Langsung ke konten utama

Bisakah Kita Mengasihi Seperti Yesus, Yang Kasih-Nya Radikal. Lukas 7:39-43 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini,

adalah:

 

Bisakah Kita Mengasihi Seperti Yesus, Yang Kasih-Nya Radikal.

 

Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Lukas 7, ayat 39 sampai dengan ayat 43, yang berbunyi sebagai berikut:

 

 Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: "Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa."  Lalu Yesus berkata kepadanya: "Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu." Sahut Simon: "Katakanlah, Guru."  "Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh.  Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?"  Jawab Simon: "Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya." Kata Yesus kepadanya: "Betul pendapatmu itu."

 

Demikian Pembacaan Alkitab. Hale luya.

 

Saudaraku yang terkasih di dalam Kristus Yesus. Hari ini, kita merenungkan salah satu pelajaran berharga, yang diajarkan oleh Yesus, yang terdapat dalam Lukas 7, ayat 39 sampai 43.

 

Perikop ini mengungkap perjumpaan yang mendalam, antara Yesus dan Simon orang Farisi, menyoroti tema penghakiman, pengampunan, dan cinta kasih yang radikal.

Mari kita selami narasi ini untuk memahami konteksnya, dan mengumpulkan kebijaksanaan abadi untuk kehidupan kita hari ini.

Dalam perjumpaan ini, Simon mengundang Yesus ke rumahnya untuk makan, dan sementara mereka sedang bercakap-cakap, seorang tamu tak terduga datang, yaitu seorang wanita, yang dikenal sebagai seorang pendosa.

Perempuan itu mendekati Yesus dengan buli-buli pualam berisi minyak wangi, dan sambil menangis, mulai membasuh kaki Yesus dengan air matanya, dan mengeringkannya dengan rambutnya. Simon, diam-diam menilai dalam hatinya, mempertanyakan keaslian kenabian Yesus, yang tidak menjaga reputasinya sebagai orang suci, dengan membiarkan wanita pendosa itu, mencuci kaki Yesus dengan air matanya.

Tuhan Yesus, yang bisa membaca isi hati Simon, dan menanggapinya dengan menceritakan sebuah perumpamaan yang maknanya mendalam, yaitu tentang dua orang yang memiliki utang, dan tidak mampu melunasinya. Yang satu berutang dalam jumlah yang besar, dan yang lain berutang dalam jumlah yang lebih kecil. Karena belas kasihannya, kreditur mereka menghapuskan kedua hutang itu. Berdasarkan perumpamaan itu, Yesus bertanya kepada Simon, yaitu si tuan rumah, yang merasa sebagai seorang yang sangat saleh, debitur mana yang akan lebih berterima kasih kepada si kreditur, apakah debitur yang hutangnya besar atau yang kecil. Simon, memahami tanggapan logisnya, mengakui bahwa orang yang berutang lebih besarlah, yang akan menunjukkan rasa terima kasih yang lebih besar.

 

Dengan menggambarkan kedalaman makna pengampunan, maka dengan perumpamaan itu, Yesus membandingkan pelayanan berdasarkan rasa terima kasih yang ditunjukkan wanita itu, yang jauh lebih murni dibandingkan pelayanan Simon, yang tidak menyambut Yesus dengan mencuci kaki-Nya, karena tidak sebesar kasih, yang ditunjukkan perempuan pendosa itu.

Saat kita menjelajahi narasi ini hari ini, semoga kita membuka mata hati kita, untuk melihat kebenaran mendalam yang terkandung di dalam Firman Tuhan ini, dan belajar merangkul kekuatan transformatif, dari belas kasihan Kristus yang tak terbatas.

 

 

Apa Pesan Tuhan Untuk Kita Yang Hidup di Masa Kini?

 

Dalam konteks kita yang hidup di masa kini, di mana perpecahan dan kebiasaan untuk menghakimi orang lain, tampak sangat mewarnai kehidupan masyarakat kita, kita perlu mengingat, bahwa kasih Yesus itu bersifat radikal, transformatif, dan mencakup segalanya. Sebagai umat Kristiani, kita terpanggil untuk meneladani kasih-Nya, melepaskan diri dari sikap yang suka menghakimi orang lain, dan belajar untuk memiliki kasih yang radikal, yang tidak mengenal batas derajat kesalehan seseorang.

 

Di dunia yang penuh dengan kemunafikan dan dosa, keinginan Tuhan adalah, agar kita mengalami kasih-Nya yang radikal, dan meneruskannya kepada orang lain. Terlepas dari kekurangan kita, Tuhan mengasihi kita tanpa syarat, dan menawarkan pengampunan dan penebusan. Realitas kita saat ini, menuntut kita untuk mengenali kedalaman kasih Allah, menghargai sejauh mana keinginan Allah untuk mendamaikan kita dengan diri-Nya sendiri, melalui kematian dan kebangkitan Yesus Kristus.

 

Sebagai pengikut Kristus, kita harus menolak godaan untuk menghakimi orang lain berdasarkan kesalahan masa lalu, atau label sosial mereka. Tanggapan Yesus terhadap Simon orang Farisi, menantang kita untuk menyampaikan belas kasihan dan kasih karunia, bahkan kepada masyarakat yang dianggap tidak layak untuk dikasihi.

Wanita dengan botol minyak wanginya mengajarkan kita, bahwa kasih itu tidak mengenal derajat, kasta atau pangkat. Kita dipanggil untuk mengasihi dengan luar biasa, melampaui norma dan harapan masyarakat. Marilah kita menunjukkan kasih dalam tindakan, perkataan, dan sikap kita, mengikuti teladan Yesus, yang kasih-Nya sangat radikal itu.

 

 

Apa Yang Harus Kita Terapkan, Dalam Kehidupan Kita Sehari-hari?

 

Kita harus mengasihi orang-orang yang terpinggirkan, dan yang tidak layak untuk dicintai. Dalam dunia yang seringkali meminggirkan, dan menolak individu atau kelompok tertentu, kita dipanggil untuk dengan kasih Yesus yang radikal, mengasihi mereka yang kekurangan kasih sayang. Jangkaulah mereka yang hancur, terbuang, dan terluka. Tawarkan kepada mereka harapan, penerimaan, dan kekuatan transformatif dari kasih Kristus.

 

Sama seperti Yesus mengampuni wanita itu, kita dipanggil untuk memberikan pengampunan kepada mereka yang telah berbuat salah kepada kita. Lepaskan kepahitan, kebencian, dan penghakiman, dan sebagai gantinya, kita memilih untuk mengampuni dan mendamaikan, seperti yang Yesus lakukan untuk kita di kayu salib.

 

Marilah kita berdoa, agar pesan ini menyentuh jiwa kita dan memotivasi kita, untuk menyampaikan kasih dan rahmat kepada orang lain, seperti yang dicontohkan Yesus dalam perjumpaan yang penuh kuasa ini.

 

 

Sebagai Penutup Mari Kita Berdoa...

 

Tuhan Yesus,

kami berterima kasih kepada-Muu, atas kasih radikal yang Tuhan tunjukkan dalam perjumpaan dengan perempuan pendosa itu. Tolong kami, untuk belajar dari teladan dan kasih-Muu, untuk mengasihi siapa pun, tanpa pandang bulu. Berilah kami keberanian untuk membebaskan diri dari penilaian kami sepihak, merangkul orang-orang yang tidak layak dikasihi, dan mengampuni orang lain, sebagaimana Engkau telah mengampuni kami. Semoga kasih-Muu yang radikal, mengalir melalui kami, mengubah hidup orang-orang yang kami kasihi, dan memuliakan nama-Muu.

 

Kami pohonkan doa ini dalam nama Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami.

Amin.

 

Kiranya Tuhan Menguatkan Kita, dan Kasih Karunia Tuhan Yesus, Menyertai Kita.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dusta Dan Kompromi, Tidak Mampu Menutupi Kekuatan Kebenaran. Matius 28: 11-15 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Dusta Dan Kompromi, Tidak Mampu Menutupi Kekuatan Kebenaran.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Matius 28, ayat 11 sampai ayat 15, yang berbunyi sebagai berikut:    Ketika mereka di tengah jalan, datanglah beberapa orang dari penjaga itu ke kota dan memberitahukan segala yang terjadi itu kepada imam-imam kepala.   Dan sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu   dan berkata: "Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur.   Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa."   Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Dan ceritera i...

Hidup Bijaksana, Di Dunia Yang Penuh Kebodohan. Efesus 5:15-16 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Hidup Bijaksana, Di Dunia Yang Penuh Kebodohan.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Efesus 5, ayat 15 sampai ayat 16, yang berbunyi sebagai berikut:    Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,   dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.     Demikian Pembacaan Alkitab. Hale luya.     Apa Isi Firman Tuhan ini, dan tentang apa.   Efesus 5, ayat 15 dan ayat 16, adalah bagian dari Alkitab Perjanjian Baru, khususnya dari kitab Efesus. Untuk memahami isi, makna, dan maksudnya, penting untuk mempertimbangkan konteks kitab yang lebih luas dan ayat-ayat spesifiknya.   Kitab Efesus ditulis oleh rasul Paulus, dan berfungsi sebagai surat kepada komunitas Kristen mula-mula di Efesus...

Kasih dan Perhatian Tuhan, Tercermin Dalam Keagungan Ciptaan-Nya. Kejadian 1: 14-19 | SBU GPIB Sangkakala.

Tema Renungan Firman Tuhan untuk renungan hari ini, adalah:   Kasih dan Perhatian Tuhan, Tercermin Dalam Keagungan Ciptaan-Nya.   Ayat Alkitab, yang kita baca sesuai bacaan Sabda Bina Umat G P I B hari ini, adalah dari Kejadian 1, ayat 14 sampai ayat 19, yang berbunyi sebagai berikut:      Berfirmanlah Allah: "Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun,  dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi." Dan jadilah demikian.   Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang.  Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi,   dan untuk menguasai siang dan malam, dan untu...