Langsung ke konten utama

Firman Tuhan Mendobrak Batas, Memperbaharui Dan Memperluas Visi. Kisah Para Rasul 11:1-11 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini,

adalah:

 

Firman Tuhan Mendobrak Batas, Memperbaharui Dan Memperluas Visi.

 

Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Kisah Para Rasul 11, ayat 1 sampai ayat 11, yang berbunyi sebagai berikut:

 

 Rasul-rasul dan saudara-saudara di Yudea mendengar, bahwa bangsa-bangsa lain juga menerima firman Allah.

 Ketika Petrus tiba di Yerusalem, orang-orang dari golongan yang bersunat berselisih pendapat dengan dia. 

 Kata mereka: "Engkau telah masuk ke rumah orang-orang yang tidak bersunat dan makan bersama-sama dengan mereka." 

 Tetapi Petrus menjelaskan segala sesuatu berturut-turut, katanya: 

 "Aku sedang berdoa di kota Yope, tiba-tiba rohku diliputi kuasa ilahi dan aku melihat suatu penglihatan: suatu benda berbentuk kain lebar yang bergantung pada keempat sudutnya diturunkan dari langit sampai di depanku. 

 Aku menatapnya dan di dalamnya aku lihat segala jenis binatang berkaki empat dan binatang liar dan binatang menjalar dan burung-burung. 

 Lalu aku mendengar suara berkata kepadaku: Bangunlah, hai Petrus, sembelihlah dan makanlah! 

 Tetapi aku berkata: Tidak, Tuhan, tidak, sebab belum pernah sesuatu yang haram dan yang tidak tahir masuk ke dalam mulutku. 

 Akan tetapi untuk kedua kalinya suara dari sorga berkata kepadaku: Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram!

 Hal itu terjadi sampai tiga kali, lalu semuanya ditarik kembali ke langit. 

 Dan seketika itu juga tiga orang berdiri di depan rumah, di mana kami menumpang; mereka diutus kepadaku dari Kaisarea.

 

Demikian Pembacaan Alkitab. Haleluya.

 

 

Apa Isi Firman Tuhan ini, dan tentang apa.

 

Kisah Para Rasul 11, ayat 1 sampai ayat 11, adalah bagian dari Perjanjian Baru dari Alkitab, khususnya dari kitab Kisah Para Rasul, yang mengisahkan sejarah awal gereja Kristen dan penyebaran Injil. Dalam perikop ini, rasul Petrus menceritakan sebuah peristiwa penting, yang terjadi dalam pelayanannya, dan berdampak signifikan bagi komunitas Kristen mula-mula.

 

Bagian itu dimulai dengan Petrus kembali ke Yerusalem, setelah menghabiskan waktu dengan orang percaya bukan Yahudi di kota Kaisarea. Saat dia tiba, beberapa orang percaya Yahudi, yang disebut sebagai golongan bersunat, menghadapi Petrus, dan mengkritiknya, karena telah memasuki rumah orang yang tidak disunat, dan bahkan duduk makan bersama mereka. Dalam budaya Yahudi, sunat adalah praktik keagamaan yang penting, dan perbedaan tegas, antara orang Yahudi yang bersunat, dan non-Yahudi yang tidak bersunat, sudah mendarah daging.

 

Petrus mulai menjelaskan pengalamannya kepada orang-orang percaya, menceritakan sebuah penglihatan yang dia alami saat berdoa. Dalam penglihatan ini, dia melihat kain besar turun dari surga dengan berbagai binatang di atasnya, baik yang najis maupun haram menurut hukum makanan Yahudi. Sebuah suara menyuruh Petrus untuk menyembelih dan memakannya, tetapi dia menolak, dan menyatakan bahwa dia tidak pernah makan apapun yang najis dan haram. Suara itu menjawab dengan mengatakan, "Apa yang telah dihalalkan oleh Tuhan, jangan disebut haram." Penglihatan ini terjadi tiga kali, dan kemudian lembaran kain itu dibawa kembali ke surga.

 

Tak lama setelah penglihatan ini, utusan dari Kornelius, seorang perwira Romawi dan orang bukan Yahudi, yang takut akan Tuhan, datang dan mengundang Petrus untuk datang ke Kaisarea. Petrus, memahami, adanya campur tangan Tuhan dalam situasi tersebut, memutuskan untuk pergi bersama para utusan. Ketika dia tiba di rumah Cornelius, dia menemukan banyak orang yang sangat ingin mendengar pesannya.

 

Petrus mulai dengan mengakui akan adanya hambatan budaya antara orang Yahudi dan bukan Yahudi, tetapi dia juga menekankan, bahwa Allah telah menunjukkan kepadanya, untuk tidak menyebut siapa pun najis atau kafir. Dia kemudian melanjutkan untuk membagikan Injil dengan Kornelius dan seisi rumahnya, menjelaskan kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus. Saat Petrus berbicara, Roh Kudus turun ke atas semua orang yang mendengarkan, dan mereka mulai berbicara dalam bahasa lidah dan memuji Tuhan. Ini mengejutkan orang percaya Yahudi yang menemani Petrus pada saat itu.

 

Signifikansi perikop ini terletak pada demonstrasi Tuhan, tentang rencana-Nya, untuk memasukkan orang bukan Yahudi ke dalam Kerajaan Allah. Pada saat itu, pesan Yesus diutamakan untuk diberitakan kepada orang Yahudi, dan orang bukan Yahudi dianggap sebagai orang luar. Namun, melalui penglihatan Petrus, dan pencurahan Roh Kudus selanjutnya atas Kornelius dan seisi rumahnya, menjadi jelas bahwa keselamatan Tuhan, tidak terbatas pada kelompok etnis, budaya, Bahasa, atau agama tertentu.

 

Kisah Para Rasul 11, ayat 1 sampai ayat 11 menyoroti tantangan-tantangan awal, yang dihadapi oleh komunitas Kristen mula-mula, dalam mengintegrasikan orang-orang percaya non-Yahudi, ke dalam Kerajaan Allah. Ini menunjukkan transformasi pemahaman dan penerimaan Petrus terhadap bangsa-bangsa bukan Yahudi Sebuah suara menyuruh Petrus untuk menyembelih dan memakannya, tetapi dia menolak, dan menyatakan bahwa dia tidak pernah makan apapun yang najis dan haram. Suara itu menjawab dengan mengatakan, "Apa yang telah dihalalkan oleh Tuhan, jangan disebut haram." Penglihatan ini terjadi tiga kali, dan kemudian lembaran kain itu dibawa kembali ke surga.

 

Tak lama setelah penglihatan ini, utusan dari Kornelius, seorang perwira Romawi dan orang bukan Yahudi, yang takut akan Tuhan, datang dan mengundang Petrus untuk datang ke Kaisarea. Petrus, memahami, adanya campur tangan Tuhan dalam situasi tersebut, memutuskan untuk pergi bersama para utusan. Ketika dia tiba di rumah Cornelius, dia menemukan banyak orang yang sangat ingin mendengar pesannya.

 

Petrus mulai dengan mengakui akan adanya hambatan budaya antara orang Yahudi dan bukan Yahudi, tetapi dia juga menekankan, bahwa Allah telah menunjukkan kepadanya, untuk tidak menyebut siapa pun najis atau kafir. Dia kemudian melanjutkan untuk membagikan Injil dengan Kornelius dan seisi rumahnya, menjelaskan kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus. Saat Petrus berbicara, Roh Kudus turun ke atas semua orang yang mendengarkan, dan mereka mulai berbicara dalam bahasa lidah dan memuji Tuhan. Ini mengejutkan orang percaya Yahudi yang menemani Petrus pada saat itu.

 

Signifikansi perikop ini terletak pada demonstrasi Tuhan, tentang rencana-Nya, untuk memasukkan orang bukan Yahudi ke dalam Kerajaan Allah. Pada saat itu, pesan Yesus diutamakan untuk diberitakan kepada orang Yahudi, dan orang bukan Yahudi dianggap sebagai orang luar. Namun, melalui penglihatan Petrus, dan pencurahan Roh Kudus selanjutnya atas Kornelius dan seisi rumahnya, menjadi jelas bahwa keselamatan Tuhan, tidak terbatas pada kelompok etnis, budaya, Bahasa, atau agama tertentu.

 

Kisah Para Rasul 11, ayat 1 sampai ayat 11 menyoroti tantangan-tantangan awal, yang dihadapi oleh komunitas Kristen mula-mula, dalam mengintegrasikan orang-orang percaya non-Yahudi, ke dalam Kerajaan Allah. Ini menunjukkan transformasi pemahaman dan penerimaan Petrus terhadap bangsa-bangsa bukan Yahudi, sebagai sama-sama penerima kasih karunia Allah. Bagian ini berfungsi sebagai momen penting dalam penyebaran awal Kekristenan, meruntuhkan penghalang antara orang Yahudi dan orang bukan Yahudi, dan menyiapkan panggung untuk masuknya semua bangsa ke dalam Kerajaan Allah.

 

 

, sebagai sama-sama penerima kasih karunia Allah. Bagian ini berfungsi sebagai momen penting dalam penyebaran awal Kekristenan, meruntuhkan penghalang antara orang Yahudi dan orang bukan Yahudi, dan menyiapkan panggung untuk masuknya semua bangsa ke dalam Kerajaan Allah.

 

 

Apa Pesan Tuhan Untuk Kita Yang Hidup di Masa Kini?

 

Pesan dan keinginan Tuhan dalam Kisah Para Rasul 11, ayat 1 sampai ayat 11, beresonansi dengan kita yang hidup di masa sekarang. Perikop ini mengajarkan kita, bahwa Firman Tuhan memiliki kekuatan untuk mendobrak batasan dan penghalang, yang memecah belah dan memisahkan kita. Itu mengingatkan kita, bahwa praduga dan bias budaya kita, dapat menghalangi kita untuk sepenuhnya merangkul tubuh Kristus yang beragam. Sama seperti visi Petrus memperluas pemahamannya, kita dipanggil untuk memiliki visi baru, yang melampaui keterbatasan manusia.

 

 

Apa Yang Harus Kita Terapkan, Dalam Kehidupan Kita Sehari-hari?

 

Sebagai orang Kristen, kita harus menerapkan pelajaran dari Kisah Para Rasul 11, ayat 1 sampai ayat 11 dalam kehidupan kita. Kita perlu secara aktif meruntuhkan tembok prasangka, diskriminasi, dan perpecahan yang ada dalam diri kita dan komunitas kita. Kita harus memiliki niat untuk mencari pengertian, merangkul inklusivitas, dan menunjukkan cinta kasih kepada orang-orang, dari latar belakang yang berbeda. Kita harus melepaskan perspektif kita yang terbatas, dan membiarkan Firman Tuhan memperbaharui dan memperluas visi kita, menyadari bahwa rencana-Nya mencakup semua orang, terlepas dari batasan ras, suku, budaya, dan agama.

 

 

 

Doa Hari Ini...

 

Tuhan Yesus,

 

terima kasih untuk Firman Tuhan hari ini. Tolong kami, untuk mendobrak pembatas, yang memisahkan kami dengan orang-orang yang tidak seiman dengan kami. Beri kami keberanian untuk memeriksa hati kami sendiri, dan mengoreksi prasangka yang berlebihan. Perbarui dan perluas visi kami, agar kami dapat melihat orang lain, sebagaimana Tuhan melihatnya, dan rangkul keragaman bangsa kami, di dalam Kerajaan Tuhan. Berdayakan kami untuk menghidupi kasih Kristus yang inklusif, yang mencerminkan rahmat dan belas kasihan Tuhan, yang selalu tersedia untuk semua orang.

 

Kami pohonkan doa ini dalam nama Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami.

Amin.

 

Kiranya Tuhan Menguatkan Kita, dan Kasih Karunia Tuhan Yesus, Menyertai Kita.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dusta Dan Kompromi, Tidak Mampu Menutupi Kekuatan Kebenaran. Matius 28: 11-15 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Dusta Dan Kompromi, Tidak Mampu Menutupi Kekuatan Kebenaran.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Matius 28, ayat 11 sampai ayat 15, yang berbunyi sebagai berikut:    Ketika mereka di tengah jalan, datanglah beberapa orang dari penjaga itu ke kota dan memberitahukan segala yang terjadi itu kepada imam-imam kepala.   Dan sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu   dan berkata: "Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur.   Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa."   Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Dan ceritera i...

Hidup Bijaksana, Di Dunia Yang Penuh Kebodohan. Efesus 5:15-16 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Hidup Bijaksana, Di Dunia Yang Penuh Kebodohan.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Efesus 5, ayat 15 sampai ayat 16, yang berbunyi sebagai berikut:    Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,   dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.     Demikian Pembacaan Alkitab. Hale luya.     Apa Isi Firman Tuhan ini, dan tentang apa.   Efesus 5, ayat 15 dan ayat 16, adalah bagian dari Alkitab Perjanjian Baru, khususnya dari kitab Efesus. Untuk memahami isi, makna, dan maksudnya, penting untuk mempertimbangkan konteks kitab yang lebih luas dan ayat-ayat spesifiknya.   Kitab Efesus ditulis oleh rasul Paulus, dan berfungsi sebagai surat kepada komunitas Kristen mula-mula di Efesus...

Kasih dan Perhatian Tuhan, Tercermin Dalam Keagungan Ciptaan-Nya. Kejadian 1: 14-19 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Kasih dan Perhatian Tuhan, Tercermin Dalam Keagungan Ciptaan-Nya.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Kejadian 1, ayat 14 sampai ayat 19, yang berbunyi sebagai berikut:      Berfirmanlah Allah: "Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun,  dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi." Dan jadilah demikian.   Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang.  Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi,   dan untuk menguasai siang dan malam, dan untu...