Langsung ke konten utama

Kedaulatan dan Kemahatahuan Allah. - Ayub 38: 1-11 - SBU GPIB Sangkakala

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini,

adalah:

 

"Kedaulatan dan Kemahatahuan Allah."

 

 

Ayat Alkitab, yang kita baca hari ini, adalah dari Ayub 38, ayat 1 sampai ayat 11, yang berbunyi sebagai berikut:

 

 Maka dari dalam badai TUHAN menjawab Ayub:

 "Siapakah dia yang menggelapkan keputusan dengan perkataan-perkataan yang tidak berpengetahuan?

 Bersiaplah engkau sebagai laki-laki! Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku.

 Di manakah engkau, ketika Aku meletakkan dasar bumi? Ceritakanlah, kalau engkau mempunyai pengertian!

 Siapakah yang telah menetapkan ukurannya? Bukankah engkau mengetahuinya? --Atau siapakah yang telah merentangkan tali pengukur padanya?

  Atas apakah sendi-sendinya dilantak, dan siapakah yang memasang batu penjurunya

 pada waktu bintang-bintang fajar bersorak-sorak bersama-sama, dan semua anak Allah bersorak-sorai?

 Siapa telah membendung laut dengan pintu, ketika membual ke luar dari dalam rahim?

 ketika Aku membuat awan menjadi pakaiannya dan kekelaman menjadi kain bedungnya;

  ketika Aku menetapkan batasnya, dan memasang palang dan pintu; 

 ketika Aku berfirman: Sampai di sini boleh engkau datang, jangan lewat, di sinilah gelombang-gelombangmu yang congkak akan dihentikan!

 

 

Demikian Pembacaan Alkitab. Haleluya.

 

 

Apa Isi Firman Tuhan ini, dan tentang apa?

 

Dalam perikop ini, kita melihat Tuhan berbicara kepada Ayub dari dalam angin puyuh. Tuhan mengajukan serangkaian pertanyaan kepada Ayub, dimulai dengan 'Siapakah dia, yang menggelapkan nasihat, dengan kata-kata tanpa pengetahuan?'

 

Melalui pertanyaan-pertanyaan ini, Tuhan ingin mengingatkan, atau menyadarkan Ayub akan pemahaman pribadi dan kekuatan sendiri yang terbatas, dibandingkan dengan hikmat dan kuasa Tuhan yang tak terbatas.

 

Tuhan bertanya kepada Ayub, di mana Ayub berada, ketika Tuhan meletakkan dasar bumi, dan siapa yang menentukan ukurannya. Tuhan bertanya kepada Ayub, siapa yang merentangkan tali di atasnya, dan sendi-sendinya ditempatkan? Dan Tuhan bertanya kepada Ayub siapa yang meletakkan batu penjuru, ketika bintang pagi bernyanyi Bersama, dan anak-anak Allah bersorak kegirangan?

 

Melalui pertanyaan-pertanyaan ini, Tuhan mengingatkan Ayub, akan pemahaman dan kekuatan Ayub yang terbatas, dibandingkan dengan hikmat dan kuasa Tuhan yang tak terbatas.

Allah adalah Pencipta segala sesuatu, dan Dia memiliki rencana dan tujuan bagi bumi dan bagi semua ciptaan.

Sebagai manusia yang terbatas, kita memiliki kecenderungan untuk berpikir bahwa, kita mengetahui segalanya, dan dapat memahami segalanya. Namun pada kenyataannya, ada begitu banyak hal yang berada di luar pemahaman dan kendali kita.

Penting bagi kita untuk mengingat bahwa kita adalah makhluk yang terbatas, dengan pemahaman yang terbatas, dan hanya bisa percaya pada kebijaksanaan dan kuasa Allah yang tak terbatas.

 

 

Apa Pesan Tuhan Untuk Kita?

 

Pesan inti dari khotbah ini, adalah sebagai pengingat akan kebesaran dan kedaulatan Allah, dan keterbatasan kita sendiri, serta kebutuhan akan kerendahan hati, sehubungan dengan masalah yang kita hadapi.

Melalui pertanyaan yang Tuhan tanyakan kepada Ayub, tentang di mana dia berada, ketika Tuhan menciptakan bumi, Tuhan mengingatkan Ayub, dan juga kita, tentang pemahaman, dan kekuatannya sendiri yang terbatas, dibandingkan dengan hikmat dan kuasa Tuhan yang tak terbatas.

 

Firman Tuhan ini juga menekankan pentingnya mempercayai hikmat dan rencana Allah, bahkan ketika kita tidak mengerti apa yang sedang terjadi, atau ketika segala sesuatu tampak sulit dan tidak pasti. Itu juga mengingatkan kita untuk berhenti sejenak, untuk mengagumi keindahan dan kerumitan ciptaan Tuhan, dan untuk bersyukur dan memuji Sang Pencipta.

 

Dalam hidup ini, kita mudah terjebak dalam kesibukan dan gangguan dunia, dan melupakan keagungan dan kedaulatan Tuhan. Kita mungkin menemukan diri kita berusaha mengendalikan setiap aspek kehidupan kita, berpikir bahwa kita tahu apa yang terbaik dan berusaha membuat sesuatu terjadi, dengan cara kita sendiri.Tetapi perikop ini mengingatkan kita bahwa, Tuhan memegang kendali, dan bahwa Dia memiliki rencana dan tujuan untuk hidup kita yang lebih besar dari apa pun yang dapat kita bayangkan.

 

Ketika kita percaya kepada Tuhan, dan tunduk pada kehendak-Nya, kita dapat menemukan kedamaian dan tujuan hidup. Kita dapat melepaskan pemahaman dan kendali kita sendiri yang terbatas, dan beristirahat dalam pengetahuan bahwa, Tuhan mengerjakan segala sesuatu untuk kebaikan kita dan untuk kemuliaan-Nya.

 

 

Apa Yang Harus Kita Terapkan, Dalam Kehidupan Kita?

 

Berdasarkan khotbah, satu hal yang dapat kita terapkan adalah pentingnya kerendahan hati. Seperti yang diingatkan oleh perikop itu, kita adalah makhluk terbatas dengan pemahaman yang terbatas, dan penting bagi kita untuk mengingat hal ini dan merendahkan diri kita di hadapan keagungan dan kedaulatan Allah.

Hal lain yang bisa kita terapkan adalah pentingnya percaya pada hikmat dan kuasa Tuhan. Perikop ini mengingatkan kita bahwa ada banyak hal yang berada di luar pemahaman dan kendali kita, dan penting bagi kita untuk memercayai rencana dan tujuan Tuhan bagi hidup kita, bahkan ketika kita tidak memahami apa yang sedang terjadi.

Perikop ini juga mengingatkan kita akan keagungan dan keajaiban ciptaan Tuhan. Sangat mudah untuk menerima begitu saja keindahan dan kerumitan dunia di sekitar kita, tetapi perikop ini mengingatkan kita untuk berhenti dan mengagumi keagungan karya tangan Tuhan. Saat kita merenungkan kehebatan ciptaan Tuhan, marilah kita juga ingat untuk bersyukur dan memuji Sang Pencipta sendiri.

Jadi, untuk mengakhiri khotbah ini, marilah kita mengingat firman Tuhan kepada Ayub, dan menanyakannya kepada diri sendiri: 'Di mana saya, saat Tuhan meletakkan dasar bumi?’

 

Menanggapi pertanyaan Tuhan ini, marilah kita merendahkan diri kita di hadapan keagungan Allah, dan mengingat bahwa Dia berdaulat atas segala sesuatu, termasuk peristiwa dan keadaan hidup kita sendiri, serta percaya pada hikmat dan kuasa-Nya, dan mengucap syukur dan memuji Tuhan atas semua yang telah dilakukan-Nya.

 

 

Doa Hari Ini...

 

Tuhan Yesus,

Kami berterima kasih atas kebesaran dan kedaulatan Tuhan. Engkau adalah Pencipta segala sesuatu, dan kami berterima kasih atas keindahan, dan kerumitan hasil karya Tuhan.

 

Bantu kami untuk mengingat keterbatasan kami sendiri, dan dengan rendah hati tunduk pada kehendak Tuhan, dan rencana Tuhan untuk hidup kami.

 

Tuhan, kami percaya pada kebijaksanaan dan kekuatan Tuhan. Kami tahu bahwa ada banyak hal yang berada di luar pemahaman kami, dan kami berdoa agar Tuhan memberi kami rahmat untuk mempercayai Engkau dan tujuan Tuhan untuk hidup kami, bahkan ketika hal-hal tampak tidak pasti atau sulit.

 

Tuhan, kami mengagumi keagungan ciptaan Tuhan. Terima kasih atas keajaiban alam dan cara Tuhan membuat segalanya bekerja bersama dalam harmoni yang sempurna. Bantu kami mengingat untuk berterima kasih kepada Tuhan, dan bersyukur untuk semua yang telah Engkau lakukan kepada kami.

 

Tuhan, kami berdoa agar Tuhan membantu kami untuk mengingat pentingnya kerendahan hati. Kami tahu bahwa kami cenderung berpikir bahwa kami mengetahui segalanya, dan dapat memahami segalanya, tetapi kami tahu bahwa, ada begitu banyak hal yang berada di luar pemahaman kami.

Bantu kami untuk dengan rendah hati, dan tunduk pada keinginan dan cara Tuhan, dan untuk percaya pada kebijaksanaan dan kekuatan Tuhan.

 

 

Amin.

 

Kiranya Tuhan Menguatkan Kita, dan Kasih Karunia Tuhan Yesus, Menyertai Kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dusta Dan Kompromi, Tidak Mampu Menutupi Kekuatan Kebenaran. Matius 28: 11-15 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Dusta Dan Kompromi, Tidak Mampu Menutupi Kekuatan Kebenaran.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Matius 28, ayat 11 sampai ayat 15, yang berbunyi sebagai berikut:    Ketika mereka di tengah jalan, datanglah beberapa orang dari penjaga itu ke kota dan memberitahukan segala yang terjadi itu kepada imam-imam kepala.   Dan sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu   dan berkata: "Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur.   Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa."   Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Dan ceritera i...

Hidup Bijaksana, Di Dunia Yang Penuh Kebodohan. Efesus 5:15-16 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Hidup Bijaksana, Di Dunia Yang Penuh Kebodohan.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Efesus 5, ayat 15 sampai ayat 16, yang berbunyi sebagai berikut:    Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,   dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.     Demikian Pembacaan Alkitab. Hale luya.     Apa Isi Firman Tuhan ini, dan tentang apa.   Efesus 5, ayat 15 dan ayat 16, adalah bagian dari Alkitab Perjanjian Baru, khususnya dari kitab Efesus. Untuk memahami isi, makna, dan maksudnya, penting untuk mempertimbangkan konteks kitab yang lebih luas dan ayat-ayat spesifiknya.   Kitab Efesus ditulis oleh rasul Paulus, dan berfungsi sebagai surat kepada komunitas Kristen mula-mula di Efesus...

Kasih dan Perhatian Tuhan, Tercermin Dalam Keagungan Ciptaan-Nya. Kejadian 1: 14-19 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Kasih dan Perhatian Tuhan, Tercermin Dalam Keagungan Ciptaan-Nya.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Kejadian 1, ayat 14 sampai ayat 19, yang berbunyi sebagai berikut:      Berfirmanlah Allah: "Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun,  dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi." Dan jadilah demikian.   Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang.  Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi,   dan untuk menguasai siang dan malam, dan untu...