Langsung ke konten utama

“Takjub akan Kasih dan Kasih Sayang Tuhan”. Maleakhi 1: 1-5 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini,

adalah:

 

“Takjub akan Kasih dan Kasih Sayang Tuhan”.

 

Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Maleakhi 1, ayat 1 sampai ayat 5, yang berbunyi sebagai berikut:

 

Ucapan ilahi. Firman TUHAN kepada Israel dengan perantaraan Maleakhi.

"Aku mengasihi kamu," firman TUHAN. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah Engkau mengasihi kami?" "Bukankah Esau itu kakak Yakub?" demikianlah firman TUHAN. "Namun Aku mengasihi Yakub,

 tetapi membenci Esau. Sebab itu Aku membuat pegunungannya menjadi sunyi sepi dan tanah pusakanya Kujadikan padang gurun. " 

 Apabila Edom berkata: "Kami telah hancur, tetapi kami akan membangun kembali reruntuhan itu," maka beginilah firman TUHAN semesta alam: "Mereka boleh membangun, tetapi Aku akan merobohkannya; dan orang akan menyebutkannya daerah kefasikan dan bangsa yang kepadanya TUHAN murka sampai selama-lamanya." 

 Matamu akan melihat dan kamu sendiri akan berkata: "TUHAN maha besar sampai di luar daerah Israel. 

 

Demikian Pembacaan Alkitab. Hale luya.

 

 

Apa Isi Firman Tuhan ini, dan tentang apa.

 

Ayat-ayat ini berisi nubuatan dari Maleakhi, yang Tuhan sampaikan kepada umat Israel.

Tuhan mulai dengan menegaskan kasih-Nya kepada Israel, tetapi Israel mempertanyakan bagaimana Tuhan telah mengasihi mereka.

Tuhan menanggapi dengan mengingatkan mereka tentang sejarah Yakub dan Esau, saudara kandung, dari ibu dan ayah yang sama.

Tuhan menyatakan bahwa Dia memilih untuk mencintai Yakub tetapi membenci Esau, dan dengan demikian tanah Esau dihancurkan, dan warisannya menjadi rumah bagi serigala dan hewan liar.

 

Meskipun kemudian, Edom, keturunan Esau, berusaha membangun kembali negeri mereka, Tuhan akan meruntuhkannya, dan selanjutnya, mereka akan dikenal sebagai wilayah yang jahat, selamanya berada di bawah penghakiman Allah.

Perikop ini menyoroti kedaulatan Allah dalam memilih siapa yang akan dikasihi, dan mendapatkan kebenaran-Nya, dalam menghukum kejahatan.

 

Kasih Tuhan bagi kita adalah topik yang tidak akan pernah habis, dan kita perlu terus merenungkannya setiap hari.

Itu adalah kasih yang teguh dan kokoh, tidak berubah, dan tidak pernah berakhir.

Itu adalah cinta kasih yang tidak mengenal batas, dan itu adalah cinta yang selalu tersedia bagi kita, terlepas dari keadaan atau status kita.

 

Apa saja ciri-ciri kasih Allah itu.

 

Kasih Allah adalah sebuah pilihan.

Kitab Maleakhi dimulai dengan Allah menyatakan kasih-Nya kepada Israel.

Namun, orang-orang menanggapi dengan skeptis, dan bertanya, "Bagaimana Anda mencintai kami?"

Mereka tidak yakin tentang kasih Tuhan bagi mereka.

Tapi, Tuhan langsung menanggapinya.

Dia mengingatkan mereka tentang kisah Yakub dan Esau, dan bagaimana Dia memilih untuk mengasihi Yakub, meskipun Esau adalah saudara kandungnya.

Tuhan memilih untuk mencintai Yakub, bukan karena apa yang telah dilakukan Yakub untuk mendapatkan cinta-Nya, tetapi hanya karena Tuhan memutuskan untuk mencintainya.

Dan hal yang sama berlaku untuk kita. Kasih Tuhan tidak didasarkan pada kelayakan atau jasa kita, tetapi pada pilihan Tuhan sendiri untuk mengasihi kita.

Kita tidak mampu melakukan apa pun untuk mendapatkan kasih-Nya, dan kita tidak dapat melakukan apa pun untuk bisa kehilangan kasih-Nya.

 

Kasih Tuhan tidak bersyarat.

Terlepas dari keraguan dan pertanyaan Israel, kasih Tuhan bagi mereka tetap teguh.

Dan hal yang sama berlaku untuk kita.

Kasih Tuhan tidak tergantung pada perilaku atau kinerja kita, apakah kita menerimanya, atau meragukannya.

Dia mengasihi kita bahkan dalam kelemahan dan kegagalan kita, dan kasih-Nya tidak berkurang karena kesalahan atau dosa kita.

Kita tidak pernah bisa lepas dari dosa, tapi juga tidak bisa kehilangan kasih Allah.

Ketika kita memahami kebenaran ini, itu dapat mengubah hidup kita.

Kita akhirnya bisa beristirahat dan berhenti berjuang untuk mendapatkan kasih Tuhan, dan sebaliknya, kita bisa beristirahat dalam kepastian, bahwa kita dicintai oleh-Nya, apapun yang terjadi.

 

Kasih Tuhan adalah pengorbanan.

Kisah Yakub dan Esau, juga mengingatkan kita akan sifat pengorbanan dari kasih Allah.

Kasih Tuhan kepada Yakub, berarti Dia harus menolak Esau, dan Tuhan sendiri menyatakan bahwa dia "membenci" Esau.

Ini mungkin tampak kasar bagi kepekaan modern kita, tetapi ini menunjukkan fakta bahwa kasih Allah sering membutuhkan pengorbanan.

Nyatanya, ekspresi tertinggi dari kasih Allah ditemukan dalam Yesus Kristus, yang memberikan hidup-Nya bagi kita di kayu salib.

Alkitab berkata dalam Yohanes 3, ayat 16,

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

 

Kasih Allah bersifat pribadi.

Kasih Tuhan bukan hanya cinta kasih yang sifatnya umum, untuk umat manusia.

Itu adalah cinta kasih yang sifatnya pribadi, bagi kita masing-masing.

Alkitab berkata dalam Mazmur 139 ayat 14,

Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya. 

Tuhan menciptakan kita masing-masing secara unik, dengan tujuan dan panggilan tertentu.

Dia mengasihi kita sebagai individu, bukan hanya sebagai bagian dari kelompok.

Dia mengetahui kebutuhan kita, keinginan kita, dan ketakutan kita, dan Dia peduli terhadap semua itu.

 

Kasih Allah itu melindungi.

Kasih Allah kepada kita bukan sekedar kasih yang pasif.

Itu juga cinta yang melindungi.

Dia melindungi kita dari mara bahaya, seperti seorang gembala melindungi dombanya dari serigala.

Alkitab berkata dalam Mazmur 91, ayat 4,

Dengan kepak-Nya Ia akan menudungi engkau, di bawah sayap-Nya engkau akan berlindung, kesetiaan-Nya ialah perisai dan pagar tembok. 

Ketika kita menyadari betapa Tuhan mengasihi kita, dan betapa Dia melindungi kita, kita dapat menemukan kenyamanan dan keamanan di tengah keadaan yang sulit.

Kita dapat percaya bahwa Dia, tidak akan pernah meninggalkan kita, atau mengabaikan kita, dan bahwa Dia akan selalu bersama kita, memimpin kita, dan membimbing kita di sepanjang jalan hidup kita.

 

Kasih Allah bersifat transformatif.

Kasih Tuhan memiliki kekuatan, untuk mengubah kita dari dalam ke luar.

Ketika kita menerima kasih-Nya, dan membiarkannya menembus hati kita, kita pasti diubahkan.

Kita menjadi lebih seperti Dia, dan sikap serta tindakan kita mencerminkan karakter-Nya yang penuh kasih.

Alkitab berkata dalam 2 Korintus 5, ayat 17,

Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. 

Ketika kita menerima Yesus sebagai Juruselamat dan Tuhan kita, kita dilahirkan kembali, dan cara hidup kita yang lama, akan diganti dengan cara hidup baru, di dalam Kristus.

 

Kasih Tuhan itu abadi.

Kasih Tuhan bagi kita tidak bersifat sementara atau cepat berlalu.

Itu bersifat abadi.

Alkitab berkata dalam Roma 8, ayat 38 dan ayat 39,

Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah, bahkan kematian sekalipun.

Kasih-Nya tidak akan pernah berakhir, dan tidak akan pernah gagal.

 

Kasih Allah itu luar biasa.

Kasih Tuhan kepada kita tidak hanya cukup, tetapi berlimpah.

Dia tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar kita.

Dia melampaui dan berlebihan, dalam menghujani kita dengan berkat dan kebaikan.

Alkitab berkata dalam Efesus 3, ayat 20,

Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, 

Kasih Tuhan tidak dibatasi oleh pemikiran sempit, atau pengharapan kita yang terbatas.

Dia dapat melakukan lebih dari yang dapat kita doakan atau bayangkan.

 

Kasih Allah harus dibagikan.

Kasih Tuhan, bukan hanya untuk kita simpan bagi diri sendiri.

Itu dimaksudkan untuk dibagikan dengan orang lain.

Alkitab berkata dalam 1 Yohanes 4, ayat 11,

"Saudara-saudaraku yang kekasih, karena Allah begitu mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi."

Ketika kita mengalami kedalaman kasih Tuhan, kita tidak bisa tidak, juga membagikannya kepada orang lain.

Kita menjadi duta kasih-Nya, memberikan rahmat, pengampunan, dan kebaikan, kepada orang-orang di sekitar kita.

 

Jadi, kasih Tuhan kepada kita sungguh luar biasa.

Itu adalah cinta yang tanpa syarat, penuh pengorbanan, bersifat pribadi, pelindung, transformatif, abadi, luar biasa, dan dimaksudkan untuk dibagikan.

Ketika kita benar-benar memahami dan menerima kasih Tuhan, itu dapat mengubah hidup kita selamanya.

Kita dapat menemukan ketenangan, keamanan, dan tujuan dalam kasih-Nya, dan kita dapat menjadi lebih seperti Dia, mencerminkan karakter-Nya kepada dunia.

Marilah kita luangkan waktu hari ini untuk berterima kasih kepada Tuhan atas kasih-Nya dan membagikannya kepada orang-orang di sekitar kita.

Semoga kasih-Nya terus memukau kita setiap hari dalam hidup kita.

 

Apa Pesan Tuhan Untuk Kita?

 

Pesan yang Tuhan sampaikan melalui Maleakhi 1, ayat 1 sampai ayat 5, sama relevannya bagi kita hari ini, sama seperti bagi bangsa Israel ribuan tahun yang lalu.

Dalam perikop ini, Allah mengkonfrontasi umat Israel atas kesombongan, dan kegagalan mereka untuk mengenali dan menanggapi kasih-Nya yang besar.

 

Pesan Tuhan kepada kita hari ini jelas.

Kesombongan adalah kekuatan yang berbahaya dan merusak, yang dapat membutakan kita terhadap realitas kasih Tuhan, dan kebutuhan kita akan cinta itu sendiri.

Ketika kita dipenuhi dengan kesombongan, kita menjadi egois, angkuh, dan tidak tahu berterima kasih, gagal mengakui banyak cara, yang telah Tuhan berkati, dan sediakan bagi kita.

 

Kasih Allah bagi kita sangat luas, dalam, dan tak berkesudahan.

Dia telah menunjukkan kepada kita, kasih-Nya melalui pemberian Putra-Nya, Yesus Kristus, yang mati di kayu salib, untuk dosa-dosa kita, dan bangkit kembali, mengalahkan maut, dan menawarkan hidup kekal kepada kita.

Dia terus menunjukkan kasih-Nya kepada kita melalui penyediaan, perlindungan, dan bimbingan-Nya dalam kehidupan kita sehari-hari.

 

Untuk menghindari kesombongan, dan melihat serta menanggapi kasih Tuhan, kita harus memupuk semangat kerendahan hati dan rasa syukur.

Kita harus menyadari bahwa semua yang kita miliki, berasal dari Tuhan, dan bahwa kita bukan apa-apa tanpa Dia.

Kita harus mengakui keberdosaan kita, dan kebutuhan kita akan seorang Juruselamat, dan berpaling kepada Yesus Kristus dalam iman dan pertobatan.

 

Saat kita bertumbuh dalam kerendahan hati dan rasa syukur, kita akan mulai melihat dunia melalui lensa kasih Allah.

Kita akan melihat banyak cara, Dia bekerja dalam hidup kita, dan kehidupan orang-orang di sekitar kita, dan kita akan menanggapinya dengan sukacita, ucapan syukur, dan ketaatan.

 

Apa Yang Harus Kita Terapkan, Dalam Kehidupan Kita?

 

Pertama dan terutama, kita harus menerima kasih dan sayang Tuhan, dengan rasa syukur dan kerendahan hati.

Kita harus mengakui, bahwa kita tidak layak menerima kasih-Nya, dan hanya melalui kasih karunia dan kemurahan-Nya, kita telah diselamatkan.

 

Kedua, kita harus menanggapi kasih Allah, dengan membalas kasih-Nya.

Yesus mengajarkan kepada kita dalam Matius 22 ayat 37, bahwa perintah terbesar adalah untuk "mengasihi Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu."

Artinya, kita harus mengutamakan hubungan kita dengan Tuhan di atas segalanya, dan berusaha mengenal Dia lebih dalam melalui doa, pendalaman Alkitab, ibadah, dan persekutuan dengan orang percaya lainnya.

 

Ketiga, kita harus membiarkan kasih Tuhan mengubah kita dari dalam ke luar.

Sewaktu kita menerima kasih-Nya, dan membiarkannya bekerja di dalam hati kita, kita akan mulai melihat perubahan dalam sikap, tindakan, dan hubungan kita.

Kita akan menjadi lebih penuh kasih, sabar, baik hati, dan pemaaf, mencerminkan karakter Kristus, kepada orang-orang di sekitar kita.

 

Akhirnya, kita harus membagikan kasih Allah kepada sesama.

Ketika kita mengalami kedalaman kasih dan kasih sayang Tuhan bagi kita, mau tak mau kita ingin membaginya dengan orang-orang di sekitar kita.

Ini berarti, bahwa kita harus memiliki niat untuk menjangkau orang lain, membagikan Injil, dan menunjukkan kasih dan belas kasih kepada mereka yang membutuhkan.

 

 

Doa Hari Ini...

 

Tuhan Yesus,

 

Terima kasih atas cinta dan kasih sayangmu yang tak terbatas kepada kami.

Bantu kami untuk menerimanya dengan rasa terima kasih dan kerendahan hati, dan untuk menanggapinya dengan mencintai Tuhan sebagai balasannya.

Ubah hati kami, sehingga kami dapat mencerminkan cintamu, kepada orang-orang di sekitar kami.

Beri kami keberanian dan kekuatan, untuk berbagi cintamu dengan orang lain, dan membawa kemuliaan bagi namamu, dalam semua yang kami lakukan.

 

Kami pohonkan doa ini, dalam nama Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami.

Amin.

 

Kiranya Tuhan Menguatkan Kita, dan Kasih Karunia Tuhan Yesus, Menyertai Kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dusta Dan Kompromi, Tidak Mampu Menutupi Kekuatan Kebenaran. Matius 28: 11-15 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Dusta Dan Kompromi, Tidak Mampu Menutupi Kekuatan Kebenaran.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Matius 28, ayat 11 sampai ayat 15, yang berbunyi sebagai berikut:    Ketika mereka di tengah jalan, datanglah beberapa orang dari penjaga itu ke kota dan memberitahukan segala yang terjadi itu kepada imam-imam kepala.   Dan sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu   dan berkata: "Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur.   Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa."   Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Dan ceritera i...

Hidup Bijaksana, Di Dunia Yang Penuh Kebodohan. Efesus 5:15-16 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Hidup Bijaksana, Di Dunia Yang Penuh Kebodohan.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Efesus 5, ayat 15 sampai ayat 16, yang berbunyi sebagai berikut:    Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,   dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.     Demikian Pembacaan Alkitab. Hale luya.     Apa Isi Firman Tuhan ini, dan tentang apa.   Efesus 5, ayat 15 dan ayat 16, adalah bagian dari Alkitab Perjanjian Baru, khususnya dari kitab Efesus. Untuk memahami isi, makna, dan maksudnya, penting untuk mempertimbangkan konteks kitab yang lebih luas dan ayat-ayat spesifiknya.   Kitab Efesus ditulis oleh rasul Paulus, dan berfungsi sebagai surat kepada komunitas Kristen mula-mula di Efesus...

Kasih dan Perhatian Tuhan, Tercermin Dalam Keagungan Ciptaan-Nya. Kejadian 1: 14-19 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Kasih dan Perhatian Tuhan, Tercermin Dalam Keagungan Ciptaan-Nya.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Kejadian 1, ayat 14 sampai ayat 19, yang berbunyi sebagai berikut:      Berfirmanlah Allah: "Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun,  dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi." Dan jadilah demikian.   Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang.  Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi,   dan untuk menguasai siang dan malam, dan untu...