Langsung ke konten utama

Halal, Jika Non-Kristen Itu Juga Diselamatkan oleh Yesus. Kisah Para Rasul 10: 1-24 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini,

adalah:

 

Halal, Jika Non-Kristen Itu Juga Diselamatkan oleh Yesus.

 

Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Kisah Para Rasul 10, ayat 1 sampai ayat 24, yang berbunyi sebagai berikut:

 

Di Kaisarea ada seorang yang bernama Kornelius, seorang perwira pasukan yang disebut pasukan Italia.  Ia saleh, ia serta seisi rumahnya takut akan Allah dan ia memberi banyak sedekah kepada umat Yahudi dan senantiasa berdoa kepada Allah.  Dalam suatu penglihatan, kira-kira jam tiga petang, jelas tampak kepadanya seorang malaikat Allah masuk ke rumahnya dan berkata kepadanya: "Kornelius!"  Ia menatap malaikat itu dan dengan takut ia berkata: "Ada apa, Tuhan?" Jawab malaikat itu: "Semua doamu dan sedekahmu telah naik ke hadirat Allah dan Allah mengingat engkau. Dan sekarang, suruhlah beberapa orang ke Yope untuk menjemput seorang yang bernama Simon dan yang disebut Petrus.  Ia menumpang di rumah seorang penyamak kulit yang bernama Simon, yang tinggal di tepi laut."  Setelah malaikat yang berbicara kepadanya itu meninggalkan dia, dipanggilnya dua orang hambanya beserta seorang prajurit yang saleh dari orang-orang yang selalu bersama-sama dengan dia.  Dan sesudah ia menjelaskan segala sesuatu kepada mereka, ia menyuruh mereka ke Yope. Keesokan harinya ketika ketiga orang itu berada dalam perjalanan dan sudah dekat kota Yope, kira-kira pukul dua belas tengah hari, naiklah Petrus ke atas rumah untuk berdoa.  Ia merasa lapar dan ingin makan, tetapi sementara makanan disediakan, tiba-tiba rohnya diliputi kuasa ilahi. Tampak olehnya langit terbuka dan turunlah suatu benda berbentuk kain lebar yang bergantung pada keempat sudutnya, yang diturunkan ke tanah.  Di dalamnya terdapat pelbagai jenis binatang berkaki empat, binatang menjalar dan burung.  Kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata: "Bangunlah, hai Petrus, sembelihlah dan makanlah!"  Tetapi Petrus menjawab: "Tidak, Tuhan, tidak, sebab aku belum pernah makan sesuatu yang haram dan yang tidak tahir." Kedengaran pula untuk kedua kalinya suara yang berkata kepadanya: "Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram."  Hal ini terjadi sampai tiga kali dan segera sesudah itu terangkatlah benda itu ke langit.  Petrus bertanya-tanya di dalam hatinya, apa kiranya arti penglihatan yang telah dilihatnya itu. Sementara itu telah sampai di muka pintu orang-orang yang disuruh oleh Kornelius dan yang berusaha mengetahui di mana rumah Petrus.  Mereka memanggil seorang dan bertanya, apakah Simon yang disebut Petrus ada menumpang di rumah itu.  Dan ketika Petrus sedang berpikir tentang penglihatan itu, berkatalah Roh: "Ada tiga orang mencari engkau.  Bangunlah, turunlah ke bawah dan berangkatlah bersama-sama dengan mereka, jangan bimbang, sebab Aku yang menyuruh mereka ke mari."  Lalu turunlah Petrus ke bawah dan berkata kepada orang-orang itu: "Akulah yang kamu cari; apakah maksud kedatangan kamu?"  Jawab mereka: "Kornelius, seorang perwira yang tulus hati dan takut akan Allah, dan yang terkenal baik di antara seluruh bangsa Yahudi, telah menerima penyataan Allah dengan perantaraan seorang malaikat kudus, supaya ia mengundang engkau ke rumahnya dan mendengar apa yang akan kaukatakan."  Ia mempersilakan mereka untuk bermalam di situ. Keesokan harinya ia bangun dan berangkat bersama-sama dengan mereka, dan beberapa saudara dari Yope menyertai dia. Dan pada hari berikutnya sampailah mereka di Kaisarea. Kornelius sedang menantikan mereka dan ia telah memanggil sanak saudaranya dan sahabat-sahabatnya berkumpul. 

 

Demikian Pembacaan Alkitab. Haleluya.

 

 

Apa Isi Firman Tuhan ini, dan tentang apa.

 

Kisah Para Rasul 10, ayat 1 sampai ayat 24, menceritakan peristiwa penting di gereja Kristen mula-mula, menyoroti pertemuan ilahi, antara perwira Romawi Kornelius dan Rasul Petrus.

Bagian ini memiliki makna yang sangat besar, karena menandakan perluasan jangkauan Injil di luar komunitas Yahudi, dan menekankan sifat inklusif cakupan kekristenan.

 

Bagian itu dimulai dengan memperkenalkan Kornelius, seorang bukan Yahudi yang saleh dan takut akan Tuhan, yang digambarkan sebagai seorang perwira dari kelompok Italia yang tinggal di Kaisarea. Kornelius digambarkan sebagai orang yang saleh, berdedikasi dalam beramal, dan rajin berdoa, meskipun berada di luar kepercayaan Yahudi. Deskripsi ini menyoroti kemungkinan akan adanya kebajikan dan iman yang ada, di luar batasan Yudaisme, atau kekristenan.

 

Dalam sebuah penglihatan, seorang malaikat menampakkan diri kepada Kornelius, dan menginstruksikan dia untuk mengirim utusan ke Joppa, untuk mengundang Petrus. Sementara itu, Petrus yang tinggal di Joppa di rumah Simon si penyamak kulit, juga mendapat penglihatan saat berdoa di lantai atas. Dia melihat selembar kain yang turun dari surga berisi berbagai binatang, termasuk yang dianggap najis menurut hukum makanan Yahudi. Sebuah suara menyuruh Petrus untuk membunuh dan makan, tetapi Petrus menolak, karena masih menganggap bahwa, Injil Yesus hanya untuk orang Yahudi.

 

Saat penglihatan ini diulang tiga kali, Petrus mulai merenungkan maknanya. Pada saat itu, utusan yang dikirim oleh Kornelius datang dan menanyakan tentang Petrus. Roh Kudus mendorong Petrus untuk mengikuti utusan Kornelius itu, tanpa ragu-ragu, menunjukkan bahwa rencana Tuhan sedang berlangsung.

 

Petrus tiba di rumah Kornelius di Kaisarea, di mana dia menemukan kumpulan kerabat dan teman dekat Kornelius. Kornelius berlutut menyembah Petrus, tetapi Petrus segera mengangkatnya, menekankan kesetaraan di antara mereka sebagai manusia. Petrus mengakui bahwa, walaupun seorang Yahudi dilarang bergaul dengan, atau mengunjungi orang bukan Yahudi, tetapi dia menyatakan bahwa, Tuhan telah menunjukkan kepadanya untuk tidak menyebut siapa pun najis, atau kafir. Petrus mengakui adanya kekuatan transformatif dari wahyu Allah, dan penghilangan prasangka, maupun eksklusivitas sebelumnya.

 

Petrus membagikan pemahamannya, bahwa Tuhan tidak menunjukkan pilih kasih, tetapi menerima orang-orang dari setiap bangsa yang takut akan Dia, dan melakukan apa yang benar. Dia menceritakan kisah Yesus dan pelayanan-Nya, kematian-Nya, dan kebangkitan-Nya, menekankan saksi-saksi yang dipilih Allah, untuk bersaksi tentang peristiwa-peristiwa ini. Petrus menyatakan bahwa, melalui Yesus, pengampunan dosa tersedia bagi semua orang, yang mau percaya kepada-Nya, terlepas apakah dia orang Yahudi atau non Yahudi, orang Kristen atau pun non Kristen.

 

Saat Petrus masih berbicara, Roh Kudus turun ke atas Kornelius, dan semua mereka yang hadir, sama seperti yang turun ke atas orang-orang percaya pada hari Pentakosta. Menyaksikan manifestasi ini, Petrus yakin, bahwa Tuhan juga telah memberikan Roh Kudus kepada bangsa-bangsa lain. Dia kemudian memerintahkan mereka untuk dibaptis dalam nama Yesus Kristus, sehingga menerima mereka sepenuhnya ke dalam komunitas Kristen.

 

Isi dan makna Kisah Para Rasul 10, ayat 1 sampai ayat 24, menyoroti beberapa aspek penting.

 

Pertama, ini menunjukkan bahwa rencana keselamatan Allah melampaui batas-batas etnis dan budaya. Pertemuan antara Kornelius dan Petrus melambangkan masuknya orang bukan Yahudi ke dalam tubuh orang percaya, meruntuhkan eksklusivitas Yudaisme, dan membuka jalan bagi kekristenan yang sifatnya lebih inklusif.

 

Kedua, menekankan peran wahyu ilahi dalam membentuk kembali keyakinan, dan mengatasi prasangka atau praduga yang keliru. Penglihatan Petrus dan peristiwa-peristiwa selanjutnya, menantang prasangkanya tentang kebersihan dan kenajisan, mengajarinya bahwa penerimaan Tuhan, tidak dibatasi oleh batasan budaya atau agama. Ini menggarisbawahi kekuatan transformatif intervensi ilahi, dalam membentuk kembali perspektif manusia.

 

Terakhir, bagian ini menekankan pesan utama Injil, menyoroti kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus, sebagai sumber pengampunan dan keselamatan bagi semua orang, yang mau percaya kepada Yesus. Itu memperkuat universalitas pesan Injil, menyatakan bahwa semua orang, terlepas dari latar belakang mereka, dapat menemukan penebusan melalui iman kepada Yesus Kristus.

 

 

Apa Pesan Tuhan Untuk Kita Yang Hidup di Masa Kini?

 

Perikop ini mengajarkan kita, pelajaran penting untuk konteks kita saat ini:

 

Pertama, itu mengungkapkan maksud Allah, agar Injil melampaui batas-batas budaya dan agama. Ini menekankan bahwa kasih dan keselamatan Tuhan, tidak terbatas pada kelompok tertentu, tetapi terbuka untuk semua orang. Ini menantang kecenderungan kita, untuk mengecualikan atau meminggirkan mereka, yang berbeda dari kita.

 

Kedua, mengajak kita sebagai umat Kristiani, untuk merangkul inklusivitas, dan menolak segala bentuk prasangka buruk. Kita diingatkan, bahwa misi kita adalah, untuk membagikan pesan keselamatan kepada semua orang, tanpa memandang latar belakang mereka. Kita harus secara aktif mencari kesempatan untuk meruntuhkan penghalang, membangun jembatan, dan memperluas kasih Tuhan, kepada setiap orang yang kita jumpai.

 

Terakhir, Tuhan mendorong kita, untuk memeriksa hati dan sikap kita sendiri. Itu mengingatkan kita bahwa keselamatan hanya melalui Yesus Kristus, dan bahwa kita tidak boleh meremehkan kekuatan transformatif dari kasih karunia-Nya. Kita didorong untuk dengan rendah hati bersandar pada bimbingan Tuhan, membiarkan wahyu-Nya, membentuk kembali keyakinan kita, dan menyelaraskan hati kita dengan kasih-Nya yang inklusif.

 

 

Apa Yang Harus Kita Terapkan, Dalam Kehidupan Kita Sehari-hari?

 

Sebagai orang Kristen, yang hidup di masa sekarang, kita harus mewujudkan pesan Kisah Para Rasul 10, ayat 1 sampai ayat 24 ini, tentang kasih karunia Kristus, bagi semua orang.

Kita harus menjadi agen rekonsiliasi, yang secara aktif mempromosikan inklusivitas, dan meruntuhkan berbagai penghalang, seperti kecurigaan atau kebencian.

Kita harus mewartakan pesan keselamatan Yesus dengan berani, menjangkau semua orang, dan menegaskan bahwa mereka juga layak untuk diselamatkan.

Biarlah hidup kita menjadi cerminan dari kasih Allah, yang mencakup segalanya, dan semoga rahmat transformatif-Nya bekerja melalui kita, untuk mewujudkan persatuan dan rekonsiliasi di dunia kita saat ini.

 

 

Doa Hari Ini...

 

Tuhan Yesus,

 

kami berterima kasih kepada-Mu, atas pesan yang penuh kuasa, dari kisah rasul Petrus dengan Kornelius ini.

Tolong kami untuk memahami kedalaman kasih-Mu bagi semua orang, dan berdayakan kami untuk menghidupi kebenaran, bahwa orang non-Yahudi dan non-Kristen, juga layak untuk diselamatkan oleh Yesus. Bimbing kami dalam mendobrak penghalang yang ada, dan merangkul inklusivitas Injil. Semoga hidup kami menjadi saksi rahmat transformatif-Mu, dan mewujudkan persatuan di dunia ini.

 

Kami pohonkan doa ini dalam nama Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami.

Amin.

 

Kiranya Tuhan Menguatkan Kita, dan Kasih Karunia Tuhan Yesus, Menyertai Kita.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dusta Dan Kompromi, Tidak Mampu Menutupi Kekuatan Kebenaran. Matius 28: 11-15 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Dusta Dan Kompromi, Tidak Mampu Menutupi Kekuatan Kebenaran.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Matius 28, ayat 11 sampai ayat 15, yang berbunyi sebagai berikut:    Ketika mereka di tengah jalan, datanglah beberapa orang dari penjaga itu ke kota dan memberitahukan segala yang terjadi itu kepada imam-imam kepala.   Dan sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu   dan berkata: "Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur.   Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa."   Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Dan ceritera i...

Hidup Bijaksana, Di Dunia Yang Penuh Kebodohan. Efesus 5:15-16 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Hidup Bijaksana, Di Dunia Yang Penuh Kebodohan.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Efesus 5, ayat 15 sampai ayat 16, yang berbunyi sebagai berikut:    Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,   dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.     Demikian Pembacaan Alkitab. Hale luya.     Apa Isi Firman Tuhan ini, dan tentang apa.   Efesus 5, ayat 15 dan ayat 16, adalah bagian dari Alkitab Perjanjian Baru, khususnya dari kitab Efesus. Untuk memahami isi, makna, dan maksudnya, penting untuk mempertimbangkan konteks kitab yang lebih luas dan ayat-ayat spesifiknya.   Kitab Efesus ditulis oleh rasul Paulus, dan berfungsi sebagai surat kepada komunitas Kristen mula-mula di Efesus...

Kasih dan Perhatian Tuhan, Tercermin Dalam Keagungan Ciptaan-Nya. Kejadian 1: 14-19 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Kasih dan Perhatian Tuhan, Tercermin Dalam Keagungan Ciptaan-Nya.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Kejadian 1, ayat 14 sampai ayat 19, yang berbunyi sebagai berikut:      Berfirmanlah Allah: "Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun,  dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi." Dan jadilah demikian.   Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang.  Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi,   dan untuk menguasai siang dan malam, dan untu...