Tema
Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini,
adalah:
Jangan
Mencemarkan Kasih Tuhan.
Ayat
Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah
dari Maleakhi 1, ayat 11 sampai ayat 14, yang berbunyi sebagai berikut:
Sebab
dari terbitnya sampai kepada terbenamnya matahari nama-Ku besar di antara
bangsa-bangsa, dan di setiap tempat dibakar dan dipersembahkan
korban bagi nama-Ku dan juga korban sajian yang tahir; sebab nama-Ku besar di
antara bangsa-bangsa, firman TUHAN semesta alam.
Tetapi
kamu ini menajiskannya, karena kamu menyangka: "Meja Tuhan memang cemar
dan makanan yang ada di situ boleh dihinakan!"
Kamu
berkata: "Lihat, alangkah susah payahnya! " dan kamu menyusahkan Aku,
firman TUHAN semesta alam. Kamu membawa binatang yang dirampas, binatang yang
timpang dan binatang yang sakit, kamu membawanya sebagai persembahan. Akan
berkenankah Aku menerimanya dari tanganmu? firman TUHAN.
Terkutuklah
penipu, yang mempunyai seekor binatang jantan di antara kawanan ternaknya, yang
dinazarkannya, tetapi ia mempersembahkan binatang yang cacat kepada Tuhan.
Sebab Aku ini Raja yang besar, firman TUHAN semesta alam, dan nama-Ku ditakuti di
antara bangsa-bangsa.
Demikian
Pembacaan Alkitab. Hale luya.
Apa
Isi Firman Tuhan ini, dan tentang apa.
Perikop
ini dimulai dengan pernyataan Tuhan, bahwa dari terbitnya matahari sampai
terbenamnya, nama Tuhan akan besar di antara bangsa-bangsa, dan di mana-mana, serta
kemenyan dan persembahan murni akan dipersembahkan kepada-Nya.
Ayat
tersebut menegaskan, bahwa nama Tuhan akan besar di antara bangsa-bangsa, bukan
hanya di antara orang Israel.
Bagian
itu kemudian mengarah ke orang Israel, di mana Tuhan berbicara melalui nabi
Maleakhi, dan menegur para imam, karena mempersembahkan korban yang cacat, dan
tidak layak untuk dipersembahkan kepada Tuhan yang kudus.
Para
imam telah gagal menghormati Allah, dan telah menghina nama-Nya, dengan
mempersembahkan korban yang lebih rendah.
Tuhan
bertanya, apakah para imam akan mempersembahkan korban seperti itu kepada
gubernur, atau raja mereka, dan jika tidak, mengapa menurut mereka, layak untuk
dipersembahkan kepada Tuhan?
Tujuan
perikop ini adalah, untuk menekankan kebesaran Allah, dan pentingnya
mempersembahkan korban yang murni, dan berkenan kepada-Nya.
Perikop
ini berbicara tentang keinginan Tuhan, bagi semua bangsa untuk menyembah Dia,
dan mempersembahkan korban murni kepada-Nya, yang merupakan bayangan dari pesan
keselamatan Perjanjian Baru, yang ditawarkan kepada semua orang, bukan hanya
kepada orang Yahudi.
Perikop
ini juga berfungsi sebagai teguran bagi para imam Israel, yang tidak memberikan
penghormatan dan kemuliaan yang layak kepada Tuhan.
Para
imam mempersembahkan korban yang lebih rendah, yang menunjukkan kurangnya rasa
hormat, kepada Allah dan nama-Nya.
Dengan
menegur para imam, Tuhan mengingatkan mereka tentang pentingnya peran mereka,
sebagai perantara antara Tuhan dan umat, dan kebutuhan untuk mempersembahkan
korban murni, atas nama umat.
Singkatnya,
Maleakhi 1, ayat 11 sampai ayat 14, adalah bagian yang menekankan kebesaran
Allah, dan pentingnya mempersembahkan korban yang murni, dan berkenan
kepada-Nya.
Itu
juga berfungsi sebagai teguran bagi para imam Israel, karena gagal menghormati
Tuhan dan memperlakukan nama-Nya dengan hormat yang selayaknya.
Perikop
ini mengingatkan kita yang hidup di masa kini, bahwa kita tidak boleh
mencemarkan kasih Allah dengan mempersembahkan kepada-Nya, sesuatu yang kurang
dari yang terbaik dari diri kita.
Dari
perikop ini, kita dapat menarik pelajaran bagi kehidupan kita masing-masing.
Pertama,
kita belajar bahwa nama Tuhan, besar di antara bangsa-bangsa. Ini mengingatkan
kita, bahwa Tuhan bukan hanya Tuhan orang Yahudi, tetapi Tuhan semua bangsa.
Kita
tidak boleh membatasi kasih Tuhan pada diri kita sendiri, tetapi menyadari
bahwa Dia menginginkan, semua orang datang kepada-Nya, dan mempersembahkan
penyembahan yang murni kepada-Nya.
Kedua,
kita melihat bahwa para imam Israel mempersembahkan korban yang cacat dan tidak
dapat diterima.
Ini
menunjukkan kepada kita, bahwa kita harus memberikan yang terbaik kepada Tuhan,
bukan hanya apa yang kita anggap cukup baik. Contohnya, saat kita memberi
persembahan di gereja, apakah kita tidak mempersembahkan uang sisa atau uang lecek,
tetapi mempersembahkan uang persembahan yang dipersiapkan khusus untuk itu.
Ketiga,
kita belajar bahwa nama Tuhan harus ditakuti dan dihormati.
Hal
ini mengingatkan kita bahwa kita harus menjunjung tinggi nama Tuhan, dan
memperlakukannya dengan rasa hormat yang selayaknya.
Kita
tidak boleh menerima kasih Tuhan begitu saja, atau memperlakukannya sebagai
sesuatu yang murah, dan tidak penting.
Keempat,
kita melihat bahwa para imam Israel tidak memenuhi peran mereka sebagai
perantara antara Allah dan umat. Ini mengingatkan kita, bahwa kita juga
memiliki peran sebagai perantara, antara Tuhan dan orang-orang, di sekitar
kita.
Kita
harus menjalani kehidupan yang mencerminkan kasih dan kekudusan Tuhan, dan
mempersembahkan ibadah yang murni, atas nama orang lain.
Kelima,
kita belajar bahwa Tuhan tidak menerima ibadah yang setengah hati atau tidak
tulus.
Para
imam Israel melakukan gerakan mempersembahkan korban, tetapi hati mereka tidak
ada di dalamnya.
Tuhan
menegur mereka, mengatakan bahwa Dia lebih suka pintu bait suci ditutup,
daripada menerima penyembahan seperti itu.
Ini
mengingatkan kita, bahwa Tuhan menginginkan ibadah kita yang tulus dan sepenuh
hati, bukan hanya tindakan lahiriah.
Keenam,
kita melihat bahwa para imam Israel, tidak memberikan kehormatan dan
penghormatan, yang layak diterima oleh Tuhan.
Mereka
memperlakukan-Nya seolah-olah, Dia hanyalah orang lain, bukan Tuhan yang
mahakuasa dan suci.
Ini
mengingatkan kita, bahwa kita harus memberi Tuhan kehormatan dan penghormatan,
yang layak Dia terima, mengakui bahwa Dia di atas segalanya, dan layak menerima
pujian tertinggi kita.
Ketujuh,
kita belajar bahwa, tindakan kita mencerminkan sikap kita terhadap Tuhan.
Para
imam Israel mempersembahkan korban yang bercacat, karena mereka tidak memiliki
sikap yang benar terhadap Allah.
Ini
mengingatkan kita, bahwa tindakan kita mencerminkan hati kita, dan jika kita
tidak memberikan yang terbaik kepada Tuhan, itu adalah cerminan dari sikap hati
kita terhadap-Nya.
Kedelapan,
kita melihat bahwa Tuhan ingin disembah dalam roh dan kebenaran.
Para
imam Israel tidak mempersembahkan korban suci, karena hati mereka tidak suci.
Ini
mengingatkan kita bahwa, Tuhan menginginkan bukan hanya tindakan lahiriah,
tetapi hati yang tulus dan murni.
Kita
harus memeriksa hati kita, dan memastikan bahwa ibadah kita, menyenangkan hati
Tuhan.
Kesembilan,
kita belajar bahwa, kasih Tuhan tidak murah atau mudah.
Para
imam Israel menerima begitu saja kasih Allah, dan memperlakukannya sebagai
sesuatu yang murahan, yang dapat diperoleh dengan pengorbanan setengah hati.
Ini
mengingatkan kita, bahwa kasih Tuhan tidak murah atau mudah, tetapi harus
dibayar mahal, yang tidak mampu kita bayar dengan usaha kita, sebagai manusia.
Kita
tidak boleh meremehkan kasih Allah begitu saja, tetapi menghargainya, dan
memberikan yang terbaik kepada-Nya, sebagai tanggapan atas kasih-Nya.
Kesepuluh
dan terakhir, kita melihat bahwa teguran Tuhan adalah panggilan untuk bertobat.
Dia
memanggil para imam Israel untuk bertobat dari dosa mereka, dan mempersembahkan
korban murni kepada-Nya.
Ini
mengingatkan kita, bahwa teguran Tuhan selalu merupakan seruan untuk bertobat,
dan kesempatan untuk kembali kepada-Nya.
Kita
harus memeriksa hidup kita dan bertobat dari segala sesuatu, yang tidak
menyenangkan hati Tuhan, dan mempersembahkan penyembahan yang murni kepada-Nya.
Apa
Pesan Tuhan Untuk Kita?
Tuhan
ingin kita menyembah Dia dengan ketulusan dan keaslian.
Para
imam Israel melakukan gerakan mempersembahkan korban, tetapi hati mereka tidak ada
di dalamnya.
Mereka
mempersembahkan hewan yang cacat, bukannya yang terbaik yang mereka
persembahkan, dan ini mencerminkan kurangnya rasa hormat kepada Tuhan.
Dengan
cara yang sama, Tuhan ingin kita mendekati-Nya dengan hati yang tulus dan
murni.
Dia
ingin kita mempersembahkan yang terbaik kepada-Nya dalam ibadah, tidak hanya
sekadar melakukan gerakan atau mempersembahkan sisa-sisa kita kepada-Nya.
Ini
berarti kita perlu memeriksa hati dan motif kita dalam menyembah Tuhan, dan
memastikan bahwa kita benar-benar berusaha untuk menghormati dan memuliakan
Dia.
Selain
itu, Tuhan ingin kita memahami bahwa hubungan kita dengan-Nya bukan hanya
tentang ritual lahiriah atau ibadah keagamaan.
Ini
tentang hati kita dan keberadaan kita yang paling dalam.
Yesus
berkata dalam Yohanes 4, ayat 23 dan ayat 24, "Tetapi waktunya akan tiba,
dan sekarang sudah tiba, ketika penyembah-penyembah yang benar akan menyembah
Bapa dalam roh dan kebenaran, karena Bapa mencari orang-orang seperti itu untuk
menyembah Dia.
Allah
adalah roh, dan mereka yang menyembah Dia, harus menyembah dalam roh dan
kebenaran."
Tuhan
menginginkan hati kita, dan Dia ingin kita menyembah Dia dalam roh dan
kebenaran.
Ini
berarti bahwa kita harus tulus dan jujur dalam hubungan kita dengan-Nya, dan berusaha
untuk bertumbuh dalam kasih dan pengabdian kita kepada-Nya.
Kita
tidak bisa begitu saja mengikuti gerakan atau mempersembahkan sisa usia atau
harta kita kepada-Nya.
Kita
harus memberikan yang terbaik kepada-Nya, dengan hati yang tulus dan murni.
Apa
Yang Harus Kita Terapkan, Dalam Kehidupan Kita?
Kita
perlu memeriksa hati dan motif kita dalam beribadah kepada Allah.
Kita
perlu bertanya pada diri kita sendiri, apakah kita benar-benar berusaha untuk
menghormati dan memuliakan Tuhan, atau apakah kita hanya melakukannya secara
asal-asalan.
Jika
kita menemukan sesuatu di dalam hati kita yang tidak menyenangkan Tuhan, kita
perlu bertobat dan meminta pengampunan dari Tuhan.
Kita
perlu mempersembahkan yang terbaik kepada Tuhan dalam ibadah kita, tidak hanya
sekadar melakukan sesuatu, atau mempersembahkan sisa-sisa kita kepada-Nya.
Ini
berarti bahwa kita perlu memberikan waktu kita, sumber daya kita, dan bakat
kita kepada-Nya.
Kita
perlu menyembah Tuhan dalam roh dan kebenaran, dengan hati yang tulus dan
jujur.
Kita
tidak bisa begitu saja mengikuti aktifitas, atau mempersembahkan penyembahan,
yang tidak tulus kepada-Nya.
Kita
perlu berusaha untuk tumbuh dalam cinta dan pengabdian kita kepada Tuhan, dan
memperdalam hubungan kita dengan-Nya.
Ini
berarti menghabiskan waktu untuk berdoa dan membaca Alkitab, dan berusaha untuk
mematuhi perintah-perintah-Nya.
Pada
akhirnya, kita perlu mengingat bahwa hubungan kita dengan Tuhan bukan hanya
tentang ritual lahiriah atau ketaatan beragama.
Ini
tentang hati kita dan keberadaan kita yang paling dalam.
Tuhan
menginginkan hati kita, dan Dia ingin kita menyembah Dia dengan ketulusan dan
keaslian.
Semoga
kita menanggapi pesan Tuhan ini dengan memeriksa hati kita, bertobat dari
segala sesuatu yang tidak berkenan kepada-Nya, dan mempersembahkan yang terbaik
kepada-Nya dalam ibadah kita sehari-hari.
Doa
Hari Ini...
Tuhan
Yesus,
Kami
datang ke hadapan Tuhan hari ini, untuk berkomitmen, untuk menyembah Tuhan
dengan ketulusan dan kemurnian.
Kami
bertobat dari apa pun di hati kami, yang tidak menyenangkan Tuhan, dan kami
mempersembahkan yang terbaik dalam ibadah.
Bantu
kami untuk tumbuh dalam kasih dan pengabdian kami kepada Tuhan, dan untuk
memperdalam hubungan kami dengan Tuhan.
Kami
berdoa agar kami selalu ingat, bahwa hubungan kami dengan Tuhan, bukan hanya
tentang ritual lahiriah atau ibadah keagamaan, tetapi tentang hati dan
keberadaan terdalam kami.
Terima
kasih atas cinta dan kasih sayang Tuhan terhadap kami, dan bantu kami untuk
tidak pernah menodainya.
Kami
pohonkan doa ini dalam nama Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami.
Amin.
Kiranya
Tuhan Menguatkan Kita, dan Kasih Karunia Tuhan Yesus, Menyertai Kita.
Komentar
Posting Komentar