Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini,
adalah:
Mengapa hal-hal buruk terjadi pada orang baik?
Ayat Alkitab, yang kita baca hari ini, adalah dari Lukas 4, ayat 40 sampai ayat 41, yang berbunyi sebagai berikut:
Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.
Ia mendapat tujuh anak laki-laki dan tiga anak perempuan.
Ia memiliki tujuh ribu ekor kambing domba, tiga ribu ekor unta, lima ratus pasang lembu, lima ratus keledai betina dan budak-budak dalam jumlah yang sangat besar, sehingga orang itu adalah yang terkaya dari semua orang di sebelah timur.
Anak-anaknya yang lelaki biasa mengadakan pesta di rumah mereka masing-masing menurut giliran dan ketiga saudara perempuan mereka diundang untuk makan dan minum bersama-sama mereka.
Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan menguduskan mereka; keesokan harinya, pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya: "Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati." Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa.
Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap TUHAN dan di antara mereka datanglah juga Iblis.
Apa Isi Firman Tuhan ini, dan apa pesan Tuhan bagi kita?
Kitab Ayub dimulai dengan memperkenalkan tokoh utamanya. Bisa jadi penulis kitab tersebut adalah Ayub sendiri, atau seorang yang anonym, yang diminta untuk mencatat pengalaman hidup Ayub.
Kitab Ayub dipahami sebagai mahakarya puisi Ibrani, dan merupakan kitab puisi pertama yang dimasukkan ke dalam Alkitab.
Dilihat dari gaya bahasa Ibrani yang digunakan, beberapa ahli menganggap kitab Ayub sebagai kitab tertua dalam Perjanjian Lama, dan kemungkinan besar ditulis sebelum zaman Abraham.
Oleh karena itu, pelajaran tersebut merupakan pelajaran tertua yang ada, dan sangat menarik untuk kita pelajari, khususnya memasuki tahun 2023.
Ini mungkin catatan tertulis paling awal dari semua hubungan manusia dengan Yahweh, sebagai satu-satunya Tuhan yang benar.
Tampaknya hubungan Ayub dengan Tuhan tidak tergantung pada karakter Perjanjian Lama lainnya, jadi kemungkinan besar Ayub hidup sebelum zaman Musa dan bangsa Israel, bahkan mungkin sebelum Abraham.
Beberapa ahli percaya bahwa, Yobab yang disebutkan dalam Kejadian 10, ayat 29, adalah Ayub, yang akan menempatkannya di era antara Nuh dan Abraham.
Jika pendapat ini benar, maka mengingat hubungan Ayub yang dalam dan tulus dengan Tuhan, kemungkinan besar hal itu diturunkan kepadanya, dari nenek moyangnya, sejak zaman Nuh dan Sem, putranya Nuh.
Ayub tercatat sebagai orang yang saleh, jujur, takut akan Tuhan, dan menjaga dirinya dari kejahatan. Penulis memberikan gambaran yang mengesankan tentang bagaimana seorang manusia yang tidak sempurna, tetapi memiliki pengabdian, penghormatan, dan ketaatan yang lengkap dan utuh kepada Tuhan.
Pernyataan yang kuat tentang kesalehan Ayub ini penting untuk memahami kisah selanjutnya.
Dalam budaya di mana status dan kekayaan juga diukur dengan ukuran keluarga seseorang, Ayub, yang memiliki tujuh putra dan tiga putri, adalah seorang pria dengan kekayaan dan status yang sangat mengesankan.
Dengan memiliki tujuh ribu domba, tiga ribu unta, lima ratus pasang lembu, lima ratus keledai betina dan sejumlah besar budak, Ayub bukan hanya orang yang terkemuka dan terkaya, tetapi dia adalah orang yang terbesar dari semua orang di Timur, pada zamannya.
Anak-anak Ayub memiliki hubungan yang sangat erat dan bahagia. Mereka dengan senang hati merayakan hari-hari istimewa saudara mereka. Mungkin pesta yang disebutkan, diadakan pada hari yang ditentukan itu, adalah hari ulang tahun mereka.
Tidak ada catatan bahwa pesta itu pesta mabuk-mabukan, atau bahwa keluarga Ayub menjalani kehidupan yang menyenangkan, menghabiskan seluruh waktunya dengan bermalas-malasan, dan tidak bekerja.
Hal ini memperkuat gagasan bahwa, Ayub dan keluarganya adalah keluarga ideal yang sangat diberkati Tuhan.
Meskipun anak-anak Ayub tidak menunjukkan bahwa mereka mengadakan pesta hura-hura, tetap saja Ayub memanggil putra-putranya dan menguduskan mereka, dan keesokan paginya, Ayub akan mempersembahkan korban bakaran, sebanyak jumlah anak-anaknya. Hal ini selalu dia lakukan.
Di sini terlihat bahwa Ayub, juga berperan dan melayani sebagai imam bagi keluarganya, yang tidak ingin anak-anaknya berbuat dosa terhadap Tuhan, dan membutuhkan penebusan secara terus-menerus.
Selain yang terjadi pada kisah Ayub di alam fisik, ada satu hari dimana terjadi peristiwa di alam non fisik, yaitu di Surga.
Pemandangan di Surga ini, tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, baik oleh Ayub, maupun oleh siapa pun di bumi, namun nyata seperti halnya alam fisik.
Saat itu konon, anak-anak Allah datang ke hadapan Tuhan. Ungkapan anak-anak Allah dalam Perjanjian Lama, digunakan untuk menggambarkan makhluk malaikat. (Baca Kejadian 6, ayat 1 sampai 4, dan Ayub 38, ayat 7).
Dan setan juga hadir di antara kelompok malaikat ini.
Melalui kisah Ayub, kita belajar bahwa masalah Ayub, dan semua masalah yang kita hadapi di dunia ini, hanya dapat dipahami dengan baik, dengan juga mempertimbangkan apa yang terjadi di Surga.
Kita hanya bisa memahaminya, jika kita memiliki perspektif yang lebih tinggi dari perspektif duniawi.
Dengan sudut pandang yang benar, kita akan belajar bahwa masalah Ayub bukanlah masalah keuangan atau sosial, atau masalah kesehatan.
Masalah utamanya adalah teologis. Ayub harus menghadapi kenyataan bahwa dalam hidupnya, Tuhan tidak bertindak seperti yang selalu dia pikirkan, dan apa yang dia ingin agar Tuhan lakukan.
Kitab Ayub bukanlah catatan tentang solusi dan penjelasan atas masalah yang ada. Ini lebih merupakan wahyu dari pengalaman Ayub, dan jawaban yang terkandung dalam pengalamannya.
Kisah Ayub ini bukan fiksi atau sekedar perumpamaan moral, tetapi bagian dari sejarah yang benar dan nyata. Terbukti dari adanya kesaksian ganda, yaitu kesaksian kenabian dari nabi yeheskiel, (baca Yehezkiel 14 ayat 14), dan kesaksian apostolik dari rasul Yakobus, (baca Yakobus 5 ayat 11). Keduanya membuktikan akan adanya benang merah dari peristiwa Ayub ini.
Fakta bahwa Iblis hadir di antara mereka yang menghadap Tuhan, menunjukkan bahwa Iblis sendiri adalah makhluk malaikat, dan sama sekali tidak setara dengan Tuhan.
Di sini kita belajar bahwa Iblis bukanlah lawan yang sebanding dengan Tuhan.
Tuhan ingin kita tahu bahwa Iblis hanyalah makhluk ciptaan, dan sama sekali bukan lawan Tuhan. Jika Iblis memiliki lawan, itu bukanlah Allah Bapa atau Allah Anak, tetapi akan menjadi lawan yang sebanding dengan malaikat tingkat tinggi seperti Michael.
Fakta bahwa mereka datang untuk menghadap Tuhan, menunjukkan bahwa, makhluk malaikat, termasuk malaikat yang jatuh, memiliki akses ke hadirat Tuhan. (Baca 1 Raja-raja 22 ayat 21, dan Zakharia 3 ayat 1).
Hanya kita yang hidup di zaman Perjanjian Baru tahu bahwa, saat ini Iblis dan para pengikutnya terbatas perannya di bumi. (Baca Wahyu 12 ayat 9).
Ada banyak pelajaran yang bisa kita petik dari kitab Ayub, termasuk penderitaan hebat yang dialami Ayub.
Kita diberikan wawasan yang luas tentang dunia rohani, yaitu bagaimana menjaga iman berdasarkan Firman Tuhan, dan dalam memuliakan nama Tuhan.
Kita pun menyadari bahwa musuh kita bukanlah darah daging, melainkan Iblis yang ingin menghancurkan iman kita.
Itu sebabnya rasul Paulus mengingatkan kita dalam Efesus 6 ayat 11 dan 12, dengan mengatakan:
Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.
Kisah Ayub yang akan dibahas sepanjang minggu pertama tahun 2023 ini, akan sangat membantu dalam menjawab pertanyaan banyak orang, seperti misalnya:
'Mengapa hal-hal buruk terjadi pada orang baik?’
‘Mengapa hamba-hamba Allah yang setia harus menderita, sedangkan orang fasik tampaknya hidup tanpa masalah?'
Kisah ini juga membantu kita mengidentifikasi persepsi yang salah tentang Tuhan, bahwa berkat Tuhan hanya untuk orang benar, sedangkan hukuman Tuhan hanya cocok untuk orang fasik.
Ini adalah pesan Tuhan yang sangat penting bagi kita, saat memasuki tahun 2023, yang dikategorikan sebagai Tahun Kegelapan.
Apa Yang Harus Kita Terapkan, Dalam Kehidupan Kita?
Kita perlu belajar dari Ayub, yang tidak bercela, jujur, takut akan Tuhan, dan menjauhi kejahatan, namun diizinkan oleh Tuhan untuk dicobai oleh Iblis dan menderita.
Karena itu, kita perlu terus menerus bertanya pada diri sendiri, "Apakah saya adalah orang yang saleh?"
“Apakah saya hanya melayani Tuhan, karena telah menerima kebaikan Tuhan?”
“Apakah saya tetap setia kepada TUHAN, apa pun yang terjadi dalam hidup saya?”
Untuk membuktikan bahwa kita berkomitmen untuk melayani Tuhan dengan sepenuh hati, kita harus siap, ketika Tuhan mengizinkan Setan mengguncang hidup kita, sebagai kesempatan bagi kita untuk membuktikan, bahwa kita mencintai Tuhan lebih dari pemberian-Nya.
Kita harus belajar dari Ayub bahwa harta tidak boleh menentukan kualitas batin kita. Kita harus meniru Ayub, yang menghargai Tuhan lebih dari kekayaan, harta benda, atau bahkan ukuran kesejahteraan keluarganya.
Kita harus menyadari bahwa, si kaya dan si miskin, sama-sama memiliki kesempatan untuk memiliki karakter yang saleh.
Kita harus mengutamakan, diterima di hadapan Tuhan dan hidup benar di hadapan sesama manusia, dan bukan berusaha menjadi kaya.
Kita harus menyadari bahwa ada konflik yang terjadi di alam roh, yang tidak terlihat oleh kita, dan bahwa pertempuran antara yang baik dan yang jahat, sedang dan akan terus berlangsung.
Kita harus menjalani kehidupan yang saleh agar berdampak pada orang lain, dan untuk itu kita menyadari pentingnya doa syafaat, untuk keluarga kita, saudara seiman dan sebangsa kita, dan juga berdoa untuk negara kita.
Menjalani tahun 2023 yang penuh dengan ketidakpastian, kita perlu memiliki perspektif sorgawi, agar kita tetap dapat melihat kebaikan Tuhan, ketika kita tidak mendapatkan dari Tuhan apa yang kita pikir pantas kita terima, malah mendapatkan apa yang kita pikir tidak pantas untuk kita terima.
Dengan perspektif sorgawi, kita akan dapat memuji Tuhan, karena kasihNya kepada kita, ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita.
Kita harus selalu bersyukur dan bersukacita, atas anugerah Tuhan yang tak terukur, atas kebaikan-Nya yang tak terbatas dan tiada habisnya, atas panjang sabar Tuhan, keadilan TUhan yang sempurna, dan kebenaran Tuhan yang abadi.
Doa Hari Ini...
Bapa Surgawi,
Terima kasih atas banyaknya pelajaran, yang dapat kami pelajari dari kitab Ayub.
Terima kasih atas pelajaran tentang keberadaan alam roh yang sebenarnya. Terima kasih bahwa dosa dan kekuasaan setan atas bumi akan segera berakhir.
Ajari kami untuk tidak menyalahartikan kasih karunia dan kebaikan Tuhan kepada umat manusia. Ampuni kami, atas keterbatasan pemahaman dan persepsi kami, dalam memahami persoalan hidup kami, agar kami tidak salah dalam menanggapi kebaikan Tuhan dalam pergumulan hidup kami.
Terima kasih atas kebaikan, rahmat, kesabaran, belas kasihan, hikmat dan kekuatan Tuhan bagi kami sekalian.
Tolong kami, agar kami hidup bagi Yesus dan sesama kami, tidak peduli rasa sakit dan penderitaan apa pun yang mungkin harus kami alami.
Dalam nama Tuhan Yesus, kami telah berdoa.
Amin.
Kiranya Tuhan Menguatkan Kita, dan Kasih Karunia Tuhan Yesus, Menyertai Kita.
Komentar
Posting Komentar