Langsung ke konten utama

Tetap Beriman, Saat Menghadapi Cobaan Dan Penderitaan. Matius 26: 32-44 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini,

adalah:

 

Tetap Beriman, Saat Menghadapi Cobaan Dan Penderitaan.

 

Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Matius 26, ayat 47 sampai ayat 56, yang berbunyi sebagai berikut:


 Waktu Yesus masih berbicara datanglah Yudas, salah seorang dari kedua belas murid itu, dan bersama-sama dia serombongan besar orang yang membawa pedang dan pentung, disuruh oleh imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi. 

 Orang yang menyerahkan Dia telah memberitahukan tanda ini kepada mereka: "Orang yang akan kucium, itulah Dia, tangkaplah Dia." 

 Dan segera ia maju mendapatkan Yesus dan berkata: "Salam Rabi," lalu mencium Dia. 

 Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Hai teman, untuk itukah engkau datang?" Maka majulah mereka memegang Yesus dan menangkap-Nya. 

 Tetapi seorang dari mereka yang menyertai Yesus mengulurkan tangannya, menghunus pedangnya dan menetakkannya kepada hamba Imam Besar sehingga putus telinganya.

 Maka kata Yesus kepadanya: "Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang.

 Atau kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku? 

 Jika begitu, bagaimanakah akan digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci, yang mengatakan, bahwa harus terjadi demikian?" 

 Pada saat itu Yesus berkata kepada orang banyak: "Sangkamu Aku ini penyamun, maka kamu datang lengkap dengan pedang dan pentung untuk menangkap Aku? Padahal tiap-tiap hari Aku duduk mengajar di Bait Allah, dan kamu tidak menangkap Aku. 

 Akan tetapi semua ini terjadi supaya genap yang ada tertulis dalam kitab nabi-nabi." Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri.

 

Demikian Pembacaan Alkitab. Hale luya.

 

Apa Isi Firman Tuhan ini, dan tentang apa.

Matius 26, ayat 47 sampai ayat 56, adalah bagian dari Injil Matius dalam Perjanjian Baru dari Alkitab Kristen.

Bagian ini menggambarkan pengkhianatan Yudas, dan penangkapan Yesus Kristus, yang pada akhirnya mengarah pada penyaliban-Nya.

Bagian itu dimulai dengan Yudas Iskariot, salah satu murid Yesus, yang memimpin sekelompok tentara dan pemimpin agama ke taman Getsemani, tempat Yesus berdoa.

Yudas mengidentifikasi Yesus dengan ciuman, yang merupakan sinyal, yang telah diatur sebelumnya kepada para prajurit, bahwa dialah yang mereka cari.

Para prajurit kemudian menangkap Yesus, tetapi salah satu murid Yesus, Petrus, menghunus pedangnya, dan memotong telinga salah seorang prajurit.

Yesus menegur Petrus, menyuruhnya untuk menyingkirkan pedangnya, dan mengingatkan dia, bahwa mereka yang hidup dengan pedang, akan mati oleh pedang.

Ini menunjukkan, bahwa Yesus tidak tertarik untuk menggunakan kekerasan, guna melindungi diri-Nya, dan bersedia ditahan dengan damai.

Yesus kemudian berbicara kepada para prajurit dan pemimpin agama, bertanya kepada mereka, mengapa mereka datang untuk menangkapnya, seolah-olah dia adalah seorang penjahat.

Dia menunjukkan, bahwa dia telah mengajar di depan umum, tidak bersembunyi secara rahasia, dan bahwa mereka memiliki banyak kesempatan untuk menangkapnya sebelum saat ini, jika mereka benar-benar yakin, dia adalah ancaman bagi Pemerintah yang saat itu menjajah Israel.

Ini menunjukkan, bahwa Yesus tidak takut ditangkap, dan bahwa dia percaya pada kebenaran Misi dan tujuannya.

Para murid kemudian melarikan diri, meninggalkan Yesus sendirian dengan para prajurit dan pemimpin agama.

Ini menggarisbawahi fakta, bahwa Yesus rela menghadapi nasibnya sendirian,

tanpa dukungan dari pengikut terdekatnya.

Ini juga menyoroti parahnya situasi, karena para murid mempertaruhkan keselamatan mereka sendiri, apabila tetap bersama Yesus.

Perikop ini juga menekankan sifat ketaatan Yesus, mulai dari penangkapan, sampai penyaliban-Nya.

Yesus merujuk pada penggenapan Kitab Suci, khususnya tulisan dalam kitab nabi-nabi Perjanjian Lama, saat penangkapannya.

Ini menunjukkan bahwa Yesus, menyatakan dirinya sebagai penggenapan nubuat Perjanjian Lama, dan bahwa penangkapan dan penyalibannya, adalah bagian dari rencana ilahi yang lebih besar, daripada yang dinubuatkan oleh para nabi itu.

Yesus kemudian dibawa pergi untuk diadili di hadapan imam besar, di mana dia difitnah, dan akhirnya dijatuhi hukuman mati.

Ini menggambarkan perlakuan tidak adil, yang Yesus terima dari otoritas agama, dan menyoroti korupsi sistem pada saat itu.

Perikop ini diakhiri dengan, Yesus menegur murid-muridnya, karena kurangnya iman, dan mendesak mereka untuk bersiap menghadapi pencobaan yang akan datang.

Ini menunjukkan, bahwa Yesus sadar akan bahaya yang akan datang, dan bahwa dia ingin murid-muridnya bersiap, untuk menyampaikan pesannya saat dia tidak ada.

Singkatnya, Matius 26, ayat 47 sampai ayat 56, menceritakan pengkhianatan dan penangkapan Yesus Kristus, menyoroti tentang responsnya yang damai terhadap situasi tersebut, kesadaran ketuhanannya tentang peristiwa yang sedang berlangsung, dan tentang perlakuan tidak adil, yang Dia terima di tangan otoritas agama.

Periko ini juga menekankan kurangnya iman para murid, dan kepedulian Yesus terhadap persiapan mereka, dalam menghadapi pencobaan di masa depan.

Perikop ini adalah pengingat yang kuat, akan pengorbanan Yesus, dan sejauh mana Dia rela pergi, untuk menunaikan misi keselamatan-Nya.

 

Apa Pesan Tuhan Untuk Kita?

Tuhan ingin kita percaya pada rencana Tuhan.

Yesus memahami bahwa penangkapan dan penyaliban-Nya, adalah bagian dari rencana Tuhan, dan Dia percaya pada rencana itu, bahkan di hadapan penderitaan yang hebat.

Demikian pula, ketika kita menghadapi pencobaan dan penderitaan, kita dapat percaya bahwa, Tuhan memegang kendali, dan bahwa Dia memiliki rencana yang terbaik untuk hidup kita.

Tuhan ingin kita antikekerasan, dan memilih perdamaian.

Tanggapan Yesus terhadap penangkapannya, menunjukkan kekuatan antikekerasan, dan memilih perdamaian, dalam menghadapi agresi dan penindasan.

Ketika kita menghadapi pencobaan dan kesengsaraan, kita dapat menanggapinya dengan kasih, kebaikan, dan pengampunan, bukannya dengan kemarahan atau kekerasan.

Tuhan ingin kita membela keadilan.

Saat Yesus dituduh secara tidak adil, dan dijatuhi hukuman mati, peritiwa ini menyoroti pentingnya membela keadilan, dan berbicara menentang ketidakadilan.

Ketika kita melihat ketidakadilan di dunia, kita dipanggil untuk berbicara, dan bekerja untuk melakukan perubahan, seperti yang Yesus lakukan.

Tuhan ingin adanya pemuridan dan kesetiaan.

Kurangnya iman, dan kesetiaan para murid selama penangkapan dan pengadilan Yesus, mengingatkan kita akan pentingnya pemuridan dan kesetiaan sejati.

Ketika kita menghadapi pencobaan dan penderitaan, kita dipanggil untuk tetap setia kepada Yesus, dan saling mendukung dalam iman kita, sesama orang percaya.

Tuhan ingin kita taat, saat diproses oleh Tuhan.

Yesus melihat penangkapan dan penyalibannya, sebagai penggenapan nubuat Perjanjian Lama, mengingatkan kita akan sifat ketuhanan dari misi-Nya.

Ketika kita menghadapi pencobaan dan kesengsaraan, kita dapat melihat teladan Yesus sebagai saksi kenabian, dan berusaha untuk mengikuti jejaknya.

 

Apa Yang Harus Kita Terapkan, Dalam Kehidupan Kita?

Saat menghadapi penderitaan yang hebat, kita harus tetap percaya, bahwa Tuhan memegang kendali, dan memiliki rencana untuk hidup kita.

Kita dapat berdoa, dan meminta bimbingan dan hikmat Tuhan, dan percaya bahwa Dia akan membimbing kita, melewati masa-masa sulit.

Ketika kita menghadapi pencobaan dan penderitaan, kita harus menanggapi situasi sulit dengan kasih, kebaikan, dan pengampunan, bukan dengan permusuhan atau kebencian.

Kita harus menjadi pendukung keadilan dalam kehidupan dan komunitas kita sendiri, bekerja untuk memerangi ketidakadilan sistemik, dan melindungi yang rentan.

Kita harus berusaha untuk tetap setia kepada Yesus, bahkan dalam menghadapi keadaan sulit, dan hanya mengandalkan kekuatan dan kasih karunia-Nya, untuk menopang hidup kita.

Kita juga harus menjadi saksi kenabian di dunia, menentang ketidakadilan, menganjurkan perdamaian, dan membagikan kabar baik tentang Yesus, kepada orang-orang di sekitar kita.

Dengan menerapkan hal-hal ini dalam kehidupan kita, kita dapat tetap setia kepada Tuhan, bahkan dalam menghadapi pencobaan, tantangan, dan penderitaan.

Kita dapat percaya pada rencana Tuhan, mempraktekkan antikekerasan dan perdamaian, menegakkan keadilan, tetap setia kepada Yesus, dan menjadi saksi kenabian di dunia.

 

Doa Hari Ini...

Tuhan Yesus,

kami datang ke hadapan Tuhan hari ini, memohon kekuatan dan bimbingan Tuhan, saat kami menghadapi cobaan dan penderitaan dunia ini.

Bantu kami untuk mempercayai rencana Tuhan, dan untuk menanggapi situasi sulit dengan cinta kasih, kebaikan, dan pengampunan.

Beri kami keberanian untuk membela keadilan, dan untuk tetap setia kepada Tuhan, bahkan dalam menghadapi berbagai kesulitan.

Kami meminta Tuhan untuk memperkuat iman kami, sehingga kami dapat menjadi saksi kenabian di dunia, membagikan kasih dan rahmat Tuhan, dengan orang-orang di sekitar kami.

Kami berterima kasih atas kehadiran dan penyertaan Tuhan, yang terus-menerus dalam hidup kami, dan kami berdoa, agar Tuhan terus membimbing kami, dan menopang kami melalui semua tantangan hidup.

 

Kami pohonkan doa ini dalam nama Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami.

Amin.

Kiranya Tuhan Menguatkan Kita, dan Kasih Karunia Tuhan Yesus, Menyertai Kita.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dusta Dan Kompromi, Tidak Mampu Menutupi Kekuatan Kebenaran. Matius 28: 11-15 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Dusta Dan Kompromi, Tidak Mampu Menutupi Kekuatan Kebenaran.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Matius 28, ayat 11 sampai ayat 15, yang berbunyi sebagai berikut:    Ketika mereka di tengah jalan, datanglah beberapa orang dari penjaga itu ke kota dan memberitahukan segala yang terjadi itu kepada imam-imam kepala.   Dan sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu   dan berkata: "Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur.   Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa."   Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Dan ceritera i...

Hidup Bijaksana, Di Dunia Yang Penuh Kebodohan. Efesus 5:15-16 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Hidup Bijaksana, Di Dunia Yang Penuh Kebodohan.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Efesus 5, ayat 15 sampai ayat 16, yang berbunyi sebagai berikut:    Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,   dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.     Demikian Pembacaan Alkitab. Hale luya.     Apa Isi Firman Tuhan ini, dan tentang apa.   Efesus 5, ayat 15 dan ayat 16, adalah bagian dari Alkitab Perjanjian Baru, khususnya dari kitab Efesus. Untuk memahami isi, makna, dan maksudnya, penting untuk mempertimbangkan konteks kitab yang lebih luas dan ayat-ayat spesifiknya.   Kitab Efesus ditulis oleh rasul Paulus, dan berfungsi sebagai surat kepada komunitas Kristen mula-mula di Efesus...

Kasih dan Perhatian Tuhan, Tercermin Dalam Keagungan Ciptaan-Nya. Kejadian 1: 14-19 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Kasih dan Perhatian Tuhan, Tercermin Dalam Keagungan Ciptaan-Nya.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Kejadian 1, ayat 14 sampai ayat 19, yang berbunyi sebagai berikut:      Berfirmanlah Allah: "Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun,  dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi." Dan jadilah demikian.   Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang.  Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi,   dan untuk menguasai siang dan malam, dan untu...