikan melalui Musa, dimeteraikan dengan darah dari banyak lembu jantan yang dipersembahkan sebagai korban, namun, orang-orang telah menyimpang jauh dari syarat-syarat perjanjian mereka yang disepakati dengan Tuhan. Dalam hal ini Allah terpaksa melaksanakan hukuman sesuai sumpah-Nya, atas orang Israel yang durhaka.

 

Akan tetapi, tulisan-tulisan kenabian Yeremia juga menaruh harapan di hati umat sisa Israel yang setia, yang harus menanggung kehancuran yang mengerikan ini, karena Allah berjanji untuk membuat Perjanjian Baru dengan Israel yang mau bersatu.

 

Itu adalah maksud Tuhan untuk sekali lagi menyatukan dua kerajaan yang terbagi dua. Tuhan berjanji akan mempersatukan mereka kembali sebagai satu bangsa di bawah kekuasaan Raja yang diurapi Tuhan, Yang kita kenal, yaitu Yesus Kristus.

 

Renungan hari ini ingin menekankan akan kebenaran Perjanjian Baru ini.

 

Di sini nampaknya Yeremia mengutip perkataan yang diterima secara umum pada masanya, yaitu: "Ayah makan buah mentah, dan gigi anaknya sakit,"

 

Pepatah atau sindiran ini mempromosikan gagasan bahwa penghakiman Tuhan atas Yehuda pada waktu itu adalah karena dosa nenek moyang mereka di masa lalu, walau pun generasi mereka sendiri relatif tidak bersalah.

 

Inilah yang ingin disangkal oleh nabi Yeremia, dengan menyampaikan ide-ide dari Perjanjian Baru, di mana Tuhan dengan jelas menunjukkan bahwa Dia akan menghakimi individu atas dosa mereka sendiri.

 

Konsep yang sama disampaikan oleh nabi Yehezkiel dalam kitab Yehezkiel 18 ayat 1 sampai dengan ayat 3 yang berbunyi sebagai berikut:

 

Maka datanglah firman TUHAN kepadaku:  "Ada apa dengan kamu, sehingga kamu mengucapkan kata sindiran ini di tanah Israel: Ayah-ayah makan buah mentah dan gigi anak-anaknya menjadi ngilu? Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, kamu tidak akan mengucapkan kata sindiran ini lagi di Israel. 

 

Jadi, siapapun yang memakan buah asam, giginya sendiri yang akan merasa ngilu, atau setiap orang, akan mati karena kesalahannya sendiri.

 

 

Apa pesan Tuhan bagi kita?

 

Memang, Alkitab mengajarkan bahwa ada dosa turun-temurun, artinya semua manusia dilahirkan dalam keadaan berdosa.

 

Jika kondisi Adam dan Hawa di taman Eden tidak berdosa, tetapi dimungkinkan untuk berbuat dosa, karena pintu untuk berbuat dosa terbuka, dan kondisi manusia sebelum Yesus datang ke dunia, 'mustahil, untuk tidak berbuat dosa,' karena pintu untuk bisa hidup tanpa dosa, dalam kondisi tertutup, dan hanya bisa dibuka dari sisi Tuhan.

 

Jadi orang Kristen tidak boleh percaya bahwa bayi lahir dalam keadaan suci, seperti kertas putih tanpa cacat.

 

Setelah Yesus mati di kayu salib, dikuburkan dan dibangkitkan dari kematian, maka kondisi manusia adalah, dimungkinkan untuk hidup tanpa dosa, dengan syarat percaya bahwa Yesus adalah Tuhan sendiri yang sanggup menebus dosa manusia. Dan yang telah membuka pintu, yang memungkinkan kita hidup suci tanpa dosa. Karena Yesus adalah Tuhan itu sendiri, yang berkuasa untuk membuka pintu kehidupan bagi kita yang percaya.

 

Itulah sebabnya umat Kristiani yang sudah lahir baru yang kondisinya masih berdosa harus berusaha untuk pindah, atau hijrah ke keadaan tanpa dosa, karena sudah disucikan dalam darah Yesus.

 

Ibrani 9 ayat 14 mencatat sebagai berikut:

 

”betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati Nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup.”

 

Tanpa dibasuh oleh darah Yesus yang dikatakan berlebih, mustahil bagi kita untuk menyembah Allah yang hidup.

 

Jadi jelas bahwa dalam hal tanggungjawab atas dosa, anak tidak dapat menanggung dosa orang tuanya, begitu pula sebaliknya, orang tua tidak dapat menanggung dosa anaknya.

 

Oleh karena itu, umat Kristiani tidak perlu mendoakan orang tuanya yang sudah meninggal, karena itu hanya mubazir. Yang perlu adalah bahwa anak-anak harus berbakti dan melayani orang tua mereka sepanjang hidup mereka.

 

 

Apa Yang Harus Kita Terapkan, Dalam Kehidupan Kita?

 

Kita harus bersyukur karena kita telah diberkati secara luar biasa oleh Perjanjian Baru ini, yang diberikan Allah kepada umat-Nya.

 

Kita harus menjadi pelayan Perjanjian Baru Tuhan yang setia, dan kita harus dengan iman, menerima berkat yang berlipat ganda, yang Tuhan janjikan kepada semua orang yang percaya dalam nama Yesus.

 

Kita harus menjadi pendamai, yang selalu mengusahakan perdamaian, baik di intern gereja sendiri dan dengan jemaat gereja tetangga lainnya, Tuhan telah mendamaikan kita dengan diri-Nya sendiri, oleh darah Yesus Kristus.

 

Sebagai jemaat dari gereja Tuhan, kita harus melihat bahwa gereja Tuhan, di mana saja, dan dari denominasi mana pun, sebagai satu tubuh Kristus.

 

Kita harus percaya bahwa persatuan dan kerukunan akan membawa berkat besar bagi gereja-gereja Tuhan di Indonesia, khususnya, dan di dunia, umumnya.

 

 

Doa Hari Ini...

 

Tuhan Yesus,

Terima kasih, karena sebagai Tuhan yang agung, Engkau rela menjadi manusia, mau menderita sebagai korban, sehingga darah Tuhan sendirilah yang memeteraikan Perjanjian baru.

Terima kasih, karena Tuhan mau datang ke bumi sebagai Mesias dan penyelamat, bukan hanya untuk orang Yahudi, tapi juga untuk kita, non-Yahudi.

Kesetiaan Tuhan, dan janji-janji yang Tuhan berikan kepada kami, benar-benar di luar pemahaman kami.

Tuhan yang rela mati bagi dosa-dosa kami, melalui kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, kiranya memampukan kami, untuk juga bangkit menuju hidup yang kekal.

 

Dalam nama Tuhan Yesus, kami telah berdoa.

 

Amin.

 

Kiranya Tuhan Menguatkan Kita, dan Kasih Karunia Tuhan Yesus, Menyertai Kita.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dusta Dan Kompromi, Tidak Mampu Menutupi Kekuatan Kebenaran. Matius 28: 11-15 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Dusta Dan Kompromi, Tidak Mampu Menutupi Kekuatan Kebenaran.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Matius 28, ayat 11 sampai ayat 15, yang berbunyi sebagai berikut:    Ketika mereka di tengah jalan, datanglah beberapa orang dari penjaga itu ke kota dan memberitahukan segala yang terjadi itu kepada imam-imam kepala.   Dan sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu   dan berkata: "Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur.   Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa."   Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Dan ceritera i...

Hidup Bijaksana, Di Dunia Yang Penuh Kebodohan. Efesus 5:15-16 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Hidup Bijaksana, Di Dunia Yang Penuh Kebodohan.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Efesus 5, ayat 15 sampai ayat 16, yang berbunyi sebagai berikut:    Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,   dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.     Demikian Pembacaan Alkitab. Hale luya.     Apa Isi Firman Tuhan ini, dan tentang apa.   Efesus 5, ayat 15 dan ayat 16, adalah bagian dari Alkitab Perjanjian Baru, khususnya dari kitab Efesus. Untuk memahami isi, makna, dan maksudnya, penting untuk mempertimbangkan konteks kitab yang lebih luas dan ayat-ayat spesifiknya.   Kitab Efesus ditulis oleh rasul Paulus, dan berfungsi sebagai surat kepada komunitas Kristen mula-mula di Efesus...

Kasih dan Perhatian Tuhan, Tercermin Dalam Keagungan Ciptaan-Nya. Kejadian 1: 14-19 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Kasih dan Perhatian Tuhan, Tercermin Dalam Keagungan Ciptaan-Nya.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Kejadian 1, ayat 14 sampai ayat 19, yang berbunyi sebagai berikut:      Berfirmanlah Allah: "Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun,  dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi." Dan jadilah demikian.   Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang.  Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi,   dan untuk menguasai siang dan malam, dan untu...