Langsung ke konten utama

Tak Seorang pun Punya Hak Untuk Marah. Yunus 4: 1-4 | SBU GPIB Sangkakala

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini,

adalah:

 

Tak Seorang pun Punya Hak Untuk Marah.

 

Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Yunus 4, ayat 1 sampai ayat 4, yang berbunyi sebagai berikut:

 

 Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia. 

 Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: "Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya. 

 Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup." 

 Tetapi firman TUHAN: "Layakkah engkau marah?

 

Demikian Pembacaan Alkitab. Hale luya.

 

Apa Isi Firman Tuhan ini, dan tentang apa.

Kitab Yunus, adalah narasi yang ditemukan dalam Alkitab Ibrani, dan Perjanjian Lama umat Kristen.

Kisah ini bercerita tentang seorang nabi bernama Yunus, yang dipanggil oleh Tuhan, untuk menyampaikan pesan ke kota Niniwe, tetapi malah mencoba melarikan diri dari perintah Tuhan, dan akhirnya ditelan oleh seekor ikan besar.

Dalam perikop ini, Yunus marah kepada Tuhan karena penduduk Niniwe telah bertobat, dan berbalik dari jalan kejahatan mereka, dan Tuhan telah memutuskan untuk tidak menghancurkan kota itu.

Yunus kesal dengan Tuhan, karena Tuhan menunjukkan belas kasihan kepada penduduk Niniwe.

Yunus menjelaskan, bahwa inilah alasan mengapa dia mencoba melarikan diri dari Tuhan sejak awal, karena dia tahu bahwa Tuhan adalah, "Tuhan yang pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih."

Yunus marah, dan meminta Tuhan untuk mengambil nyawanya, mengatakan bahwa dia lebih baik mati.

Tuhan bertanya kepada Yunus apakah dia berhak marah atas situasi tersebut?

Kemarahan Yunus terhadap Tuhan, dimaksudkan untuk menyoroti kesempitan pikiran Yunus, dan kurangnya belas kasihannya terhadap penduduk Niniwe, yang dia lihat sebagai musuhnya.

Bagian ini menekankan kemurahan dan kasih sayang Tuhan, bahkan terhadap mereka yang telah berdosa besar, karena memusuhi umat Tuhan, dan menunjukkan, bahwa jalan Tuhan, tidak selalu dapat diprediksi, atau dimengerti oleh manusia.

Permintaan Yunus untuk mati, adalah cara yang dramatis, untuk mengungkapkan rasa frustrasinya terhadap situasi tersebut, dan juga menggarisbawahi ketidakpercayaannya, pada rencana Allah.

Pertanyaan Tuhan kepada Yunus di akhir perikop ini, menantangnya untuk merenungkan sikapnya sendiri, dan mempertimbangkan, apakah kemarahannya dapat dibenarkan, atau tidak.

Kemarahan Yunus dapat dimengerti dalam beberapa hal, tetapi juga salah arah.

Dia berasumsi, bahwa dia tahu lebih baik daripada Tuhan, dan bahwa dia berhak untuk marah, ketika hal-hal selanjutnya yang terjadi, tidak berjalan sesuai keinginannya.

Tapi sebenarnya, kita tidak punya hak untuk marah kepada Tuhan.

Tuhan adalah pencipta alam semesta, dan dia tahu apa yang terbaik untuk kita.

Bahkan ketika kita tidak memahami jalannya, kita seharusnya percaya, bahwa Dia memiliki rencana, dan tujuan untuk hidup kita.

Kemarahan kita terhadap Tuhan, hanya menjauhkan kita darinya, dan mencegah kita mengalami kepenuhan kasih, dan anugerah-Nya.

Jadi, apa yang menyebabkan kita marah kepada Tuhan?

Seringkali, hal itu disebabkan, karena kita berfokus pada hasrat dan keinginan kita sendiri, bukan pada kehendak Tuhan bagi hidup kita.

Kita mungkin kesal karena tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, atau karena Tuhan mengizinkan sesuatu yang sulit, terjadi pada kita.

Tetapi ketika kita berfokus pada diri kita sendiri daripada pada Tuhan, kita akan membuat diri kita kecewa, dan frustrasi.

Alasan lain mengapa kita marah kepada Tuhan, adalah karena kita tidak sepenuhnya percaya kepada-Nya.

Kita mungkin percaya kepada Tuhan, dan percaya bahwa Dia baik, tetapi kita mungkin tidak sepenuhnya yakin, bahwa Tuhan akan mengutamakan kepentingan kita.

Kita mungkin takut untuk menyerahkan kendali sepenuhnya kepada Tuhan, jadi kita memendam amarah kita, sebagai cara mempertahankan kendali, atas hidup kita.

Namun kenyataannya, kemarahan kita kepada Tuhan, tidak menghasilkan sesuatu yang positif.

Itu tidak mengubah rencana Tuhan, atau membuatnya kurang mencintai kita.

Sebaliknya, itu hanya merugikan kita, dengan mencegah kita mengalami kedamaian, dan sukacita yang datang dari mempercayai kasih, dan kebaikan Allah.

Sebenarnya, kemarahan kita, adalah cerminan dari perspektif kita yang terbatas.

Kita hanya melihat sebagian kecil dari teka-teki, atau misteri dalam hidup kita, sementara Tuhan melihat gambaran keseluruhannya.

Kita mungkin tidak mengerti, mengapa Tuhan mengizinkan hal-hal tertentu terjadi, tetapi kita lebih baik percaya, bahwa Dia ikut bekerja dalam segala sesuatu, untuk kebaikan kita.

 

Apa Pesan Tuhan Untuk Kita?

Pesan Tuhan bagi kita hari ini yaitu:

Kita perlu ingat, bahwa kita tidak berhak marah kepada-Nya.

Kita dipanggil untuk percaya pada kebaikan, kasih, dan kedaulatan-Nya, bahkan di tengah keadaan kita, yang paling sulit.

Daripada memendam amarah kita kepada Tuhan, sebaiknya kita datang kepada-Nya, dengan kerendahan hati dan kepercayaan, meletakkan beban kita, dan membiarkan Dia bekerja dalam hidup kita.

Namun, bahkan ketika kita jatuh ke dalam kemarahan, kita juga harus ingat, bahwa rahmat Allah lebih besar, dari pada kemarahan kita.

Dia selalu siap dan bersedia mengampuni kita, menunjukkan kepada kita kasih karunia dan kasih sayang, dan mengulurkan kasih-Nya kepada kita.

Apa pun yang telah kita lakukan, sejauh apa pun kita telah menyimpang dari jalan-Nya, Dia selalu siap menyambut kita, kembali ke pelukan kasih-Nya.

Karena itu, kita harus datang kepada-Nya dengan hati yang bertobat, memohon pengampunan-Nya dan bimbingan-Nya dalam hidup kita.

Kita juga harus menyampaikan kasih dan pengampunan-Nya kepada orang-orang di sekitar kita, bahkan saat sulit, seperti yang telah Dia lakukan untuk kita.

Dengan cara ini, kita dapat mengalami kepenuhan rahmat-Nya, kasih karunia-Nya, dan kasih setia-Nya, dan diubahkan, menjadi orang, seperti yang Tuhan inginkan.

 

Apa Yang Harus Kita Terapkan, Dalam Kehidupan Kita?

Daripada memikirkan keadaan kita yang sedang tidak baik, lebih baik kita fokus pada kebaikan, dan kesetiaan Tuhan.

Kita harus meluangkan waktu untuk berdoa dan menyembah, merenungkan janji-janji-Nya, dan berterima kasih kepada-Nya, atas semua berkat dalam hidup kita.

Kita harus belajar mempercayai Tuhan, sekalipun kita tidak mengerti apa yang Dia lakukan dalam hidup kita.

Kita dapat melakukannya dengan menghabiskan waktu untuk merenungkan Firman-Nya, mendengarkan suara-Nya, dan mengikuti pimpinan-Nya.

Kita harus percaya, bahwa Tuhan memikirkan yang terbaik bagi kita, dan bahwa Dia turut bekerja, dalam segala sesuatu, untuk kebaikan kita.

Saat kita menghadapi keadaan sulit atau saat kita tergoda untuk marah kepada Tuhan, kita harus ingat, bagaimana Dia setia kepada kita di masa lalu.

Kita dapat mengingat, bagaimana Dia telah menyediakan bagi kita, melindungi kita, dan membimbing kita melewati masa-masa sulit.

Kita harus menyerahkan kehendak kita pada kehendak Tuhan, percaya bahwa Dia tahu apa yang terbaik untuk kita.

Kita harus meminta bimbingan dan arahan-Nya dalam hidup kita, dan bersedia mengikuti kemanapun Dia memimpin.

Dengan mengambil langkah-langkah ini, kita dapat mengembangkan hati yang bersyukur dan percaya kepada Tuhan.

Kita bisa menghindari amarah kepada-Nya, dan malah bersyukur atas rahmat-Nya yang lebih besar, dari amarah kita.

Pada akhirnya, kita akan mengalami kepenuhan kasih-Nya, kedamaian-Nya, dan sukacita-Nya dalam hidup kita.

 

Doa Hari Ini...

Tuhan Yesus,

 

Saat kami teringat akan kemarahan Yunus terhadap Tuhan, kami akui, bahwa kami juga sering marah, kepada Tuhan.

Ampuni kami karena kurangnya kepercayaan dan keengganan kami, untuk menyerahkan keinginan kami kepada Tuhan.

Tuhan, bantu kami untuk mengingat, bahwa Tuhan adalah Tuhan yang penuh belas kasihan, dan kasih Tuhan, jauh lebih besar dari kemarahan kami.

Tuhan itu panjang sabar dan baik hati, lambat marah, dan berlimpah cinta kasih.

Tolong bantu kami untuk percaya pada kebaikan dan kesetiaan Tuhan, bahkan ketika kami tidak mengerti, apa yang Tuhan lakukan dalam hidup kami.

Tuhan, bantu kami untuk menumbuhkan hati yang bersyukur, dan percaya pada Tuhan.

Bantu kami untuk fokus pada kebaikan Tuhan, dan mengingat kesetiaan Tuhan di masa lalu.

Kami menyerahkan keinginan kami kepada Tuhan, dan meminta bimbingan dan arahan Tuhan dalam hidup kami.

Tuhan, kami berterima kasih atas belas kasihan, dan kasih setia Tuhan.

Terima kasih telah mengirimkan putra Tuhan, Yesus Kristus, untuk mati bagi dosa-dosa kami, sehingga kami dapat memiliki hidup yang kekal bersama Tuhan.

Kami berdoa agar Tuhan terus bekerja di hati kami, dan mengubah kami menjadi orang, seperti yang Tuhan inginkan.

Kami pohonkan doa ini dalam nama Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami.

Amin.

 

Kiranya Tuhan Menguatkan Kita, dan Kasih Karunia Tuhan Yesus, Menyertai Kita.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dusta Dan Kompromi, Tidak Mampu Menutupi Kekuatan Kebenaran. Matius 28: 11-15 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Dusta Dan Kompromi, Tidak Mampu Menutupi Kekuatan Kebenaran.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Matius 28, ayat 11 sampai ayat 15, yang berbunyi sebagai berikut:    Ketika mereka di tengah jalan, datanglah beberapa orang dari penjaga itu ke kota dan memberitahukan segala yang terjadi itu kepada imam-imam kepala.   Dan sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu   dan berkata: "Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur.   Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa."   Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Dan ceritera i...

Hidup Bijaksana, Di Dunia Yang Penuh Kebodohan. Efesus 5:15-16 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Hidup Bijaksana, Di Dunia Yang Penuh Kebodohan.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Efesus 5, ayat 15 sampai ayat 16, yang berbunyi sebagai berikut:    Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,   dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.     Demikian Pembacaan Alkitab. Hale luya.     Apa Isi Firman Tuhan ini, dan tentang apa.   Efesus 5, ayat 15 dan ayat 16, adalah bagian dari Alkitab Perjanjian Baru, khususnya dari kitab Efesus. Untuk memahami isi, makna, dan maksudnya, penting untuk mempertimbangkan konteks kitab yang lebih luas dan ayat-ayat spesifiknya.   Kitab Efesus ditulis oleh rasul Paulus, dan berfungsi sebagai surat kepada komunitas Kristen mula-mula di Efesus...

Kasih dan Perhatian Tuhan, Tercermin Dalam Keagungan Ciptaan-Nya. Kejadian 1: 14-19 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Kasih dan Perhatian Tuhan, Tercermin Dalam Keagungan Ciptaan-Nya.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Kejadian 1, ayat 14 sampai ayat 19, yang berbunyi sebagai berikut:      Berfirmanlah Allah: "Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun,  dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi." Dan jadilah demikian.   Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang.  Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi,   dan untuk menguasai siang dan malam, dan untu...