Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini,
adalah:
Mempercayai Tuhan, di tengah Penderitaan.
Ayat Alkitab, yang kita baca hari ini, adalah dari Ayub 9, ayat 11 sampai ayat 16, yang berbunyi sebagai berikut:
Apabila Ia melewati aku, aku tidak melihat-Nya, dan bila Ia lalu, aku tidak mengetahui.
Apabila Ia merampas, siapa akan menghalangi-Nya? Siapa akan menegur-Nya: Apa yang Kaulakukan?
Allah tidak menahani murka-Nya, di bawah kuasa-Nya para pembantu Rahab membungkuk;
lebih-lebih aku, bagaimana aku dapat membantah Dia, memilih kata-kataku di hadapan Dia?
Walaupun aku benar, aku tidak mungkin membantah Dia, malah aku harus memohon belas kasihan kepada yang mendakwa aku.
Bila aku berseru, Ia menjawab; aku tidak dapat percaya, bahwa Ia sudi mendengarkan suaraku;
Demikian Pembacaan Alkitab. Haleluya.
Apa Isi Firman Tuhan ini, dan tentang apa?
Kitab Ayub adalah kisah alkitabiah, tentang seorang pria yang sangat menderita, namun tetap setia kepada Tuhan, dalam keadaan apa pun.
Dalam ayat-ayat dari Ayub pasal 9, yang kita baca hari ini, kita melihat Ayub bergumul dengan pertanyaan tentang, bagaimana manusia dapat menjadi benar di hadapan Allah.
Dia merasa bahwa, dia tidak melakukan apa pun yang pantas menerima penderitaan, dan kesulitan yang dia alami, dan bertanya-tanya mengapa Tuhan mengizinkannya.
Ini adalah pertanyaan yang mungkin pernah ditanyakan banyak dari kita, pada suatu saat dalam hidup kita. Ketika kita menghadapi keadaan yang sulit, dapat menjadi tantangan untuk percaya kepada pribadi Allah, dan kebaikan-Nya.
Pembaca kisah Ayub ini perlu menyelidiki, apa yang dikatakan Alkitab tentang penderitaan dan kedaulatan Allah, dan menawarkan cara-cara praktis agar orang percaya dapat percaya kepada Allah, dan bisa menemukan pengharapan selama masa-masa sulit.
Penderitaan dan kesukaran adalah kenyataan hidup, yang tak seorang pun dari kita bisa menghindarinya. Apakah itu penyakit fisik, pergumulan keuangan, masalah hubungan, khususnya perkawinan, atau beberapa bentuk kesengsaraan lainnya, kita semua menghadapi tantangan, yang sepertinya sulit untuk kita tanggung.
Saat kita berada di tengah kesulitan, adalah wajar untuk bertanya-tanya, mengapa hal itu terjadi, dan mempertanyakan kebaikan dan rencana Tuhan. Kita mungkin merasa bahwa, kita tidak melakukan apa pun yang pantas untuk menerima penderitaan yang kita alami, seperti yang dialami Ayub.
Sangat sulit untuk memercayai Tuhan, ketika kita tidak mengerti mengapa Tuhan mengizinkan sesuatu yang buruk terjadi atas kita, atau ketika sepertinya Dia tidak menjawab doa-doa kita.
Kita mungkin merasa diabaikan, atau dilupakan oleh Tuhan, dan sepertinya harus berjuang sendiri, untuk menemukan harapan dan makna, dalam keadaan kita yang terpuruk itu.
Alkitab berbicara banyak tentang penderitaan dan kedaulatan Allah. Itu mengajarkan kita bahwa Tuhan berdaulat atas segala sesuatu, dan bahwa Dia memiliki rencana untuk hidup kita yaitu untuk kebaikan kita, dan demi kemuliaan-Nya.
Rasul Paulus dalam Roma 8, ayat 28, menyimpulkan sebagai berikut:
Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
Meskipun kita mungkin tidak selalu mengerti apa yang Tuhan lakukan, Alkitab mengingatkan kita bahwa Allah itu baik dan pengasih, dan bahwa jalan-jalan-Nya, lebih tinggi dari jalan kita. (Baca Yesaya 55, ayat 8 dan ayat 9).
Rasul Yakobus, dalam Yakobus 1, ayat 2 sampai ayat 4, mendorong kita untuk menganggap penderitaan sebagai kesempatan untuk bertumbuh dalam iman, dan kepercayaan kita, kepada Tuhan.
Dikatakan, " Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, karena kamu tahu, bahwa ujian imanmu menghasilkan ketekunan.
Biarlah ketekunan menyelesaikan pekerjaannya sehingga kamu menjadi dewasa dan lengkap, tidak kekurangan apa pun."
Sementara penderitaan bisa sulit dan sangat menyakitkan, Alkitab mengajarkan kita, bahwa itu juga bisa menjadi sarana untuk tumbuh lebih dekat dengan Tuhan, dan menjadi lebih serupa dengan Yesus.
Kisah Ayub ini juga mengajarkan, bagaimana kita bisa percaya kepada Tuhan, dan menemukan harapan di tengah kesulitan.
Apa Pesan Tuhan Untuk Kita?
Pesan Tuhan bagi kita dari khotbah tentang "Mempercayai Tuhan di tengah penderitaan" ini, adalah untuk memahami bahwa Tuhan itu berdaulat, dan Tuhan memiliki rencana yang terbaik untuk hidup kita, bahkan ketika kita tidak mengerti apa yang Dia lakukan, dan mungkin, telah salah menafsirkan kebaikan-Nya.
Tuhan ingin kita memahami, bahwa Tuhan tetaplah Allah yang penuh kasih, dan setia, yang tidak pernah meninggalkan kita dalam penderitaan kita, dan yang ingin memberi kita harapan, kekuatan, dan kesembuhan.
Khotbah ini juga dapat mendorong kita untuk percaya pada kebaikan dan rencana Tuhan, bahkan ketika hidup kita sulit, dan kita menghadapi banyak masalah.
Itu mungkin mengingatkan kita, bahwa penderitaan itu sifatnya sementara, dan bahwa kasih dan anugerah Allah itu abadi.
Akhirnya, khutbah ini juga menawarkan cara-cara praktis, agar kita dapat percaya kepada Tuhan, dan menemukan harapan selama masa-masa sulit, seperti berdoa dan mencari kehadiran-Nya, membaca dan merenungkan kitab suci, mencari dukungan dari komunitas Kristen, dan mengingat, bahwa Tuhan beserta kita, sebagai milik-Nya, dan cinta kasih Allah yang abadi itu, tidak pernah berakhir.
Apa Yang Harus Kita Terapkan, Dalam Kehidupan Kita?
Kita harus selalu berdoa dan mencari Hadirat Tuhan. Dalam doa, kita sampaikan pergumulan dan ketakutan kita kepada Tuhan, dan kita pohonkan kehadiran dan penghiburan-Nya, dalam kehidupan kita sehari-hari.
Mazmur 34, ayat 18 mengatakan, " TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya."
Kita harus menyisihkan waktu setiap hari, untuk membaca dan merenungkan bagian-bagian dari Alkitab, yang sesuai dengan situasi kita, dan yang dapat memelihara dan membangun iman kita.
Kita tidak boleh menjauhkan diri dari persekutuan orang percaya. Kelilingi diri kita dengan orang percaya yang dapat berdoa untuk Kita, mendorong Kita, dan mendukung kita selama masa-masa sulit.
Kita harus memercayai kebenaran, bahwa Tuhan selalu bersama kita, dan bahwa kasih-Nya kepada kita tidak pernah berakhir, bahkan ketika kita sedang menghadapi kesulitan.
Kita harus menciptakan kesempatan untuk juga melayani, dan mendukung orang lain yang sedang mengalami masa sulit, baik dengan menjadi sukarelawan, berdoa untuk mereka, atau menawarkan bantuan praktis. Hal ini dapat membantu mengingatkan kita akan kebaikan Tuhan, dan juga dapat menjadi sumber pengharapan dan kesembuhan bagi diri kita sendiri.
Doa Hari Ini...
Bapa kami yang ada di Surga,
Kami datang kepada Tuhan hari ini dengan hancur hati, berjuang untuk mempercayai kebaikan dan rencana Tuhan selama masa-masa sulit ini.
Kami tahu bahwa Tuhan berdaulat dan penuh kasih, tetapi terkadang sulit untuk memahami, apa yang Tuhan lakukan, dan mengapa Tuhan membiarkan hal itu terjadi.
Kami meminta Tuhan untuk bersama kami dalam penderitaan kami, dan memberi kami kekuatan dan keberanian, untuk menghadapi setiap hari dengan harapan dan kepercayaan pada Tuhan.
Terimalah kami, yang membawa pergumulan dan ketakutan kami kepada Tuhan dalam doa, dan yang mencari hadirat, serta kenyamanan Tuhan, dalam kehidupan kami sehari-hari.
Kami berdoa agar Tuhan menggunakan masa sulit ini, untuk membuat kami semakin dekat dengan Tuhan, dan menjadikan kami lebih seperti Yesus.
Bantu kami untuk mengingat bahwa penderitaan ini sementara sifatnya, dan bahwa cinta dan kasih karunia Tuhan itu kekal abadi.
Kami juga berdoa untuk orang lain yang mengalami masa-masa sulit, agar Tuhan ada Bersama-sama mereka di tengah pergumulan mereka, dan memberi mereka harapan dan kesembuhan.
Kami percaya kepada Engkau, ya Tuhan, dan mendoakan semua hal ini, hanya di dalam nama Yesus Kristus, Tuhan kami.
Amin.
Kiranya Tuhan Menguatkan Kita, dan Kasih Karunia Tuhan Yesus, Menyertai Kita.
Komentar
Posting Komentar