Langsung ke konten utama

Ada Konsekuensinya, Jika Anda Lari Dari Rencana Tuhan. Yunus 1: 7-10 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini,

adalah:

 

Ada Konsekuensinya, Jika Anda Lari Dari Rencana Tuhan.

 

Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Yunus 1, ayat 7 sampai ayat 10, yang berbunyi sebagai berikut:

 

  Lalu berkatalah mereka satu sama lain: "Marilah kita buang undi, supaya kita mengetahui, karena siapa kita ditimpa oleh malapetaka ini." Mereka membuang undi dan Yunuslah yang kena undi. 

 Berkatalah mereka kepadanya: "Beritahukan kepada kami, karena siapa kita ditimpa oleh malapetaka ini. Apa pekerjaanmu dan dari mana engkau datang, apa negerimu dan dari bangsa manakah engkau?" 

 Sahutnya kepada mereka: "Aku seorang Ibrani; aku takut akan TUHAN, Allah yang empunya langit, yang telah menjadikan lautan dan daratan." 

 Orang-orang itu menjadi sangat takut, lalu berkata kepadanya: "Apa yang telah kauperbuat?" --sebab orang-orang itu mengetahui, bahwa ia melarikan diri, jauh dari hadapan TUHAN. Hal itu telah diberitahukannya kepada mereka.

 

Demikian Pembacaan Alkitab. Hale luya.

 

 

Apa Isi Firman Tuhan ini, dan tentang apa.

 

Kitab Yunus menceritakan kisah nabi Yunus yang dipanggil Tuhan, untuk pergi ke kota Niniwe, dan memberitakan pertobatan kepada penduduknya.

Namun, Yunus menolak, dan malah berusaha kabur dari Tuhan dengan menaiki kapal, yang menuju arah berlawanan.

Saat kapal berlayar, badai besar muncul, mengancam akan menenggelamkan kapal dan membunuh semua orang di dalamnya.

Dalam keputusasaan, para pelaut membuang undi untuk menentukan siapa yang bertanggung jawab atas badai tersebut, dan undian jatuh pada Yunus.

 

Dalam perikop ini, kita melihat para pelaut berusaha mengungkap penyebab badai, yang mengancam nyawa mereka.

Mereka membuang undi, sebuah metode ramalan yang umum di zaman kuno, untuk menentukan siapa yang harus disalahkan dan dikorbankan.

Ketika undian jatuh pada Yunus, mereka menanyainya tentang identitasnya, dan apa yang telah dia lakukan, sehingga menyebabkan malapetaka ini.

Yunus mengakui bahwa dia adalah seorang Ibrani, yang menyembah Tuhan Pencipta langit dan bumi, dan bahwa dia melarikan diri dari perintah Tuhan, untuk mengkhotbahkan pertobatan, kepada penduduk Niniwe.

 

Makna perikop ini dalam konteks kitab Yunus adalah, bahwa Allah akan mengejar mereka, yang telah Ia panggil untuk melakukan pekerjaannya, bahkan jika mereka mencoba untuk melarikan diri.

Usaha Yunus untuk lari dari perintah Tuhan, telah menimbulkan badai yang membahayakan nyawa orang-orang lain, yang tidak bersalah. Para pelaut, yang tidak menyembah Tuhannya Yunus, takut akan kekuatan Tuhannya Yunus, dan takut pada fakta, bahwa Yunus melarikan diri dari Allahnya.

Peristiwa ini, membuat Yunus menyadari, bahwa belas kasihan Tuhan, bukan hanya bagi orang Yahudi, tetapi juga kepada orang-orang Niniwe yang tidak mengenal Allah.

 

 

Apa Pesan Tuhan Untuk Kita?

 

Ketika kita mencoba melarikan diri dari panggilan Tuhan atas hidup kita, kita menempatkan diri kita dalam bahaya.

Dalam kasus Yunus, usahanya untuk melarikan diri dari Tuhan, tidak hanya membahayakan nyawanya sendiri tetapi juga membahayakan nyawa para pelaut di kapal, yang ada bersamanya.

Kadang-kadang, ketidaktaatan kita kepada Tuhan, dapat menyebabkan bahaya, atau kerusakan fisik, yang besar.

 

Ketidaktaatan Yunus, tidak hanya membahayakan nyawanya sendiri, tetapi juga nyawa para pelaut, di kapal itu.

Ketidaktaatan kita kepada Allah, dapat berdampak luas, yang tidak hanya memengaruhi diri kita sendiri, tetapi juga orang-orang, di sekitar kita.

 

Ketika kita lari dari panggilan Tuhan atas hidup kita, kita kehilangan rencana yang Tuhan miliki untuk kita.

Sama seperti penolakan Yunus untuk berkhotbah kepada penduduk Niniwe, kita pun bisa kehilangan kesempatan, untuk melihat kemurahan Allah, dan kasih karunia-Nya, bekerja dalam hidup orang lain, sebagai ciptaan-Nya. Terlepas, apakah mereka mengenal Allah Israel, ataupun tidak.

 

Meskipun kita melarikan diri dari Tuhan, Tuhan tidak akan menyerah dalam hal melaksanakan rencana-Nya, melalui kita.

Tuhan selalu berusaha untuk menarik kita kembali kepada-Nya, tidak peduli seberapa jauh, kita telah tersesat.

 

Pengakuan akan dosa-dosa kita kepada Tuhan, yaitu kegagalan kita untuk memenuhi hukum kasih, yang Tuhan perintahkan, hal itu dapat menuntun pada, penyembuhan dan pemulihan diri kita.

 

Kisah Yunus ini, pada akhirnya adalah kisah belas kasihan dan kasih karunia Allah kepada seluruh umat manusia.

Meskipun kita tidak taat, Tuhan tetap menunjukkan belas kasihan-Nya, kepada kita, dan menggunakan kita untuk mencapai tujuan Tuhan.

Belas kasihan dan kasih karunia Allah, juga tersedia bagi kita, tidak peduli seberapa jauh kita telah menyimpang dari kehendak-Nya, bagi hidup kita.

 

Saat kita merenungkan perikop ini, marilah kita ingat, bahwa lari dari panggilan Tuhan dalam hidup kita, dapat menimbulkan konsekuensi yang serius.

Marilah kita juga mengingat, bahwa Tuhan selalu mengejar kita, dan bahwa rahmat dan kasih karunia-Nya tersedia bagi kita, tidak peduli seberapa jauh kita tersesat.

Semoga kita memiliki keberanian, untuk mematuhi panggilan Tuhan dalam hidup kita, dan semoga kita percaya pada belas kasihan dan kasih karunia-Nya, ketika kita gagal.

 

 

Apa Yang Harus Kita Terapkan, Dalam Kehidupan Kita?

 

Kita harus mencari tuntunan Tuhan.

Dengan mencari tuntunan Tuhan, kita dapat memastikan, bahwa kita mengikuti kehendak-Nya untuk hidup kita.

Ini melibatkan waktu kita, untuk berdoa, mempelajari Alkitab, dan mencari nasihat bijak dari orang lain, yang dapat membantu kita mengetahui rencana Allah bagi kita.

 

Kita harus mematuhi perintah Tuhan.

Ketika kita tahu apa yang Tuhan ingin kita lakukan, kita harus mematuhi perintah-Nya tanpa ragu atau pun bimbang.

Ini membutuhkan kesediaan kita, untuk menyerahkan keinginan dan preferensi kita sendiri, untuk mengikuti kehendak Tuhan.

 

Kita harus mengakui dosa-dosa kita.

Ketika kita gagal dan tidak menaati Allah, kita harus mengakui dosa-dosa kita, memohon, dan mencari pengampunan-Nya.

Ini termasuk mengakui kesalahan kita, mengungkapkan penyesalan yang tulus, dan meminta rahmat dan kasih karunia Allah.

 

Kita pun harus tunduk pada pendisiplinan Tuhan.

Kadang-kadang, Tuhan mungkin mendisiplinkan kita, untuk mengoreksi ketidaktaatan kita, dan menarik kita kembali ke diri-Nya.

Ketika ini terjadi, kita harus tunduk pada pendisiplinan Tuhan, dan membiarkan Dia membentuk kita, menjadi orang, seperti yang Dia inginkan.

 

Kita harus bertanggung jawab.

Dengan tetap bertanggung jawab kepada orang lain, kita dapat menerima dorongan, dukungan, dan koreksi, sewaktu kita berupaya mengikuti Allah.

Ini melibatkan kita, untuk menjadi bagian dari komunitas orang percaya, yang dapat meminta pertanggungjawaban kita, dan membantu kita bertumbuh dalam iman kita.

 

 

Doa Hari Ini...

 

Tuhan Yesus,

 

Kami berdoa agar Tuhan membantu kami, untuk tetap dekat dengan Tuhan, dan mengikuti kehendak Tuhan untuk hidup kami.

Tolong bimbing kami di jalan kebenaran, dan jauhkan kami dari melarikan diri dari rencana Tuhan. Ketika kami gagal, bantu kami untuk mengakui dosa-dosa kami, dan untuk mendapatkan pengampunan Tuhan.

Kami percaya pada belas kasihan dan rahmat Tuhan, untuk menutupi kesalahan kami, dan menjaga kami aman dari bahaya.

Terima kasih atas kasih setia Tuhan kepada kami, dan bantu kami untuk tetap teguh dalam komitmen kami, kepada Tuhan.

Kami pohonkan doa ini dalam nama Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami.

Amin.

 

Kiranya Tuhan Menguatkan Kita, dan Kasih Karunia Tuhan Yesus, Menyertai Kita.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dusta Dan Kompromi, Tidak Mampu Menutupi Kekuatan Kebenaran. Matius 28: 11-15 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Dusta Dan Kompromi, Tidak Mampu Menutupi Kekuatan Kebenaran.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Matius 28, ayat 11 sampai ayat 15, yang berbunyi sebagai berikut:    Ketika mereka di tengah jalan, datanglah beberapa orang dari penjaga itu ke kota dan memberitahukan segala yang terjadi itu kepada imam-imam kepala.   Dan sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu   dan berkata: "Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur.   Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa."   Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Dan ceritera i...

Hidup Bijaksana, Di Dunia Yang Penuh Kebodohan. Efesus 5:15-16 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Hidup Bijaksana, Di Dunia Yang Penuh Kebodohan.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Efesus 5, ayat 15 sampai ayat 16, yang berbunyi sebagai berikut:    Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,   dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.     Demikian Pembacaan Alkitab. Hale luya.     Apa Isi Firman Tuhan ini, dan tentang apa.   Efesus 5, ayat 15 dan ayat 16, adalah bagian dari Alkitab Perjanjian Baru, khususnya dari kitab Efesus. Untuk memahami isi, makna, dan maksudnya, penting untuk mempertimbangkan konteks kitab yang lebih luas dan ayat-ayat spesifiknya.   Kitab Efesus ditulis oleh rasul Paulus, dan berfungsi sebagai surat kepada komunitas Kristen mula-mula di Efesus...

Kasih dan Perhatian Tuhan, Tercermin Dalam Keagungan Ciptaan-Nya. Kejadian 1: 14-19 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Kasih dan Perhatian Tuhan, Tercermin Dalam Keagungan Ciptaan-Nya.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Kejadian 1, ayat 14 sampai ayat 19, yang berbunyi sebagai berikut:      Berfirmanlah Allah: "Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun,  dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi." Dan jadilah demikian.   Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang.  Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi,   dan untuk menguasai siang dan malam, dan untu...