Langsung ke konten utama

Fatal, Akibat Memercayai Kebohongan Yang Masuk Akal | SBU GPIB Sangkakala | Kejadian 3: 1-5.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini,

adalah:

 

Fatal, Akibat Memercayai Kebohongan Yang Masuk Akal.

 

Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Kejadian 3, ayat 1 sampai ayat 5, yang berbunyi sebagai berikut:

 

 Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?" 

 Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: "Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, 

 tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati. " 

 Tetapi ular itu berkata kepada perempuan i  itu: "Sekali-kali kamu tidak akan mati, 

 tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat." 

 

Demikian Pembacaan Alkitab. Hale luya.

 

 

Apa Isi Firman Tuhan ini, dan tentang apa.

 

Kejadian 3, ayat 1 sampai ayat 5, menggambarkan kejatuhan manusia, dan memperkenalkan konsep dosa awal ke dalam dunia.

Bagian itu dimulai dengan pengenalan tentang ular, yang digambarkan sebagai hewan liar yang paling licik, yang pernah diciptakan Tuhan.

Ular itu berbicara kepada Hawa, dan mempertanyakan perintah Tuhan untuk tidak makan dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.

Ular menyarankan, bahwa jika mereka makan dari pohon, mereka tidak akan mati, tetapi menjadi seperti Tuhan, mengetahui yang baik dan yang jahat.

Bagian itu diakhiri dengan Hawa menyerah pada godaan, dan memakan buah itu, yang menyebabkan Adam juga ikut memakan buah itu, dan keduanya menyadari bahwa mereka telanjang.

 

Pada saat perikop ini ditulis, orang-orang Yahudi sangat memahami pentingnya ketaatan pada perintah-perintah Allah.

Tuhan telah menciptakan dunia yang sempurna, dan Adam dan Hawa tinggal di Taman Eden, di mana mereka memiliki semua yang mereka butuhkan atau inginkan, dengan sebuah pengecualian.

Tuhan telah memberi mereka satu perintah, untuk tidak makan dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.

Perintah ini dirancang untuk menguji kepatuhan mereka kepada Allah, dan untuk mengajari mereka perbedaan antara yang benar dan yang salah.

 

Ular melambangkan pencobaan dan iblis, yang berusaha menipu dan menyesatkan umat manusia.

Kata-kata licik ular menentang perintah Tuhan, dan menaburkan keraguan dalam pikiran Hawa.

Ini adalah contoh pencobaan pertama di dalam Alkitab, dan ini menjadi panggung bagi pergumulan yang berkelanjutan, antara yang baik dan yang jahat sepanjang sejarah manusia.

 

Pendapat ular, bahwa makan dari pohon akan membuat mereka seperti Tuhan, sangatlah penting, karena mengungkapkan, akan adanya keinginan akan kekuatan dan pengetahuan, di luar apa yang telah diberikan Tuhan kepada mereka.

Keinginan ini adalah akar dosa, dan mengarah pada ketidaktaatan pada perintah Tuhan, dan akhirnya, menjadi pemisah manusia dari Allah.

Bagian ini menyoroti konsekuensi dari ketidaktaatan, dan bahaya menyerah pada godaan yang menarik dan masuk akal.

 

Keputusan Hawa untuk memakan buah larangan, nantinya, melambangkan pemberontakan melawan otoritas Tuhan, dan keinginan untuk terlepas dari Tuhan.

Keputusan Adam untuk mengikuti pimpinan Hawa menunjukkan pengaruh dan kuasa pencobaan, yang datang dari pasangannya.

Tindakan mereka berdua, mengakibatkan hilangnya kepolosan dan pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, yang menyebabkan rasa malu, dan kesadaran akan ketelanjangan mereka.

 

Bagian ini juga menyoroti pentingnya tanggung jawab pribadi.

Kisah ini akan berlanjut dengan Hawa mencoba menyalahkan ular, dan Adam mencoba menyalahkan Hawa, dan secara tidak langsung juga menyalahkan Tuhan, yang telah memberikan Hawa kepada Adam.

Keduanya harus bertanggung jawab atas tindakan mereka, dan harus menderita akibat ketidaktaatan mereka.

 

Kesimpulannya, Kejadian 3, ayat 1 sampai ayat 5, adalah bagian penting dalam Alkitab, yang memperkenalkan konsep dosa dan pergumulan antara yang baik dan yang jahat.

Perikop itu menekankan pentingnya kepatuhan terhadap perintah-perintah Allah, bahaya menyerah pada godaan atau pencobaan, dan konsekuensi dari ketidaktaatan.

Itu juga menyoroti keinginan akan kekuasaan dan pengetahuan, di luar apa yang telah diberikan Tuhan, yang merupakan akar dari dosa.

Bagian ini menekankan tanggung jawab pribadi, dan konsekuensi dari tindakan seseorang, terlepas dari adanya pengaruh pihak lain.

 

 

Apa Pesan Tuhan Untuk Kita?

 

Kisah ini membawa beberapa pesan, dan menggambarkan keinginan dari Tuhan yang relevan dengan kita hari ini.

 

Pertama, kisah ini menekankan pentingnya ketaatan pada perintah Allah.

Tuhan telah memberi Adam dan Hawa satu perintah, untuk tidak makan dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, tetapi mereka memilih untuk tidak menaatinya.

Demikian pula, dalam konteks kita saat ini, Tuhan ingin agar kita mematuhi perintah-perintah-Nya dan mengikuti kehendak-Nya, bahkan ketika kita mungkin saja tergoda untuk melakukan sebaliknya.

 

Kedua, kisah ini menyoroti bahayanya percaya pada kebohongan iblis.

Ular itu berjanji kepada Hawa, bahwa jika dia makan dari pohon itu, dia akan menjadi seperti Tuhan, mengetahui yang baik dan yang jahat.

Namun, ini adalah kebohongan, dan itu menyebabkan konsekuensi bencana baginya, dan seluruh umat manusia.

Demikian pula, dalam konteks kita saat ini, Tuhan ingin kita membedakan, dan tidak percaya pada kebohongan iblis, bahkan jika itu mungkin tampak menggoda, dan masuk akal pada saat itu.

 

Ketiga, cerita itu menunjukkan kepada kita konsekuensi dari dosa.

Ketidaktaatan Adam dan Hawa, mengakibatkan keterpisahan mereka dari Allah, dan hilangnya hubungan sempurna yang pernah mereka miliki dengan Tuhan.

Demikian pula, dalam konteks kita saat ini, Tuhan ingin agar kita memahami, bahwa dosa memiliki konsekuensi, dan kita harus berusaha untuk menghindarinya.

 

Keempat, cerita tersebut menekankan perlunya pertobatan dan pengampunan.

Setelah makan dari pohon itu, Adam dan Hawa merasa malu, dan berusaha bersembunyi dari Tuhan.

Namun, Tuhan mencari mereka, dan menyediakan jalan bagi mereka untuk diampuni dan dipulihkan.

Demikian pula, dalam konteks kita saat ini, Tuhan ingin agar kita berpaling dari dosa, dan mencari pengampunan dan pemulihan melalui Tuhan sendiri.

 

Terakhir, kisah ini menyoroti pentingnya kerendahan hati.

Ular mencobai Hawa dengan janji untuk menjadi seperti Tuhan, tetapi pada kenyataannya, hal itu menyebabkan kejatuhannya.

Demikian pula, dalam konteks kita saat ini, Tuhan ingin kita mengenali keterbatasan dan kelemahan kita, dan oleh karenanya, kita harus selalu mengandalkan Tuhan, untuk mendapatkan kekuatan dan bimbingan.

 

 

Apa Yang Harus Kita Terapkan, Dalam Kehidupan Kita?

 

Kita harus percaya pada rencana Tuhan untuk hidup kita, dan memiliki keyakinan, bahwa Tuhan lebih mengetahui, apa yang terbaik untuk kita.

 

Kita harus waspada terhadap kebohongan iblis yang biasanya sangatlah menggoda.

Ular dalam kisah ini, menggunakan tipu daya untuk menyesatkan Hawa.

Demikian pula, iblis sering menggunakan kebohongan, dan setengah kebenaran untuk menipu kita dan menjauhkan kita dari rencana Tuhan.

Kita harus waspada terhadap sesuatu yang menggoda, dan selalu waspada akan kemungkinan adanya rencana iblis, dibalik godaan itu.

 

Kita harus selalu mengandalkan kekuatan Tuhan.

Ketika kita dihadapkan pada pencobaan, kita mungkin merasa lemah dan tidak berdaya.

Namun, Tuhan berjanji akan memberi kita kekuatan untuk menolak godaan, jika kita mengandalkan Dia.

Kita hendaknya berdoa memohon pertolongan Tuhan, dan percaya pada kekuatan-Nya, untuk mengatasi godaan apa pun, yang menghadang di depan kita.

 

Kita harus ingat akan adanya akibat fatal dari dosa.

Kisah dalam Kejadian 3 mengingatkan kita, bahwa dosa memiliki akibat yang serius, baik bagi diri kita sendiri, maupun bagi orang lain.

Kita harus mengingat hal ini, ketika kita tergoda untuk mengejar kekuasaan dan pengetahuan, melebihi apa yang Allah izinkan, dan ingatlah bahwa akibat dari ketidaktaatan, tidaklah sepadan dibandingkan berkat Tuhan untuk sebuah ketaatan.

 

Kita harus mencari hikmat dari Tuhan.

Alih-alih mencari pengetahuan dan kekuatan dari dunia, kita harus mencari hikmat yang dari Tuhan saja.

Dia berjanji memberi kita hikmat yang kita butuhkan, untuk membuat keputusan yang bijak, dan hidup sesuai dengan rencana-Nya.

 

Singkatnya, kita harus percaya pada rencana Tuhan, waspada terhadap kebohongan iblis, mengandalkan kekuatan Tuhan, dan mengingat konsekuensi dosa, serta mencari hikmat dari Tuhan, agar tidak tergoda oleh tawaran dunia ini, untuk memiliki kekuatan dan pengetahuan lebih dari yang Tuhan ijinkan. .

 

 

Doa Hari Ini...

 

Tuhan Yesus,

 

tolong bantu kami untuk mematuhi perintah Tuhan, dan hanya mengikuti kehendak Tuhan.

Beri kami hikmat untuk mengenali kebohongan iblis, dan kemampuan untuk menahan godaan, khususnya untuk memiliki kuasa dan pengetahuan yang tidak diperkenan Tuhan, yang dapat membuat kami lepas dari ketergantungan kepada Tuhan.

 

Bantu kami untuk memahami konsekuensi dosa, dan berusaha terbebas dari kuasa dosa.

Ampuni kami, ketika kami gagal mentaati Tuhan, dan bantu kami untuk selalu mengandalkan Tuhan, dalam mendapatkan bimbingan dan kekuatan.

Kami berdoa agar hubungan kami dengan Tuhan selalu intim, dan kami tidak akan pernah terpisah dari Tuhan.

 

Kami pohonkan doa ini dalam nama Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami.

Amin.

 

Kiranya Tuhan Menguatkan Kita, dan Kasih Karunia Tuhan Yesus, Menyertai Kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dusta Dan Kompromi, Tidak Mampu Menutupi Kekuatan Kebenaran. Matius 28: 11-15 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Dusta Dan Kompromi, Tidak Mampu Menutupi Kekuatan Kebenaran.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Matius 28, ayat 11 sampai ayat 15, yang berbunyi sebagai berikut:    Ketika mereka di tengah jalan, datanglah beberapa orang dari penjaga itu ke kota dan memberitahukan segala yang terjadi itu kepada imam-imam kepala.   Dan sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu   dan berkata: "Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur.   Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa."   Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Dan ceritera i...

Hidup Bijaksana, Di Dunia Yang Penuh Kebodohan. Efesus 5:15-16 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Hidup Bijaksana, Di Dunia Yang Penuh Kebodohan.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Efesus 5, ayat 15 sampai ayat 16, yang berbunyi sebagai berikut:    Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,   dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.     Demikian Pembacaan Alkitab. Hale luya.     Apa Isi Firman Tuhan ini, dan tentang apa.   Efesus 5, ayat 15 dan ayat 16, adalah bagian dari Alkitab Perjanjian Baru, khususnya dari kitab Efesus. Untuk memahami isi, makna, dan maksudnya, penting untuk mempertimbangkan konteks kitab yang lebih luas dan ayat-ayat spesifiknya.   Kitab Efesus ditulis oleh rasul Paulus, dan berfungsi sebagai surat kepada komunitas Kristen mula-mula di Efesus...

Kasih dan Perhatian Tuhan, Tercermin Dalam Keagungan Ciptaan-Nya. Kejadian 1: 14-19 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Kasih dan Perhatian Tuhan, Tercermin Dalam Keagungan Ciptaan-Nya.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Kejadian 1, ayat 14 sampai ayat 19, yang berbunyi sebagai berikut:      Berfirmanlah Allah: "Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun,  dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi." Dan jadilah demikian.   Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang.  Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi,   dan untuk menguasai siang dan malam, dan untu...