Langsung ke konten utama

Yerusalem Baru, Simbol Keragaman dan Landasan Apostolik Gereja Tuhan. Wahyu 21:19-20 | SBU GPIB Sangkakala

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini,

adalah:

 

Yerusalem Baru, Simbol Keragaman dan Landasan Apostolik Gereja Tuhan.

 

Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Wahyu 21, ayat 19 sampai ayat 20, yang berbunyi sebagai berikut:

 

 Dan dasar-dasar tembok kota itu dihiasi dengan segala jenis permata. Dasar yang pertama batu yaspis, dasar yang kedua batu nilam, dasar yang ketiga batu mirah, dasar yang keempat batu zamrud, 

 dasar yang kelima batu unam, dasar yang keenam batu sardis, dasar yang ketujuh batu ratna cempaka, yang kedelapan batu beril, yang kesembilan batu krisolit, yang kesepuluh batu krisopras, yang kesebelas batu lazuardi dan yang kedua belas batu kecubung.

 

Demikian Pembacaan Alkitab. Haleluya.

 

 

Apa Isi Firman Tuhan ini, dan tentang apa.

 

Wahyu 21, ayat 19 dan ayat 20, adalah bagian dari kitab Wahyu dalam Alkitab Perjanjian Baru. Di bagian ini, rasul Yohanes, penulis kitab Wahyu, menggambarkan Yerusalem Baru, sebuah kota surgawi yang melambangkan penggenapan akhir dari rencana Allah, bagi umat manusia. Ayat-ayat tersebut secara khusus merinci fondasi tembok kota, yang dihiasi dengan batu-batu berharga, dan bertuliskan nama kedua belas rasul.

 

Bagian itu menyebutkan dua belas jenis batu berharga, masing-masing mewakili salah satu rasul. Batu-batu yang terdaftar adalah batu yaspis, batu safir, batu mirah, batu zamrud, batu unam, batu sardis, batu cempaka, batu beril, batu krisolit, batu krisopras, batu lazuardi, dan batu kecubung. Batu-batu ini sangat dihargai di dunia kuno, dan dikaitkan dengan keindahan, kelangkaan, dan bermakna spiritual.

 

Maksud di balik deskripsi ini adalah, untuk menyampaikan keagungan dan kemuliaan Yerusalem Baru. Penggunaan batu mulia, menunjukkan kemegahan dan keagungan kota, mencerminkan kesempurnaan dan kemurnian tempat tinggal Tuhan. Fakta bahwa nama para rasul tertulis di atas fondasi, menandakan peran integral mereka dalam pendirian dan pertumbuhan Gereja Kristen mula-mula.

 

Selain itu, kedua belas rasul melambangkan kesatuan dan kepemimpinan Gereja. Dengan menyebutkan nama mereka dan mengaitkannya dengan batu mulia, perikop ini menekankan pentingnya ajaran, otoritas, dan warisan spiritual para rasul.

 

Secara keseluruhan, Wahyu 21, ayat 19 dan ayat 20, menggambaran Yerusalem Baru, dengan menggunakan simbolisme yang kaya, untuk menyampaikan keagungan dan pentingnya rencana ilahi Allah dalam sejarah penebusan umat manusia, dan peran dasar yang dimainkan oleh para rasul Kristus, dalam pendirian Kerajaan Allah, baik di dunia sekarang, mau pun yang akan datang.

 

 

Apa Pesan Tuhan Untuk Kita Yang Hidup di Masa Kini?

 

Wahyu 21, ayat 19 dan ayat 20, dengan jelas menggambarkan fondasi Yerusalem Baru, yang dihiasi dengan dua belas batu berharga, masing-masing melambangkan seorang rasul. Perikop ini membawa pesan dan keinginan Tuhan yang kuat, yang memiliki relevansi dengan kehidupan kita saat ini.

 

Kerinduan Allah akan keragaman di dalam Gereja-Nya, terlihat jelas dalam perikop ini. Keanekaragaman batu berharga, menandakan keindahan dan nilai dari latar belakang, budaya, dan karunia yang berbeda-beda, di antara orang percaya. Itu mengajarkan kita, bahwa Kerajaan Allah tidak terbatas pada satu kelompok yang homogen, tetapi merangkul dan merayakan keberagaman. Kita dipanggil untuk menumbuhkan komunitas yang inklusif dan ramah, di mana setiap individu, terlepas dari perbedaan mereka, menemukan penerimaan dan rasa memiliki.

 

Perikop ini juga menyoroti landasan apostolik Gereja Allah. Nama-nama para rasul yang tertulis di atas fondasi kota Allah ini, menandakan peran integral para rasul dalam mendirikan Gereja Tuhan. Sebagai orang Kristen, kita harus menyadari pentingnya ajaran, teladan, dan otoritas para rasul ini. Kita dipanggil untuk menghormati warisan mereka, dengan mempelajari dan menerapkan tulisan mereka, sebagai saksi ketuhanan Yesus Kristus, serta mengakui kepemimpinan mereka, dan menjaga persatuan yang mereka promosikan dan perjuangkan.

 

 

Apa Yang Harus Kita Terapkan, Dalam Kehidupan Kita Sehari-hari?

 

Sehubungan dengan perikop ini, kita harus berusaha untuk menciptakan lingkungan, yang mendukung keragaman, inklusivitas, dan persatuan di dalam Gereja. Kita harus secara aktif, berupaya memahami, dan menghargai latar belakang, perspektif, dan karunia rekan seiman kita. Dengan memupuk suasana cinta, rasa hormat, dan persatuan, kita menjadi kesaksian hidup, tentang kekuatan Injil yang mengubahkan.

 

Sebagai orang Kristen, kita juga harus berkomitmen, untuk mempelajari dan menerapkan ajaran kerasulan. Ini mengharuskan kita untuk terlibat dalam penela ahan Kitab Suci, mengakui otoritas tulisan para rasul, dan membiarkan hikmat mereka, membimbing hidup kita. Dengan mendasarkan diri kita pada landasan kerasulan, kita diperlengkapi, untuk menghadapi tantangan, bertumbuh dalam iman, dan secara efektif, mewakili Kristus di dunia.

 

 

Doa Hari Ini...

 

Tuhan Yesus,

kami berterima kasih atas Yerusalem Baru, yang fondasinya merupakan simbol keanekaragaman dan dasar apostolik kami. Bantu kami merangkul keindahan keragaman di dalam Gereja kami, dan memupuk komunitas inklusif, di mana semua orang dihargai dan dicintai. Berilah kami hikmat dan kearifan, untuk dengan setia mempelajari dan menerapkan ajaran para rasul Kristus. Semoga hidup kami mencerminkan kesatuan, dan memuliakan nama-Mu.

 

Kami pohonkan doa ini dalam nama Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami.

Amin.

 

Kiranya Tuhan Menguatkan Kita, dan Kasih Karunia Tuhan Yesus, Menyertai Kita.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dusta Dan Kompromi, Tidak Mampu Menutupi Kekuatan Kebenaran. Matius 28: 11-15 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Dusta Dan Kompromi, Tidak Mampu Menutupi Kekuatan Kebenaran.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Matius 28, ayat 11 sampai ayat 15, yang berbunyi sebagai berikut:    Ketika mereka di tengah jalan, datanglah beberapa orang dari penjaga itu ke kota dan memberitahukan segala yang terjadi itu kepada imam-imam kepala.   Dan sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu   dan berkata: "Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur.   Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa."   Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Dan ceritera i...

Hidup Bijaksana, Di Dunia Yang Penuh Kebodohan. Efesus 5:15-16 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Hidup Bijaksana, Di Dunia Yang Penuh Kebodohan.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Efesus 5, ayat 15 sampai ayat 16, yang berbunyi sebagai berikut:    Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,   dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.     Demikian Pembacaan Alkitab. Hale luya.     Apa Isi Firman Tuhan ini, dan tentang apa.   Efesus 5, ayat 15 dan ayat 16, adalah bagian dari Alkitab Perjanjian Baru, khususnya dari kitab Efesus. Untuk memahami isi, makna, dan maksudnya, penting untuk mempertimbangkan konteks kitab yang lebih luas dan ayat-ayat spesifiknya.   Kitab Efesus ditulis oleh rasul Paulus, dan berfungsi sebagai surat kepada komunitas Kristen mula-mula di Efesus...

Kasih dan Perhatian Tuhan, Tercermin Dalam Keagungan Ciptaan-Nya. Kejadian 1: 14-19 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Kasih dan Perhatian Tuhan, Tercermin Dalam Keagungan Ciptaan-Nya.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Kejadian 1, ayat 14 sampai ayat 19, yang berbunyi sebagai berikut:      Berfirmanlah Allah: "Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun,  dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi." Dan jadilah demikian.   Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang.  Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi,   dan untuk menguasai siang dan malam, dan untu...