Tema
Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini,
adalah:
Jangan
Munafik, Tetapi Harus Berbuah Lebat.
Ayat
Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah
dari Matius 21, ayat 18 sampai ayat 19, yang berbunyi sebagai berikut:
Pada
pagi-pagi hari dalam perjalanan-Nya kembali ke kota, Yesus merasa lapar.
Dekat
jalan Ia melihat pohon ara lalu pergi ke situ, tetapi Ia tidak mendapat apa-apa
pada pohon itu selain daun-daun saja. Kata-Nya kepada pohon itu: "Engkau tidak akan berbuah lagi selama-lamanya!" Dan seketika itu juga keringlah pohon ara itu.
Demikian
Pembacaan Alkitab. Hale luya.
Apa
Isi Firman Tuhan ini, dan tentang apa.
Untuk
memahami sepenuhnya konteks dan makna dari ayat-ayat bacaan Alkitab hari ini,
penting untuk memeriksa narasi yang lebih luas di mana ayat-ayat itu muncul.
Matius
21 menandai awal minggu terakhir Yesus sebelum penyalibannya, dan dia memasuki
Yerusalem untuk terakhir kalinya.
Bagian
sebelum ayat-ayat ini menceritakan kemenangan Yesus, saat masuk ke kota
Yerusalem, di mana orang banyak menyambutnya sebagai raja, dan meletakkan daun
palem dan jubah mereka di jalan di depannya.
Di
ayat 12, Yesus memasuki bait suci dan menjadi marah saat melihat para pedagang
dan penukar uang melakukan bisnis di pelataran bait suci. Dia membalikkan meja
mereka dan mengusir mereka, menyatakan bahwa bait suci dimaksudkan untuk
menjadi rumah doa, bukan sarang pencuri.
Tindakan
ini menandakan konflik pamungkas antara Yesus dan otoritas agama, yang memegang
kekuasaan di bait suci pada masa itu, yang pada akhirnya akan merencanakan
eksekusinya.
Dengan
latar belakang inilah kita sampai pada kisah tentang pohon ara.
Saat
Yesus meninggalkan kota, dia melihat pohon ara di pinggir jalan, dan pergi mendekatinya,
untuk mencari buah.
Ini
merupakan pemandangan umum di wilayah tersebut, karena pohon ara adalah tanaman
pokok, yang selalu berbuah pada segala musim.
Namun,
ketika Yesus mendekati pohon itu, dia tidak menemukan apa pun di atasnya
kecuali daun.
Hal
ini mengecewakan, karena kehadiran daun biasanya menunjukkan bahwa pohon itu terlihat
sehat dan subur, dan seharusnya berbuah.
Menanggapi
kegagalan pohon ara untuk menghasilkan buah, Yesus mengutuknya, dengan
mengatakan "kamu tidak akan pernah berbuah lagi selama-lamanya!"
Dalam
hal ini, pohon ara dapat dilihat sebagai lambang Israel, yang telah diberkati
dengan perkenanan dan perlindungan Tuhan, tetapi gagal memenuhi panggilannya.
Sama
seperti pohon ara yang tampak sehat dan menjanjikan, tetapi tidak menghasilkan buah,
demikian pula Israel, gagal menghasilkan buah rohani yang diinginkan Allah.
Akibat
langsung dari kutukan Yesus adalah, pohon ara menjadi layu dan mati.
Ini
adalah tanda yang kuat dan dramatis dari otoritas dan kuasa Yesus, dan itu akan
menjadi gambaran yang mencolok bagi para murid yang menyaksikannya. Namun,
makna cerita yang lebih dalam menjadi jelas dalam ayat-ayat berikutnya. Yesus
menggunakan kejadian itu untuk mengajar murid-muridnya tentang kekuatan iman
dan pentingnya menghasilkan buah dalam kehidupan mereka sendiri.
Dalam
ayat 21, Yesus memberi tahu murid-muridnya, bahwa jika mereka memiliki iman
sekecil biji sesawi sekalipun, tetapi tidak ragu, mereka dapat memindahkan
gunung.
Ini
adalah pernyataan yang berani dan menantang, tetapi sesuai dengan penekanan
Yesus pada kekuatan iman di sepanjang pelayanannya.
Pohon
ara, dalam kegagalannya menghasilkan buah, dapat dilihat sebagai simbol ketidaksetiaan,
dan kutukan Yesus menjadi peringatan bagi para pengikutnya, untuk tidak jatuh
ke dalam perangkap yang sama, yaitu berpuas diri dengan tampilan luar yang
terlihat soleh, tanpa perbuatan yang bernilai kekal.
Apa
Pesan Tuhan Untuk Kita?
Perikop
ini sering ditafsirkan sebagai representasi simbolis dari kondisi spiritual
Israel, tetapi juga menawarkan pelajaran penting bagi kita sebagai individu
saat ini.
Penampilan
dan tindakan kita, tidak cukup untuk menyenangkan hati Tuhan, jika tidak
berakar pada hubungan yang tulus dengan Tuhan.
Tuhan
melihat jauh ke dalam, melampaui perilaku lahiriah kita, dan mampu melihat
kondisi hati kita.
Tuhan
menginginkan kita untuk menjadi otentik dan transparan dalam iman kita, dan
untuk memupuk hubungan yang dalam, dan tinggal dengan Dia, yang menghasilkan
buah sejati dalam hidup kita.
Tuhan
ingin, agar kita berbuah dalam iman kita.
Ini
berarti bahwa iman kita tidak boleh hanya tentang penampilan luar, tetapi harus
berakar pada hubungan yang tulus dengan Dia, yang akan menghasilkan buah yang
baik dalam hidup kita.
Buah
kehidupan kita dapat meliputi hal-hal seperti kasih, sukacita, kedamaian,
kesabaran, kebaikan, kebaikan, kesetiaan, kelembutan, dan penguasaan diri. (Baca
Galatia 5, ayat 22 sampai ayat 23).
Tuhan
memperingatkan kita akan bahayanya kemunafikan.
Pohon
ara tampak subur dalam penampilannya, tetapi tidak menghasilkan buah.
Demikian
pula halnya kita,
kita
bisa tergoda untuk memakai topeng spiritualitas, sementara mengabaikan
pekerjaan sejati, untuk memupuk iman yang dalam dan murni.
Yesus
memanggil kita untuk tulus dan otentik dalam iman kita, dan untuk menghindari
perangkap kemunafikan.
Tuhan
mengingatkan kita, bahwa iman kita memiliki implikasi dunia nyata.
Sama
seperti pohon ara yang tidak berbuah, dikutuk dan layu, hidup kita juga dapat
menanggung akibatnya, jika kita tidak menghasilkan buah yang baik.
Saat
kita berusaha untuk mengikuti Kristus, dan menghasilkan buah dalam hidup kita,
kita dapat memberikan dampak positif bagi dunia di sekitar kita, dan dunia ini
akan memuliakan Tuhan.
Tuhan
juga mengingatkan kita pada kekuatan kata-kata kita, yang mampu membangun atau
menghancurkan diri kita sendiri dan orang lain.
Kita
harus berhati-hati dengan kata-kata yang kita ucapkan, dan memperhatikan dampaknya
terhadap diri kita sendiri dan orang lain.
Agar menghasilkan buah yang baik, Tuhan ingin,
agar kita memupuk disiplin spiritual, yang akan menumbuhkan iman kita, dan juga
membantu kita bertumbuh dalam hubungan kita dengan Tuhan.
Ini
mungkin termasuk praktek seperti berdoa, membaca Alkitab, beribadah, dan melayani
orang lain.
Tuhan
ingin kita memercayai Dia dan tunduk pada otoritas-Nya, agar kita dapat
menemukan kekuatan dan bimbingan supra natural, untuk membangun hidup kita di
masa datang.
Tuhan
tidak menginginkan kita tergoda untuk berpuas diri dalam iman kita dan
melalaikan pekerjaan menghasilkan buah yang baik.
Ada
bahayanya berpuas diri. Sama seperti pohon ara yang tampak sehat tetapi tidak
berbuah, kita pun bisa dihukum oleh Tuhan.
Tuhan
mengingatkan kita akan pentingnya tetap waspada dalam memelihara iman kita, dan
tidak menyepelekan anugerah dan kemurahan Tuhan.
Secara
keseluruhan, pesan Matius 21, ayat 18 sampai ayat 19, menantang kita untuk
memeriksa kondisi hati kita, dan buah-buah roh dalam kehidupan kita, serta
mencari bimbingan dan kekuatan Tuhan, untuk menjadi pengikut Kristus yang
otentik, berbuah, dan setia.
Apa
Yang Harus Kita Terapkan, Dalam Kehidupan Kita?
Kita
harus membangun hubungan yang dalam dan tulus dengan Tuhan Yesus.
Jangan
seperti pohon ara dalam bacaan kita, yang tampak subur, tetapi tidak berbuah.
Kita
tidak boelh tergoda untuk berfokus pada penampilan luar dari iman kita,
sementara mengabaikan pekerjaan batin untuk memupuk hubungan yang dalam dan
tulus dengan Allah.
Untuk
menghindari kemunafikan, dan menghasilkan buah yang baik, kita perlu
memprioritaskan waktu kita bersama Tuhan, membaca Firman-Nya, dan mencari
bimbingan dan pemberdayaan-Nya dalam hidup kita.
Kita
harus otentik dan tulus dalam iman kita kepada Tuhan Yesus, dan menghindari
jebakan kemunafikan.
Ini
berarti kita harus jujur tentang pergumulan dan kelemahan kita, dan tidak
memakai topeng spiritualitas, yang hanya untuk mengesankan orang lain, seolah-olah
kita ini seorang yang soleh.
Kita
juga harus terbuka terhadap umpan balik, dan koreksi dari orang lain, yang
dapat membantu kita bertumbuh dalam iman kita.
Sebagai
pengikut Kristus, kita dipanggil untuk menghasilkan buah yang baik dalam hidup
kita.
Ini
berarti dengan sengaja mencari kesempatan untuk mengasihi dan melayani orang
lain, dan untuk menghasilkan buah Roh dalam kehidupan kita sehari-hari, yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan hati, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan,
dan penguasaan diri.
Kita
juga dapat bersikap proaktif dalam membagikan kasih dan kebenaran Kristus,
kepada orang-orang di sekitar kita.
Kita
harus mewaspadai akibat dari tidak berbuah. Sama seperti pohon ara yang tidak
berbuah dikutuk dan layu, hidup kita juga dapat menanggung akibat buruk, jika
kita tidak menghasilkan buah yang baik.
Kita
perlu menyadari dampak negatif dari kata-kata dan tindakan kita terhadap orang
lain, dan harus secara sadar untuk menghasilkan dampak positif pada dunia di
sekitar kita.
Kita
juga membutuhkan dukungan dan tanggung jawab orang lain, untuk membantu kita
bertumbuh dalam iman kita dan menghasilkan buah yang baik.
Kita
harus mencari komunitas orang percaya, yang akan menyemangati kita, menantang
kita, dan meminta pertanggungjawaban kita dalam perjalanan kita dengan Tuhan.
Secara
keseluruhan, untuk tidak menjadi munafik tetapi berbuah, kita perlu
memprioritaskan memupuk hubungan yang dalam dan tulus dengan Tuhan, menjadi
otentik dan tulus dalam iman kita, dengan sengaja menghasilkan buah yang baik,
menyadari konsekuensi dari ketidakberhasilan, dan mencari pertanggungjawaban
dan dukungan dari yang lain.
Doa
Hari Ini...
Tuhan
Yesus,
Kami
datang ke hadapan Tuhan hari ini, mencari bimbingan dan pemberdayaan Tuhan
sewaktu kami berusaha untuk menjalankan iman kami kepada Yesus Kristus. Kami
mengakui bahwa iman tanpa tindakan adalah mati, dan kami berdoa kiranya Engkau
membantu kami tidak hanya beriman kepada Yesus tetapi juga membuktikannya
melalui buah yang kami hasilkan untuk kemuliaan nama-Muu.
Kami
berdoa agar Engkau membantu kami untuk menjadi tulus dan otentik dalam iman
kami, menghindari jebakan kemunafikan, dan menghasilkan buah yang baik dalam
hidup kami. Semoga kita memiliki niat untuk mengasihi dan melayani orang lain,
menjalankan buah Roh dalam kehidupan kita sehari-hari, dan memberikan dampak
positif bagi dunia di sekitar kita.
Kami
mohon agar Engkau memberi kami kekuatan dan keberanian untuk mengatasi
rintangan atau tantangan apa pun yang mungkin menghadang kami, dan agar Engkau
mengelilingi kami dengan komunitas orang percaya yang akan menyemangati kami,
menantang kami, dan meminta pertanggungjawaban kami dalam perjalanan kami bersama
Tuhan.
Kami
berdoa agar hidup kami menjadi cerminan dari kasih dan kebenaran-Muu, dan
melalui kata-kata dan tindakan kami, orang lain akan mengetahui dan mengalami
kuasa kasih karunia dan belas kasihan-Muu. Semoga semua buah yang kami hasilkan
adalah untuk kemuliaan nama-Muu.
Kami
pohonkan doa ini dalam nama Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami.
Amin.
Kiranya
Tuhan Menguatkan Kita, dan Kasih Karunia Tuhan Yesus, Menyertai Kita.
Komentar
Posting Komentar