Langsung ke konten utama

Jangan Tertipu Oleh Penampilan Luar Kesalehan Seseorang. Matius 7: 15-19 SBU GPIB Sangkakala

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini,

adalah:

 

Jangan Tertipu Oleh Penampilan Luar Kesalehan Seseorang.

 

Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Matius 7, ayat 15 sampai ayat 19, yang berbunyi sebagai berikut:

 

 "Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.

 Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?

 Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. 

 Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik.

 Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.

 

Demikian Pembacaan Alkitab. Hale luya.

 

 

Apa Isi Firman Tuhan ini, dan tentang apa.

 

Matius 7, ayat 15 sampai ayat 19, adalah bagian dari Khotbah Yesus di Bukit, di mana dia mengajar murid-muridnya dan orang banyak, yang berkumpul di sekelilingnya, tentang sifat kerajaan Allah, dan bagaimana menjalani kehidupan yang benar.

Dalam perikop ini, Yesus memperingatkan para pendengarnya tentang nabi-nabi palsu, yaitu orang-orang yang mengaku sebagai utusan Tuhan, berbicara atas nama Tuhan, tetapi sebenarnya menyesatkan orang lain.

Di Israel kuno, nabi palsu telah menjadi masalah yang nyata, dan kehadiran mereka sering kali dikaitkan dengan masa kemerosotan rohani, dan kemerosotan moral.

Untuk membantu para pendengarnya mengidentifikasi nabi palsu, Yesus menggunakan perumpamaan pohon dan buahnya, sebagai analogi untuk mengilustrasikan, bagaimana seseorang dapat membedakan, apakah seseorang adalah nabi palsu, atau bukan.

Sama seperti pohon yang sehat, akan menghasilkan buah yang baik, dan pohon yang tidak sehat akan menghasilkan buah yang tidak baik, demikian juga nabi yang benar, akan menghasilkan perbuatan yang baik, dan nabi palsu akan menghasilkan perbuatan yang buruk.

Dengan kata lain, Yesus mengatakan, bahwa sama seperti kita dapat mengetahui kualitas sebuah pohon dari buah yang dihasilkannya, kita dapat mengetahui karakter seseorang, dari tindakan yang mereka lakukan.

Seorang nabi palsu mungkin berbicara dengan kata-kata yang meyakinkan, tetapi tindakan mereka akan mengungkapkan sifat asli mereka.

Orang yang konsisten menghasilkan perbuatan baik, adalah sama seperti pohon yang baik, sedangkan orang yang konsisten menghasilkan perbuatan buruk, adalah sama seperti pohon yang buruk.

Yesus menyimpulkan dengan mengatakan bahwa mereka yang tidak menghasilkan buah yang baik, pada akhirnya akan dihancurkan.

Ini adalah peringatan bagi para pendengarnya, untuk berhati-hati tentang siapa yang mereka ikuti, dan memastikan, bahwa mereka mengikuti seseorang yang benar-benar saleh, dan menghasilkan buah yang baik.

Yesus memperjelas, bahwa tidaklah cukup bagi seseorang, untuk sekadar membicarakan pengajaran yang bagus. Mereka juga harus mendukung kata-kata mereka, dengan tindakan yang sesuai dengan pengajaran mereka.

Dengan kata lain, jika seseorang mengaku sebagai nabi atau guru Tuhan, tetapi tindakannya tidak sesuai dengan perkataannya, maka dia adalah nabi palsu, dan harus dihindari.

Bagian ini juga membawa pesan yang lebih luas, tentang pentingnya menjalani kehidupan yang benar.

Yesus menekankan, bahwa tindakan kita, mengungkapkan karakter kita yang sebenarnya, dan bahwa mereka yang secara konsisten melakukan perbuatan baik, adalah seperti pohon yang sehat yang menghasilkan buah yang baik.

Sebaliknya, orang yang terus-menerus melakukan perbuatan buruk, adalah seperti pohon sakit, yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan pada akhirnya akan ditebang.

Secara keseluruhan, Matius 7, ayat 15 sampai ayat 19 ini, adalah pengingat yang kuat, bahwa tindakan kita berbicara lebih keras daripada kata-kata kita, dan bahwa kita harus waspada terhadap nabi palsu, yang mengaku berbicara atas nama Tuhan, tetapi tidak menjalankan pesan mereka, dalam kehidupan sehari-hari.

Matius 7, ayat 15 sampai ayat 19 ini, juga mengingatkan kita, untuk tidak tertipu oleh penampilan luar dari kesalehan seseorang.

Perikop ini berbicara tentang pentingnya melihat lebih dari sekedar penampilan, untuk mengetahui karakter sebenarnya dari mereka, yang mengaku sebagai nabi, atau utusan Tuhan.

Kita harus seperti anak-anak, yang dalam proses mencari kebenran, lebih banyak mendengar dengan ‘mata’ mereka, ketimbang telinga mereka.

Firman Tuhan ini, sama relevan-nya untuk hari ini, sama seperti di masa lalu.

Kita hidup di dunia, di mana banyak orang, dapat menampilkan penampilan yang bagus, dan membuat diri mereka tampak saleh, tetapi tindakan mereka menceritakan kisah yang berbeda.

Seringkali kita dapat mendengarkan informasi dari orang-orang terdekat mereka, seperti asisten rumah tangga, atau supir mereka, yang akan sangat berbeda, dari pengajaran dan penampilan mereka.

Kita harus berhati-hati agar tidak tertipu, oleh mereka yang mengaku sebagai pemimpin agama, tetapi hidupnya tidak sejalan dengan ajaran Allah.

Apalagi jika dibandingkan dengan pengajaran Tuhan Yesus, yang dituangkan dalam Matius pasal 5 sampai pasal 7.

Sebagai orang Kristen, kita dipanggil untuk menjalani kehidupan yang benar, yang menyenangkan hati Tuhan.

Kita dipanggil untuk menghasilkan buah yang baik, melakukan pekerjaan baik, dan mengikuti teladan Kristus dalam segala hal yang kita lakukan.

Tidaklah cukup hanya berbicara tentang iman kita, atau dengan rajin menghadiri ibadah di gereja.

Kita juga harus menghidupi iman kita, dalam kehidupan kita sehari-hari.

Jadi, marilah kita waspada dalam membedakan orang-orang, yang mengaku sebagai imam Allah.

Jangan sampai kita terbuai oleh kata-kata atau penampilan mereka, melainkan melihat tindakan mereka, untuk membedakan karakter mereka yang sebenarnya.

Dan marilah kita berusaha, untuk menjadi seperti pohon yang sehat, yang menghasilkan buah yang baik, menjalani kehidupan yang menyenangkan hati Tuhan, dan menjadi saksi kasih dan anugerah-Nya, dalam semua yang kita katakan dan lakukan.

 

 

Apa Pesan Tuhan Untuk Kita?

 

Dalam perikop ini, Tuhan mengingatkan kita, bahwa kesalehan sejati, bukan hanya tentang penampilan luar, tetapi juga tentang buah yang baik, yang harus kita hasilkan dalam hidup kita.

Tuhan ingin kita bisa melihat, melampaui penampilan luar kesalehan, dan untuk fokus pada karakter mereka, yang mengaku saleh.

Kita tidak boleh tertipu oleh mereka, yang berbicara tentang ajaran yang terlihat bagus, tetapi palsu, karena kata-kata mereka, tidak dapat dibuktikan dengan tindakan mereka.

Sebaliknya, kita harus melihat apakah hidup mereka menghasilkan buah yang baik, yang merupakan bukti dari hubungan yang benar dengan Tuhan.

Buah baik, yang Yesus maksudkan dalam bagian ini, mencakup tindakan seperti cinta kasih, belas kasihan, pengampunan, kebaikan, kejujuran, dan pengendalian diri.

Inilah sifat-sifat yang harus nyata dalam kehidupan orang-orang, yang mengaku sebagai pengikut ajaran Tuhan yang benar.

Jika kehidupan seseorang tidak menghasilkan buah-buah ini, maka klaim mereka sebagai orang yang saleh, perlu dipertanyakan.

Dengan pesan agar kita menjalani hidup yang terfokus pada menghasilkan buah yang baik, juga berarti menjalani kehidupan yang menyenangkan hati Tuhan, tidak hanya di permukaan, tetapi di setiap aspek keberadaan kita.

Kita harus berusaha untuk menumbuhkan kualitas cinta, kebaikan, dan welas asih di dalam hati kita, dan membiarkannya tercermin, dalam tindakan kita terhadap orang lain.

Singkatnya, pesan Tuhan dari Matius 7, ayat 15 sampai ayat 19, adalah bahwa kesalehan sejati, bukan hanya tentang penampilan luar, tetapi juga tentang buah yang kita hasilkan dalam hidup kita.

Kita harus berusaha untuk menumbuhkan kualitas cinta kasih, pengampunan, kebaikan, dan welas asih di dalam hati kita, dan membiarkannya tercermin dalam tindakan kita terhadap orang lain.

 

 

Apa Yang Harus Kita Terapkan, Dalam Kehidupan Kita?

 

Kita harus mencari Tuhan melalui doa dan meditasi.

Kita harus menggunakan waktu khusus untuk berdoa dan bermeditasi, mencari tuntunan dan hikmat Tuhan.

Minta Tuhan untuk membantu kita, memupuk hati yang berkenan kepada-Nya.

Kita harus mempelajari, dan menerapkan Firman Tuhan.

Baca Alkitab secara teratur, khususnya khotbah di Bukit, dan menerapkan ajarannya dalam hidup kita.

Alkitab adalah sumber hikmat dan tuntunan, dan dapat membantu kita bertumbuh dalam pemahaman kita, akan kehendak Tuhan bagi hidup kita.

Kita harus mempraktekkan kerendahan hati.

Ketahuilah bahwa, kesalehan sejati bukanlah tentang penampilan luar atau pencapaian, tetapi tentang kondisi hati Kita.

Tanamkan semangat kerendahan hati, dan berusahalah untuk melayani orang lain, daripada mencari pengakuan untuk diri sendiri.

Kita harus mengasihi orang lain.

Tuhan memanggil kita, untuk mengasihi orang lain, seperti kita mengasihi diri kita sendiri.

Ini berarti menunjukkan kasih sayang, kebaikan, dan rasa hormat, kepada semua orang, terlepas dari latar belakang, kepercayaan, atau gaya hidup mereka.

Saat kita mengasihi orang lain, kesalehan kita secara alami akan terpancar.

Kita harus menjalani kehidupan yang berintegritas.

Berusahalah untuk menjalani kehidupan yang berintegritas, dengan tindakan kita, selaras dengan keyakinan kita.

Berusahalah untuk jujur, apa adanya, dan adil dalam semua urusan kita, dan berusahalah untuk menjadi pengaruh positif bagi orang-orang di sekitar Kita.

Singkatnya, untuk menjadi saleh dan membiarkan kesalehan kita keluar, kita perlu memupuk hubungan yang dekat dengan Tuhan, mempelajari dan menerapkan Firman-Nya, mempraktekkan kerendahan hati, mengasihi orang lain, dan menjalani kehidupan yang berintegritas.

Dengan melakukan itu, kita bisa menjadi orang, yang menghasilkan buah yang baik, dan yang hidupnya mencerminkan kasih dan anugrah Tuhan.

 

 

Doa Hari Ini...

 

Tuhan Yesus,

"Ya Tuhan, kami datang kepada Tuhan hari ini dengan kerendahan hati, meminta bantuan Tuhan untuk menjadi lebih saleh. Kami menyadari bahwa kesalehan sejati bukan hanya tentang penampilan luar, tetapi tentang kondisi hati kami. Kami berdoa agar Tuhan membantu kami untuk menumbuhkan hati yang menyenangkan Tuhan, penuh dengan cinta, kasih sayang, dan kebaikan terhadap orang lain.

Tuhan, kami meminta bimbingan Tuhan saat kami berusaha menyelaraskan pikiran, perkataan, dan tindakan kami dengan kehendak Tuhan. Bantu kami untuk mempelajari Firman Tuhan dan menerapkan ajarannya dalam hidup kami. Tunjukkan pada kami bagaimana mencintai orang lain seperti Tuhan mencintai kami, dan beri kami kekuatan dan keberanian untuk menjalani kehidupan yang berintegritas, dengan tindakan kami sejalan dengan keyakinan kami.

Bapa, kami meminta Tuhan untuk membantu kami mengatasi rintangan atau godaan apa pun yang mungkin menghadang kami. Berilah kami kebijaksanaan untuk mengenali ajaran atau sikap palsu yang dapat menghambat pertumbuhan kami dalam kesalehan, dan keberanian untuk membela apa yang benar.

Tuhan, kami berdoa agar kesalehan batin kami dapat bersinar dalam semua yang kami lakukan. Semoga kami menjadi pengaruh positif bagi orang-orang di sekitar kami, dan semoga hidup kami mencerminkan cinta dan rahmat Tuhan.

Terima kasih Tuhan, atas penyertaan dan bimbingan-Mu yang tak henti-hentinya dalam hidupku. Kami percaya pada janji Tuhan dan percaya bahwa dengan bantuan Tuhan, kami bisa menjadi orang saleh seperti yang Tuhan inginkan. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin."

Kami pohonkan doa ini dalam nama Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami.

Amin.

 

Kiranya Tuhan Menguatkan Kita, dan Kasih Karunia Tuhan Yesus, Menyertai Kita.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dusta Dan Kompromi, Tidak Mampu Menutupi Kekuatan Kebenaran. Matius 28: 11-15 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Dusta Dan Kompromi, Tidak Mampu Menutupi Kekuatan Kebenaran.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Matius 28, ayat 11 sampai ayat 15, yang berbunyi sebagai berikut:    Ketika mereka di tengah jalan, datanglah beberapa orang dari penjaga itu ke kota dan memberitahukan segala yang terjadi itu kepada imam-imam kepala.   Dan sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu   dan berkata: "Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur.   Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa."   Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Dan ceritera i...

Hidup Bijaksana, Di Dunia Yang Penuh Kebodohan. Efesus 5:15-16 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Hidup Bijaksana, Di Dunia Yang Penuh Kebodohan.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Efesus 5, ayat 15 sampai ayat 16, yang berbunyi sebagai berikut:    Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,   dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.     Demikian Pembacaan Alkitab. Hale luya.     Apa Isi Firman Tuhan ini, dan tentang apa.   Efesus 5, ayat 15 dan ayat 16, adalah bagian dari Alkitab Perjanjian Baru, khususnya dari kitab Efesus. Untuk memahami isi, makna, dan maksudnya, penting untuk mempertimbangkan konteks kitab yang lebih luas dan ayat-ayat spesifiknya.   Kitab Efesus ditulis oleh rasul Paulus, dan berfungsi sebagai surat kepada komunitas Kristen mula-mula di Efesus...

Kasih dan Perhatian Tuhan, Tercermin Dalam Keagungan Ciptaan-Nya. Kejadian 1: 14-19 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Kasih dan Perhatian Tuhan, Tercermin Dalam Keagungan Ciptaan-Nya.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Kejadian 1, ayat 14 sampai ayat 19, yang berbunyi sebagai berikut:      Berfirmanlah Allah: "Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun,  dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi." Dan jadilah demikian.   Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang.  Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi,   dan untuk menguasai siang dan malam, dan untu...