Allah Bapa dan Yesus, Adalah Kiblat Rohani Kita Sekarang Dan Nanti. Wahyu 21:22 | SBU GPIB Sangkakala.
Tema
Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini,
adalah:
Allah
Bapa dan Yesus, Adalah Kiblat Rohani Kita Sekarang Dan Nanti.
Ayat
Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah
dari Wahyu 21, ayat 22, yang berbunyi sebagai berikut:
Dan aku tidak melihat Bait Suci di dalamnya;
sebab Allah, Tuhan Yang Mahakuasa, adalah Bait Sucinya, demikian
juga Anak Domba itu
Demikian
Pembacaan Alkitab. Haleluya.
Apa
Isi Firman Tuhan ini, dan tentang apa.
Konteks
bacaan Alkitab hari ini, menggambarkan visi Yerusalem baru, yaitu kota surgawi,
atau kota Allah, seperti yang dilihat oleh rasul Yohanes.
Dalam
ayat ini, ketiadaan Bait Suci di kota Allah, yaitu Yerusalem Baru, melambangkan
perubahan besar dalam hubungan antara Tuhan dan manusia. Dalam Perjanjian Lama,
bait suci adalah tempat utama pemujaan, tempat orang akan mempersembahkan
korban dan mencari hadirat Tuhan. Namun, di Yerusalem baru, tidak diperlukan
bait suci secara fisik, karena Tuhan Allah Yang Mahakuasa, dan Anak Domba, (
yang mengacu pada Yesus Kristus,) adalah bait sucinya.
Makna
dan maksud dari ayat ini dapat dipahami dalam beberapa cara.
Pertama,
itu menandakan penggenapan rencana keselamatan Allah. Melalui pengorbanan dan
kebangkitan Yesus, umat manusia diperdamaikan dengan Allah, dan sekarang, di
Yerusalem baru, orang percaya, memiliki akses langsung ke hadirat Allah. Tidak
adanya bait suci, menyoroti persekutuan secara langsung, dan tanpa perantara,
antara Allah dan umat-Nya.
Kedua,
itu menunjukkan otoritas tertinggi dan kehadiran Tuhan. Dengan menyatakan,
bahwa Allah dan Anak Domba adalah bait suci, ayat tersebut menekankan peran
sentral kesatuan mereka, di kota surgawi. Mereka adalah titik fokus, kiblat,
sumber terang, arah penyembahan, dan sumber bimbingan, bagi orang-orang yang
telah ditebus oleh Kristus. Tidak adanya bait suci yang khusus, menggarisbawahi
ketergantungan penuh, dan persatuan kita dengan Tuhan.
Selanjutnya,
ayat ini juga mencerminkan pengharapan eskatologis orang percaya. Ini
menggambarkan realitas masa depan, di mana tempat tinggal Tuhan, tidak terbatas
pada struktur fisik, tetapi mencakup semua ciptaan. Itu menunjuk pada waktu,
ketika pemisahan antara yang sakral dan sekuler, yang akan dilenyapkan, dan
kehadiran Tuhan, yang akan menembus setiap aspek dunia, yang telah ditebus oleh
Kristus, anak Domba Allah.
Singkatnya,
Wahyu 21 ayat 22, menandakan hubungan yang intim dan langsung, antara Allah dan
umat-Nya di Yerusalem baru, nanti. Itu menekankan penyelesaian rencana
keselamatan Allah, otoritas tertinggi dan hadirat Allah, dan pengharapan akan
kesatuan dan keberadaan yang kudus.
Apa
Pesan Tuhan Untuk Kita Yang Hidup di Masa Kini?
Wahyu
21 ayat 22, mengingatkan kita akan kesatuan Allah Bapa dan Yesus, sebagai
kiblat utama kita, titik fokus kita dalam hidup sekarang dan nanti. Di dunia
yang penuh gangguan, dan keinginan yang saling bersaing, Tuhan memanggil kita
untuk mencari Dia, di atas segalanya. Pelajaran bagi hidup kita, adalah untuk
memprioritaskan hubungan kita dengan Tuhan dan Yesus, mengakui otoritas dan
kehadiran tertinggi mereka. Mereka ingin menjadi kiblat dan pusat kehidupan
kita, membimbing kita dalam segala hal. Ayat ini mendorong kita untuk hidup
dengan rasa persatuan, menyelaraskan hati, pikiran, dan satunya tindakan kita
dengan tujuan dan arahan ilahi, yang diberikan kepada kita.
Apa
Yang Harus Kita Terapkan, Dalam Kehidupan Kita Sehari-hari?
Di
dunia yang menawarkan gangguan yang tak terhitung jumlahnya, dan titik fokus
yang salah, kita harus dengan sengaja mencari Tuhan dan Yesus sebagai kiblat
kita yang sebenarnya. Marilah kita memprioritaskan dalam meluangkan waktu untuk
berdoa, mempelajari Firman, dan mencari tuntunan Roh Kudus. Dengan
menyelaraskan diri kita dengan kehendak Tuhan, kita dapat mengatasi berbagai gangguan,
dan tetap fokus pada apa yang benar-benar penting.
Kesatuan
Allah Bapa dan Yesus sebagai Kiblat spiritualitas kita, harus menginspirasi
kita untuk memupuk persatuan di antara sesama orang beriman. Marilah kita
menolak godaan perpecahan, kesombongan, dan penghakiman. Sebaliknya, biarlah
cinta kasih, pengampunan, dan pengertian, membimbing interaksi kita,
mencerminkan kesatuan yang kita miliki dalam Kristus, dan menarik orang lain ke
kuasa transformasi kasih Allah.
Sama
seperti fondasi Yerusalem baru yang dihiasi dengan batu-batu berharga, kita
dipanggil untuk memantulkan kemuliaan Allah dan Yesus Kristus dalam hidup kita.
Perkataan, tindakan, dan sikap kita, harus mencerminkan karakter Kristus,
memancarkan kasih, anugerah, dan kebenaran-Nya. Sebagai orang Kristen, kita
harus menjadi saksi hidup akan kesatuan dan keindahan, yang ditemukan dalam
hubungan kita dengan Tuhan dan Yesus.
Doa
Hari Ini...
Tuhan
Yesus,
kami
berterima kasih, atas kesatuan yang kami temukan dalam diri Allah Bapa dan
Yesus Kristus, untuk menjadi Kiblat spiritual kami. Di dunia yang penuh dengan
gangguan dan godaan ini, bantu kami untuk memprioritaskan hubungan kami dengan Tuhan,
di atas segalanya. Bimbing kami untuk mencari kehendak-Mu, dan menyelaraskan
hidup kami dengan keinginan-keinginan-Mu saja. Beri kami kekuatan untuk melawan
perpecahan, dan memupuk persatuan di antara orang percaya. Semoga hidup kami
mencerminkan keindahan kehadiran Kristus, agar bersinar terang di dunia ini,
sebagai saksi akan cinta dan kasih karunia Tuhan.
Kami
pohonkan doa ini dalam nama Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami.
Amin.
Kiranya
Tuhan Menguatkan Kita, dan Kasih Karunia Tuhan Yesus, Menyertai Kita.
Komentar
Posting Komentar